Cerita Cinta Herman

Herman sedang bermain Facebook ketika sebuah pesan WhatsApp datang. Sebuah nama tampak di layar hpnya, Melati, membuat ia tersentak.

Kenapa ia mengirim pesan padaku, batin Herman. Ingatannya melayang ke peristiwa yang terjadi sejak tujuh tahun silam.

*.* *

Saat itu Herman sedang melakukan tugas ekstra kurikuler sekolah menengah atas. Untuk tugasnya itu ia pun pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Saat itu hari sudah sore, karena terburu-buru ia tak sengaja menabrak seseorang sehingga buku yang ia bawa jatuh.

“Maaf, aku tak sengaja.” Seru Herman sambil memunguti bukunya yang jatuh.

Gadis berbaju abu-abu berkulit putih itu sebenarnya hendak marah, cuma melihat Herman sudah meminta maaf dan ia juga sedang buru-buru maka ia telan omelan yang hendak keluar. Sambil menerima buku dari tangan Herman ia berkata.

“tak apa-apa” sahutnya dengan muka datar. Ia pun bergegas ke penjaga perpustakaan dan keluar. Herman juga pun hendak keluar ketika dilihatnya sebuah kartu pelajar terjatuh dilantai. Segera ia pungut dan ternyata milik gadis tersebut.

Melati, ternyata itu namanya, batinnya sambil tersenyum. Melati murid kelas X. Segera disimpannya lantas ia pun pulang.

Keesokan harinya ia datang ke kantin sekolah. Dilihatnya melati sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.

“Hai.”

“Oh Herman, mau apa nih kesini.” Bella, teman sekelas Herman malah yang menyahut.

“Ini milikmu bukan?” Jawabnya sambil menyodorkan kartu pelajar ke arah melati. Ia terkejut, tapi diterima dengan mulut tersenyum.

“Melati.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

“Herman.” Sambutnya sambil tersenyum.

“Ciee, kayaknya mau jadian.” Beberapa suara langsung terdengar. Herman buru-buru melepaskan tangan lantas kembali ke dalam kelas.

Ternyata memang itu awal hubungan Herman dan melati. Herman memang sudah naksir melati sejak pertama bertemu. Mereka pun lantas memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Walaupun begitu Herman tidak pernah mampir ke rumah orangtua Melati. Nanti saja, orang tuaku marah kalo tahu aku pacaran, begitu alasan Melati. Herman pun hanya mengangguk saja, walau ia dengar dari sahabatnya,Satria, bahwa orang tua Melati merupakan salah satu pengusaha sukses di Jakarta walaupun mereka berasal dari Jawa Tengah.

Sayangnya kedekatan mereka hanya setahun saja. Setelah lulus mereka terpaksa berpisah. Herman tetap melanjutkan kuliah di ibukota sedangkan Melati terpaksa pindah ke Jogjakarta karena jurusan kuliah yang ia tempuh hanya ada disana.

Walaupun begitu, Herman dan Melati berkomitmen untuk menjaga hubungan. Bulan-bulan pertama mereka lalui bersama dengan baik. Kadang Melati mampir ke Herman sekalian menjenguk orang tuanya, begitu juga Herman kadang ke kota Jogja walaupun ia harus menempuh perjalanan 10 jam. Ah, jangan kan cuma ke Jogjakarta, lautan api pun akan Herman sebrangi demi cinta.

Sayangnya mulai satu tahun hubungan mereka goyah. Herman pun tak bisa leluasa ke kota pelajar karena keterbatasan biaya. Maklum, kedua orangtuanya hanyalah pegawai biasa dan ia sendiri hanya fokus pada kuliah. Sedangkan Melati makin sibuk dengan kuliahnya yang memang membutuhkan fokus penuh. Jarang bertemu tentu saja mengganggu hubungan mereka walaupun mereka sering chatting tapi tidak dapat menghasilkan perasaan yang sama saat bertemu langsung.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari pacar di kota masing-masing yang sifatnya sementara. Istilahnya, “kamu boleh pacaran sama siapa saja, tapi ntar nikahnya sama gue”. Herman pun akhirnya pacaran dengan wanita teman kuliahnya yaitu Eny, sedangkan Melati menjalin hubungan dengan Nana, teman satu kampusnya.

Selepas lulus kuliah, Melati menyusul ke Ibukota untuk melanjutkan master di kampus yang sama dengan Herman. Saat itu Herman belum sarjana. Dengan kembalinya Melati ke Jakarta, maka Herman pun memutuskan hubungan dengan Eny. Aku ingin fokus kuliah, begitu alasan Herman.

Singkat cerita, akhirnya mereka pun lulus dari kampus terbaik se-Indonesia, Herman sarjana dan Melati masternya. Agak njomplang memang. Namun bukankah cinta memang tak mengenal gelar.

Selesai kuliah maka Herman pun berusaha mencari pekerjaan. Sayangnya sudah banyak perusahaan yang didatangi tapi belum membuahkan hasil. Ternyata gelar sarjana bukan jaminan akan mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi di ibukota yang memang kejam.

“Jangan putus asa bang herman, nanti juga dapat kok.” Begitu kata Melati ketika mereka bertemu di suatu kafe. Berbeda dengan Herman, Melati sudah sibuk dengan pekerjaan nya di sebuah kampus sebagai pengajar. Perkataan Melati agak mendinginkan hatinya.

“Biar aku yang bayar bang.” Melati mencegah. Herman hanya mati kutu, dirinya memang tidak mempunyai banyak duit. Mereka pun pergi naik motor ke pantai Ancol.

“Abang tak usah galau begitu. Sekarang biar aku yang traktir Abang. Nanti kalo sudah menikah, udah kewajiban Abang untuk traktir aku.”

“Abang janji, Abang akan bahagiakan kamu melati.” Jawab Herman sambil tersenyum. Diraihnya tangan melati lantas diciumnya. Matahari ikut tersenyum melihat dua insan di tepi pantai itu.

Tak terasa, sudah enam tahun mereka menjalin hubungan sejak SMA. Hingga suatu saat ia pulang ke Jawa tengah bersama orang tuanya dan baru kembali sebulan kemudian. Ia menghampiri Herman dengan mata sembab dan air mata berlinang.

Rupanya, dia dijodohkan dengan Wawan, lelaki pilihan orangtuanya bahkan tanggalnya pun sudah ditentukan. Enam bulan lagi pernikahan itu akan digelar. Mendengar itu, rasanya jiwa Herman hancur seketika.

Komitmen bahwa “kamu boleh pacaran dengan siapa saja tapi menikahnya harus denganku” terus terngiang di batinnya. Akhirnya dengan ijin orang tuanya maka Herman pun pergi ke Jawa tengah untuk melamar Melati.

Setelah menempuh perjalanan setengah hari sampailah Herman di tempat tujuan. Hati Herman agak menciut ketika ia tiba di rumah orang tua Melati. Sebuah rumah yang megah, bahkan lebih megah dari beberapa rumah orang kaya di ibukota.

Namun sayangnya kepercayaan diri dan harapan Herman sirna, seperti kabut di pagi hari yang terkena sinar matahari.” Kamu cuma sarjana Herman, apa kamu bisa membahagiakan anak saya.” Begitu jawaban ibunya.

Herman tidak dapat berkata apa-apa. Ia pun balik lagi ke Jakarta dengan dada dibuncah amarah dan juga batinnya menangis, bedebah…

Herman tetap berhubungan baik dengan melati. Pernah ia perpikiran untuk mengajak melati kawin lari, tapi apakah ia bisa, padahal ia tidak mempunyai uang. Melati pun akan kehilangan pekerjaan, belum lagi ia harus mengurus kedua adiknya karena kedua orangtuanya sudah berusia lanjut. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia sering bertemu dengan melati dan pergi berduaan. Pokoknya sebelumnya sah, melati adalah milikku.

Sayangnya hubungan itu diketahui oleh Heny, kakak melati. Ia tentu saja mencaci maki saya sebagai orang tidak tahu diri. Malamnya hp Herman berbunyi dan ternyata ibunya tidak kalah marah dan menuduh saya sengaja merusak hubungan melati dengan calon suaminya.

Sejak itu melati pun dikirim pulang ke kampung halamannya. Herman hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Hingga suatu hari ia datang dengan wajah sendu. Ia datang hanya untuk mengabarkan bahwa tiga hari lagi ia akan menikah dan ia mengirim kartu undangan pernikahan. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.

Setelah melati pergi maka Herman segera menyobek-nyobek surat tersebut. Hatinya hancur lebur dan ia pun menangis sejadi-jadinya. Ingin ia bunuh diri tapi beruntung kedua orangtuanya dan juga adik-adiknya bisa mengendalikan diri nya.

Tiga hari setelah ia menikah tidak disangka ia menelponku. Ia kembali minta maaf dan berpesan.” Jangan berisik ya bang, nanti mas Wawan bangun dan aku bisa kena marah.” Herman hanya mengangguk, ia kini sudah pasrah.


Hp android nya Herman kembali berbunyi. Dilihatnya ternyata Melati yang menelponnya. Ada apakah ia menelpon setelah satu tahun tak ada kabar. Sebenarnya Herman sudah mulai melupakannya dan ia kini juga sedang menjalin hubungan serius dengan Eny, pacar sementara waktu kuliah dulu. Eny juga sudah tahu masa lalu Herman dan ia tetap menerima. Setiap orang punya masa lalu masing-masing, begitu kata Eny bijak.

“Halo.”

“Bang Herman, gimana kabarnya bang?” Sebuah suara masuk ke telinga nya, sebuah suara yang terus terang masih dirindukan oleh Herman.

“Baik. Gimana kabarmu Melati.”

“Aku juga baik bang.” Jawabnya dengan suara yang agak getir. Akhirnya Melati pun berterus terang kalo kini ia sudah menjanda. Ternyata Wawan selingkuh dan melati yang memang tidak menyukai Wawan langsung mengajukan gugatan cerai.

“Jadi kamu sekarang sudah janda?” Tanya Herman ingin tahu.

“Betul bang, orang tuaku kini pasrah dan mereka juga meminta maaf karena salah memilih jodoh untukku. Mereka kini ikhlas jika aku kawin dengan bang Herman. Aku juga sudah mempunyai satu anak.” Jawabnya.

Agak dingin tengkuk Herman mendengar perkataan terakhir Melati. Setelah berbasa-basi akhirnya Herman menutup telepon.

Herman tambah kusut pikiran. Jika ia menikah dengan Melati, maka kedua orangtuanya pasti tidak setuju mengingat dulu kakaknya melati pernah datang ke rumah dan marah kepadanya mereka berdua, lagi pula bagaimana dengan Eny, sosok wanita yang sudah berhasil menyembuhkan luka hatinya. Haruskah ia memilih melati, cinta pertama nya dengan mencantumkan Eny ataukah ia memilih Eny yang pengertian?

Tamat

Cikande, 21 November 2018

8 tanggapan untuk “Cerita Cinta Herman”

  1. Kira2 kalau ditanya jujur Herman pilih Eny atau bambang…Eehh salah Melati maksud gw…πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Ngomong2 Ningsih siapa kang….Hampir seminggu sibuk nih jadi nggak fokus sama gosip2 dumay…

    Apa perlu gw buat cerita lanjutan Herman & Ningsih πŸ˜‚πŸ˜‚πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s