Jangan berbohong

Agus hanya melongo mendengar syarat yang diberikan oleh ustad Amrana.”jangan bohong.”

“Cuma itu pak ustad?” Ulang Agus seakan kurang percaya.

“Iya, cuma itu.” Ustad Amrana menyahut sambil tersenyum.

Agus agak lega walau agak sangsi. Ia memang akhir-akhir ini ingin memperdalam ilmu agama. Entah ada dorongan dari mana, tapi ia ingin agar bisa rajin sholat. Maklum, walaupun beragama Islam tapi ia hanya melakukan kewajiban umat muslim itu sekenanya saja.

Bisa saja ia berguru pada kyai Mansyur, bapak dari ustad Amrana yang pengasuh pondok pesantren, tapi melihat usianya maka ia agak sungkan. Akhirnya ia pilih ustad Amrana saja untuk berguru ilmu agama karena usianya yang tidak terpaut terlalu jauh, lagi pula ia dengar sang ustad orangnya asik kalo diajak bicara.

“Kalo cuma itu aku sanggup pak ustad.”

“Tolong jangan panggil aku ustad Gus, usia kita kan tidak terpaut jauh. Panggil saja aku kang Nana, bagaimana?”

“Baiklah kalo itu mau ustad, eh kang Nana.” Jawab Agus yang disambut senyuman oleh tuan rumah.

“Tapi kang Nana, apa itu tidak terlalu mudah syaratnya.” Agus menyambung dengan agak bimbang.”aku ingin belajar cara agar bisa rajin sholat karena aku ini orangnya ndableg, malas sholat. Kalo cuma disuruh jangan bohong, aku kira tidak nyambung dong kang.”

“Belajar itu yang mudah saja dulu Gus, kalo kamu sudah bisa tidak berbohong, maka nanti akan aku ajari yang lebih sulit lagi, begitu seterusnya.”

“Baiklah.”

“Ayo diminum dulu kopinya, jangan sampai dingin, nanti tidak enak.”

* * *

Sore itu Agus sedang bermain hp di teras rumah. Maklum, ia adalah seorang pecandu Internet. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya bermain internet, apalagi kalo sudah main fb, bisa lupa waktu karena keasyikan. Seperti saat ini, ia sedang asyik menggoda Widia, teman Facebook nya.

Ehem, tiba-tiba terdengar suara deheman halus, dilihatnya ustad Amrana ternyata sedang ada di luar. Buru-buru ia matikan hp lantas membuka pagar.

“Asyik bener nih mainnya, sampai saya kasih salam juga ga denger.”

Mendengar hal itu Agus terkejut sekaligus malu.”maaf kang Nana.” Katanya.

“Ah tidak apa-apa. Aku juga suka main hp kok Gus.” Jawab Amrana kalem. Mendengar hal ini Agus agak lega. “Ada perlu apa nih kang?”

“Ah tidak, hanya mampir saja. Ngomong-ngomong asyik bener tadi main hp. Emang sudah sholat ashar ya?”

Agus kaget mendengar pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini. “Belum kang, maaf keasyikan.” Jawab Agus pelan

“Tapi tidak lupa sholat dhuhur bukan?”

“Tentu ga lupa.” Sahut Agus cepat-cepat.

“Sholat dimana, dirumah? kok tadi aku tidak lihat kamu saat jamaah di masjid.”

“Ah benar kang. Maaf aku tadi sholat nya di rumah.”

“Ya tidak apa-apa sih, walau yang utama itu di masjid, berjamaah.”

“Aku tadi berjamaah kok Gus, tadi aku main ke rumahnya Herman dan sholat bareng, makanya tidak sempat ke masjid.”

“Yakin?” Tanya Amrana, sebuah pertanyaan sederhana tapi entah mengapa sangat menyiksa.

“Bener kang, sumpah. Kalo tidak percaya tanya saja sama Herman. Tapi Herman nya lagi keluar kota sih ada urusan tadi.”

“Tak usah bawa-bawa sumpahlah. Ya udah, nanti kalo Herman pulang aku tanya.” Sahut Amrana kalem.

Tidak disangka, habis Amrana berkata dari ujung jalan Herman datang seolah tanpa dosa. Ia cuek saja lewat depan rumah. Agus sudah pucat pasi melihat tetangganya tersebut. ‘aduh Herman goblok, mana lewat sini lagi’ batin Agus dalam hati.

“Loh, itu Herman.” Kata Amrana

Agus sudah mau pingsan.

“Her, mau kemana?” Teriak Amrana.

Herman menghentikan langkahnya lantas menyahut.”mau ke toko kang Nana.” Katanya sambil lewat.

Keringat dingin mulai mengalir di dahi Agus. Gawat. Ini situasinya sangat gawat. Tapi anehnya, Amrana malah tidak menghampiri Herman untuk bertanya soal kebenaran pengakuan agus tadi. Amrana malah cuma berpesan. “Oh, aku titip rokok sekalian ya, Her?

Agus sedikit bernafas lega walaupun kekhawatiran nya tadi jelas sudah terbaca Amrana.

“Tuh kan tidak mudah.” Kata Amrana ketika Herman sudah pergi menjauh.

Agus menjadi bingung.

“Tugas pertamamu untuk tidak bohong itu ternyata tidak semudah yang kau bayangkan bukan?” Katanya sambil tersenyum. Agus hanya garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal sambil merasa bersalah.

“Iya kang Nana, maaf aku sudah berbohong. Aku tidak jamaah tadi sama Herman.” Katanya penuh penyesalan.

“Tapi tidak lupa sholat dhuhur kan?”

Agus menggelengkan kepalanya, semakin malu.

Amrana hanya menarik nafas panjang.”kebohongan  itu hampir selalu menyulut kebohongan selanjutnya. Untuk menutupi bohong pertama kalau kamu nggak salat, kamu akhirnya jadi bohong lagi kalau jamaah. Kalau dilanjutin terus, pasti kamu akan bohong terus. Kamu beruntung, Allah kasih si Herman tadi jalan di depan rumahmu tadi, jadi kamu nggak perlu bikin bohong lanjutan,” kata anak kyai Mansyur itu.

“Sudah, kamu belajar soal tidak perlu bohong dulu. Insya Allah kalau kamu jujur terus, kamu akan jadi rajin sembahyang dengan sendirinya. Kecuali kalau kamu malah jadi terbiasa berbohong, terbiasa berbuat dosa, nah sebelum itu terjadi, aku akan bikin itu jadi hal yang nggak enak buatmu,” tambah Amrana lagi.

Agus sudah tidak berani berkata apa-apa lagi. Berjanji pun ia tak berani karena takut salah lagi.

“Ya sudah, kamu segera sholat ashar. Ini hampir jam 5. Aku mau ke pesantren ke Abah dulu. Kalo Herman mencari, bilang saja aku disana.” Katanya lantas berjalan keluar rumah. Agus pun tersadar dan langsung masuk ke dalam rumah untuk menunaikan kewajiban nya.

* Selesai *

Minggu, 14 Oktober 2018.

6 tanggapan untuk “Jangan berbohong”

  1. Aaahh!! Keduanya bohong …….. Missinya mah ingin cari Rongdo. Cuma belum dapat jadi Herman buat sasaran..😂😂😂😂 🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏄🏄🏄🏄

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s