Penumpang Ojek Online

Sebagai driver ojek online, Herman sudah banyak bertemu dengan berbagai macam tipe penumpang. Ada yang suka bercerita dan juga bertanya, ada juga yang lebih suka diam dan hanya bilang ” terima kasih ” saat sudah sampai tujuan. Lokasi pengantaran ojek pun bermacam-macam, dari mall, tempat ibadah, sampai tempat buang hajat pun pernah ia antar.

Selama ini Herman sudah sering mendengar cerita dengan sesama ojek online. Ada suka ada juga duka, ada lucu, dan beberapa dari mereka ada juga yang mengalami kejadian horor, sudah Herman lahap sampai kenyang. Ada yang bercerita mendapat antar makanan. Eh, setelah sampai ternyata hanya rumah kosong. Yang lain bercerita kalo ia mendapat pesanan kain putih dua meter, kayu, dan spidol pada malam hari, ternyata setelah datang di tempat tujuan ternyata adalah kuburan. Horor kan, tapi bagi Herman, bisa saja itu ulah orang iseng, iya kan.

Karena itu Herman tak pernah takut kalo dapat orderan, mimpi saja tidak.

Malam itu pukul 7, jalanan Jakarta masih padat. Sebuah pesanan ojek online masuk ke hapenya, minta di jemput di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Daerah mall itu tentu saja rame karena merupakan salah satu mall terbesar di ibukota.

Segera saja dia menuju tempat yang dituju. Sang pemesan bernama Ningsih sudah menunggu di pinggir jalan raya, karena kalo di tengah jalan, ia pasti tertabrak kan.

“Mbak Ningsih ya, yang pesan ojek tadi?” Tanyanya ingin memastikan. Ningsih hanya mengangguk saja.

Sebagai driver aku ingin penumpang ku nyaman, karena itu aku tak berani melihat wajahnya lama-lama. Ningsih berkulit putih, wajahnya menurut Herman mungkin cantik, terawang nya karena sebagian wajah tertutup oleh rambutnya yang panjang sebahu, mana saat itu sudah malam, walaupun di dekat mall tapi lampu jalan malah mati, mungkin pengelolanya lupa mengecek.

Motor Herman adalah motor Honda beat tapi keluaran pertama, sehingga sudah agak kusam dimakan usia. Ia takut kalo mbak Ningsih tak nyaman, maka ia tanya langsung dia.” Maaf mbak, apa mbak mau naik motor seperti ini?”

Ningsih hanya mengangguk, setelah itu ia naik.

Melihat penumpang nya tak banyak bicara maka Herman pun segan. Sebelum menarik gas, ia sekali lagi bertanya.” Lokasi tujuan nya sudah sesuai yang di aplikasi kan mbak?” Dilihatnya dari kaca spion dia mengangguk. Herman pun segera memacu motornya.

Mereka segera berjalan menembus macetnya jalan ibukota. Setelah setengah jam, mereka sudah sampai di suatu kampung di pinggiran ibukota. Herman yang baru pertama kali tak menyangka, kalo tempat yang ia tuju ternyata masih sepi, ia pikir semua harus ramai kalo di Jakarta, hanya tampak dua tiga orang saja yang lalu lalang.

Berdasarkan alamat yang ditunjukkan di hape, rumah tujuannya hanya berjarak tiga km lagi. Ningsih masih diam saja di jok belakang, sehingga Herman pun agak segan untuk bertanya, malu kan, kalo driver online tapi masih tanya.

Setelah melewati beberapa kampung dan kebun yang gelap, akhirnya sampai juga Herman di tempat tujuan. Sebuah kampung yang sepi. Rumah yang ada di hadapannya bercat hijau muda dengan halaman yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga yang rimbun, sayangnya tak ada lampu yang menyala, menjadikan rumah itu seperti angker. Herman yang sebenarnya tak percaya hantu agak ciut juga nyalinya, apalagi rumah itu agak jauh dari rumah sebelahnya.

“Mbak, apa disini rumahnya?” Tanya Herman.

Tak ada jawaban, Herman pun terpaksa bertanya lagi, sayangnya seperti pertanyaan pertama, penumpang dibelakang nya tak menyahut juga. Herman pun dongkol dan terpaksa menengok ke belakang dan betapa terkejutnya ketika sang penumpang telah raib.

“Mbak, mbak Ningsih, kau dimana?” Teriaknya. Suaranya menggema tapi tetap tak ada yang menyahut.

Celaka, pikirnya. Sebagai driver online, ia khawatir kalo ada apa-apa dengan penumpangnya, maka ia sekali lagi berteriak. Syukurlah, kali ini ada yang menjawab, tapi sayangnya bukan Ningsih tapi seorang laki-laki berumur sebaya Herman.

” Ada apa bang, kok teriak-teriak?” Tanyanya.

“Maaf kang, aku tadi mengantar penumpang kesini, tapi sampai kesini, ia tiba-tiba menghilang.” Jelasnya.

“Wah, kau pasti dikerjai hantunya Ningsih. Rumah itu sudah kosong sejak dua tahun lalu.”

“Hantu!!” Herman terperanjat.

” Iya, seminggu yang lalu juga ada tukang ojek yang kesasar kesini. Sama seperti Abang, ia juga membawa Ningsih, penghuni rumah itu.” Ia bernafas sebentar lantas melanjutkan.” Dua tahun lalu, Ningsih bersama teman-temannya pergi ke mall di kota. Nahas baginya, saat hendak menyeberang jalan, sebuah motor yang dikemudikan oleh pemuda mabuk menabraknya. Ia tewas di tempat saat itu juga.”

Menggigil sekujur tubuh Herman. Segera saja ia pamit dan kabur dari tempat itu juga, walau dalam hati ia mengumpat juga karena hantu Ningsih belum sempat bayar.

TAMAT

Cikande, 08 Januari 2019

Tambahan:

setelah Herman pergi, seorang wanita datang dari sebuah pohon sambil membawa sepatunya.

“Ia sudah pergi kang Satria?”

“Sudah dong, ayo kita masuk. Tapi aku nyalakan lampu dulu ya.” Jawab Satria.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s