Pelakor

“Pelakor adalah jalan hidup yang aku pilih secara sadar.”

Perkenalkan, namaku juwarti, orang biasa memanggilku juwa. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang kini sedang rame diributkan sebagai pelakor. Aku menulis ini bukannya aku sedang membela diri atau sedang cari perhatian, tapi aku merasa dipojokkan oleh media dan banyak orang beberapa bulan terakhir. Banyak orang yang menyebut profesiku sebagai pekerjaan nista, sebuah jalan hidup yang hina penuh maksiat terutama oleh golongan tertentu.

Berita-berita tentangku kini menghiasi banyak media. “Pelakor buat ibu-ibu khawatir tentang tumbuh kembang anaknya!”, “Ini dia wajah Pelakor yang menggegerkan itu!”, “Netizen anggap wajah Pelakor ini hasil operasi plastik!” Hinaan demi hinaan, cacian dan berbagai label buruk juwa terima. Mereka menuduhku sebagai manusia palsu, seseorang yang tak layak hidup karena telah mengubah tampilan diri supaya disukai banyak orang.

Tapi apakah itu benar? Apakah semua ini adalah hal yang bisa diterima? Memang kenapa jika aku jadi Pelakor? Apa salah dan dosaku saat menjadi Pelakor? Apakah dengan menjadi Pelakor membuatku lebih buruk? Apakah kalian merasa jadi lebih suci sementara aku penuh dosa?

Aku tak pernah mau menjadi orang yang seperti itu. Tapi apa salahku jika kemudian orang-orang memberiku banyak kado, hadiah, untuk menarik perhatianku. Apa salahku jika kemudian pasangan kekasih hancur karena partnernya lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku? Aku tak pernah mau melakukan ini.

Sesungguhnya aku tak pernah berharap dan memilih untuk menjadi seperti ini. Sejak kecil aku hanya ingin dicintai, menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Aku tak mengelak jika kalian menuduhku merayu. Dengan segala yang aku miliki, perhatian dan kekaguman adalah hal yang kerap kali tak bisa aku miliki secara tulus.

Orang hanya melihatku karena pesona wajahku keindahan tubuhku, dan juga suaraku yang dianggap manja menggoda. Tapi mengapa kalian hanya menyalahkanku? Kenapa setiap seseorang suka padaku, mendekatiku, memajang wajahku dalam ponselnya, aku yang selalu disalahkan? Aku tak menggoda mereka, aku bahkan tak pernah memulai hubungan ini. Seringkali aku adalah pihak ketiga yang dikagumi, bukan seseorang yang usil mendekati.

Ibu-ibu menuduhku merusak keluarga mereka. Membuat orang yang mereka cintai mabuk kepayang memikirkanku. Ibu-ibu membenciku karena orang yang mereka sayang tak peduli lagi dengan ibunya. Mereka sibuk memandangiku di layar ponsel, bahkan seringkali sembunyi-sembunyi bicara padaku di layar laptop mereka. Tapi apakah mereka pernah berpikir, mengapa orang yang mereka sayang menyukaiku.

Sementara bapak-bapak kerap kali bersembunyi saat ingin melihatku. Aku tahu di ponsel mereka ada foto dan berbagai video tentangku. Mereka menyembunyikan keberadaanku karena tak ingin dihakimi masyarakat. Mereka menyukaiku tapi terlalu tua untuk menunjukkannya. “Udah tua bangkotan bau tanah kok kelakuannya gitu,” demikian kata orang yang membenciku.

Jika seseorang menyukaiku, bukan berarti aku berniat merebutnya darimu. Jika seseorang mengagumiku, bukan berarti aku yang menggodanya. Jika seseorang menyatakan cinta padaku, bukan berarti dengan sengaja aku ingin merusaknya karenamu. Pernahkah kamu berada di posisiku? Dianggap sebagai benalu, perusak, padahal kita bertemu saja tak pernah.

Memang salah jika aku molek dan suka menghias diri? Memang salah jika setiap hari aku berlatih berjam-jam untuk mencapai tubuh ideal? Aku melakukannya untuk diriku sendiri, untuk sesuatu yang aku percayai. Aku tak pernah merasa perlu berdandan untuk orang lain atau menjadi menarik untuk orang lain. Aku memilih ini karena memang aku ingin mencintai diriku sendiri.

Pernah aku berjalan di mall, beberapa orang asing mengelilingku, meneriaki aku, lantas memaksaku menuruti permintaan mereka. Baru-baru ini aku keluar dari bandara, tubuhku ditarik oleh orang asing, dijatuhkan, lantas mereka histeris, dengan muka memerah, mata mendelik, meneriakkan namaku seperti aku telah berbuat dosa besar pada mereka.

Dalam keheningan malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk bisa tetap menjalani ini. Salahkah aku? Dosakah mereka yang datang padaku? Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua kebencian yang aku hadapi hari ini? Apakah aku harus terus berjalan, bisakah aku melewati hari tanpa diganggu, diberi hadiah yang aku tak mau, dikerubutin di tempat umum sambil diteriakin? Aku tak sanggup tuhan.

Yah, apapun pembelaanku, pasti kalian tak akan pernah peduli. Memang aku hanya Pelakor, Pelantun Lagu Korea, yang kalian puja di Youtube dan Weekly Idol. Daebak.

7 tanggapan untuk “Pelakor”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s