Tangisan tengah malam

Widia baru hendak tidur ketika sudah jam 2 pagi. Ia memang punya kebiasaan yakni suka tidur larut malam, padahal esok pagi ia harus bekerja.

Saat ia hendak menarik selimut, sayup-sayup terdengar suara halus seperti suara orang menangis. Suaranya hanya kecil saja, cuma karena tengah malam maka terdengar jelas.

Oh ya, kamar Widia itu ada di dekat sebuah gang. Rumahnya memang berada di tengah gang kecil yang hanya lebar dua meter yang hanya bisa dilewati kendaraan roda dua.

Siapa sih yang nangis tengah malam begini, batinnya. Ah, paling mungkin anak bu Eny, batinnya teringat pada Bambang, anak bu Eny yang memang suka rewel. Dengan pikiran demikian maka ia pun lantas menarik selimut lantas tidur.

Besoknya sebelum berangkat kerja di mall Karebosi, Widia mampir dulu ke Eny yang seumuran dengan ibunya.

“Pagi Bu Eny.”

“Pagi non cantik, mau berangkat kerja nih.” Balas Eny. Ia memang hanya perantauan di kota ini. Rumah yang ditempati nya ialah rumah dari saudara ibu Eny yang dijual karena ia ingin mengubah nasib di ibukota.

“Iya Bu, semalam Bambang nangis ya?”

“Ah, ga. Ia tidur pulas, kemarin kecapaian habis main sama Herman, adik kamu itu.”

Ah, mungkin semalam ia salah dengar, batinnya. Setelah berbasa-basi sebentar Widia menstarter motor maticnya lantas berangkat kerja.

* * *

Hari sudah larut malam ketika Widia pulang kerja. Ia sebenarnya biasa pulang sore, tapi karena Siska teman kerja shift dua yang biasa mengganti nya tidak masuk terpaksa ia lembur sampai jam 12. Gang tempat rumahnya berada sepi, tak terdengar suara apapun. Ia pun mengetuk pintu dan tak lama kemudian ibunya membukanya sambil tersenyum.

“Baru pulang nak.”

“Ia Bu.” Jawab Widia sambil mencium tangannya. Ia memang sudah menelpon sejak sore agar ibunya tidak khawatir.

“Ya udah, makan lalu tidur ya, jangan main hp. Besok kamu harus kerja bukan.” Nasihatnya bijak. Widia hanya mengangguk lantas masuk. Ketika masuk, dilihatnya Herman, adik bungsunya yang berusia tujuh tahun sedang tidur dengan ayahnya.

Setelah selesai makan, Widia pun bergegas ke kamar. Segera di buka hp nya lantas membuka Facebook. Ia tersenyum geli ketika melihat status teman-temannya. Mulutnya menguap pertanda ia ngantuk. Walaupun masih ingin bercengkrama dengan teman Facebook nya tapi terpaksa ia harus tidur. Saat ia memejamkan mata, lamat-lamat didengarnya suara tangisan, kali ini agak kencang.

Sontak matanya terbuka. Ia tajamkan pendengarannya dan tidak salah lagi, memang ada suara tangisan.

Jengkel karena waktu tidurnya terganggu, Widia segera saja membuka pintu kamar lalu keluar pelan-pelan lewat samping rumahnya yang menghadap ke gang agar tidak mengganggu orang tuanya.

Dilihatnya tak ada siapapun. Hawa dingin segera menerpa membuat ia menggigil. Baru ia sadar bahwa ia keluar tidak memakai mantel. Saat ia hendak masuk kembali, lapat-lapat terdengar kembali suara tangisan, sangat jelas ada dibelakangnya.

“Siapa itu?” Teriaknya. Tak ada yang menyahut. Ia merinding, segera saja ia hendak masuk, tapi entah mengapa kakinya kaku. Sialnya tiba-tiba terdengar suara tangisan, cukup kencang, kali ini sangat jelas ada disampingnya, padahal dilihatnya tak ada siapapun membuat Widia hampir pingsan karena ketakutan.

“Widia, ngapain kamu diluar.” Sebuah suara terdengar dan ajaib, kali ini kakinya bisa digerakkan. Segera saja ia berlari menghampiri ibunya dan menangis. Ia pun bercerita bahwa ia mendengar suara tangisan, makanya ia keluar.

“Tapi ibu tak dengar apapun.” Bantah ibunya. Widia pun bersumpah bahwa ia tidak bohong. Akhirnya ibunya mengalah dan menemani nya tidur.

* * *

“Lho, kamu sakit Widia?” Seru Zita, teman kerjanya. Dilihatnya muka sahabatnya agak pucat.

“Ah tidak mbak.” Elaknya.

“Kamu tidak usah bohong. Memang kenapa sih?” Tanyanya. Akhirnya Widia pun bercerita tentang kejadian semalam, dan juga beberapa malam sebelumnya.

Mendengar cerita Widia, Zita pun terkejut karena tidak menyangka ia bercerita tentang hantu. Tadinya disangkanya, ia akan bercerita tentang Satria, teman kerja nya yang naksir pada Widia.

“Mungkin itu suara tangisan tetangga kali.” Jawabnya.

“Bukan, aku yakin bukan mbak Zita.” Tegas Widia.” Aku juga tadinya menyangka begitu, tapi semalam aku yakin itu hantu.” Lanjutnya sambil terisak. Melihat hal itu Zita bingung dan ia yakin sahabat nya itu tidak berbohong karena ia cukup kenal siapa Widia. Tiba-tiba ia dapat ide.

“Bagaimana kalo nanti sore pulang kerja kita tanya pak Amrana.”

“Pak Amrana, petugas keamanan itu?” Tanya widia.

“Iya, kau ingat bukan. Siska dulu pernah kesurupan dan berkat bantuan pak Amrana akhirnya ia bisa sembuh.” Jawab Zita bersemangat. Melihat hal itu Widia pun tenang karena ia merasa mempunyai jalan keluar karena ayah dan ibunya di rumah kurang percaya dengan ceritanya.

Sore sepulang kerja, Widia dan Zita pun menuju rumah amrana yang terletak tidak jauh dari mall Karebosi.

“Assalamualaikum.” Sapa mereka ketika sampai di depan rumah.

“Waailakumsalam.” Jawab sebuah suara, tak lama kemudian keluar seorang ibu separuh baya.

“Bapak ada bu?”

“Ada di belakang. Ada perlu ya.” Jawab istrinya Amrana yang memang sudah tahu kalo suaminya memang sering dimintai tolong oleh seseorang. Pertanyaan itu hanya dijawab oleh anggukan kepala oleh Widia. Istrinya pun masuk dan tak lama kemudian muncul seorang lelaki yang berbadan tegap.

“Oh nak Zita dan nak Widia. Monggo masuk, Tumben ada perlu apa nih main ke gubuk reyot tempatku.” Jawab Amrana sambil terkekeh yang memang tak bisa meninggalkan logat jawanya walaupun sudah 10 tahun merantau di Makassar.

Setelah duduk, Widia pun menceritakan pengalamannya semalam dan juga beberapa hari sebelumnya. Amrana hanya manggut-manggut lantas merenung.

“Bagaimana menurut bapak?” Tanya Zita.

Amrana tersenyum.”aku akan terawang sebentar. Kalian tunggu dulu ya.” Tanpa menunggu jawaban kedua ia lantas bangkit dan masuk ke kamar.

Lima menit kemudian ia sudah keluar membuat Zita dan Widia lega karena menyangka akan lama Amrana bertapanya.

“Depan rumah nak Widia ada gang kecil ya?” Widia hanya mengangguk.

“Ada parit bukan di sepanjang gang tersebut?” Pertanyaan ini membuat Widia terkejut, bagaimana ia bisa tahu, padahal tak pernah kesana. Tanpa menghiraukan keterkejutan Widia , Amrana lantas melanjutkan.

“5 tahun lalu ada orang yang membuang janin di selokan itu. Nah, janin itulah yang menangis dan mendatangi kamu.”

Mendengar jawaban itu Widia terkejut.”mengapa aku pak.”

“Karena di gang itu, cuma kamu yang peka.”

“Terus aku harus bagaimana pak?” Jawabnya bingung.

“Ya bapak juga tidak tahu bagaimana sebaiknya kamu. Saran bapak, kamu ajak saja bicara ia, apa maunya, terus bagaimana caranya agar ia tidak mengganggu kamu lagi.” Jawab Amrana panjang lebar.

“Aku tak mau pak, aku takut.” Jawab Widia gemetaran.

“Kamu tidak perlu takut, ia sebenarnya tidak jahat. Ia hanya ingin tahu, siapa yang membuangnya.” Widia tetap menggeleng-gelengkan kepala. Kalo bicara sama manusia sih oke-oke saja, tapi ini setan lho, hiks…

“Apa tidak bisa diusir saja pak, biar ia tidak mengganggu Widia?” Seru Zita yang kasihan melihat temannya.

Amrana menggeleng.” Susah, ia sudah berubah menjadi merah. Terlalu berat resiko yang ditanggung jika dipaksakan. Nyawa taruhannya” Walaupun tak paham apa arti kata merah yang dimaksud Amrana, tapi mereka pun hanya diam dan tak lama kemudian permisi.

* * *

Malam itu Widia punya akal. Agar tidak mendengar suara tangisan maka ia memakai headset. Segera saja ia memutar lagu Anging Mammiri kesukaannya. Saat ia sedang asyik mendengarkan, tiba-tiba lagu berubah menjadi lagu sedih Anak Kukang.

Sontak hal ini membuat Widia terkejut karena lagu ini tak ada di hp nya, bagaimana bisa. Ia mendengarkan sekali lagi, kali ini masih lagu Anging mammiri.

Ah, mungkin ia sudah capek. Segera saja ia matikan hp nya lantas menarik selimut. Saat ia hendak memejamkan mata terdengar suara tangisan anak kecil.

“Hu..hu..hu….”

Mendengar hal itu ia pun melompat dari tempat tidur. Dilihatnya di sudut kamar ada seorang anak kecil berbaju merah dengan kulit yang merah juga sedang menangis. Ia ingat pesan pak Amrana.

“Apa mau mu padaku?” Teriaknya.

“Tolong cari siapa orang yang membuang ku kak.”

“Aku tidak tahu, tolong kau jangan ganggu aku.” Teriakku parau.

“Tolong kak, aku ingin tahu siapa orang tuaku, siapa yang membuang ku.”

“Aku tidak tahu, kau dengar aku tak tahu siapa orang tua mu atau siapa yang membuang mu. Tolong jangan ganggu akuuu…” Teriak Widia keras-keras.

Tiba-tiba terdengar gedoran dari pintu, disusul sebuah suara.” Widia, ada apa Widia, cepat buka pintu.”

“Mungkin ada maling Bu. minggir Bu, biar aku dobrak pintunya.” Seru ayahnya. Beruntung, sebelum pintu kamarnya diterjang Widia sudah keluar. Ia pun terisak menangis memeluk ibunya.

* * *

Ajaib, sejak ia menolak permintaan itu, Widia tidak pernah lagi mendengar suara tangisan. Ia pun menganggap bahwa makhluk itu sudah puas dengan jawabannya dan tidak mengganggunya lagi. Kini Widia sudah bisa beraktivitas seperti biasa, walaupun kini ia masih ditemani tidur oleh ibunya.

* * *

“Bambang, aku pulang dulu ya, nanti ibuku marah, soalnya sudah sore.” Seru Herman.

“Ah curang kau man. Ayo kita lanjutkan lagi sampai habis nih kelereng nya.” Jawab Bambang ngambek. Karena jawaban itu maka Herman pun kembali bermain. Tak terasa waktu pun berlalu sampai Eny datang dan marah.

“Bambang, ini sudah Maghrib. Ayo masuk dan mandi. Herman, kamu juga pulang ya, nanti orang tuamu mencarimu.”

“Baik Bu.” Herman pun mengumpulkan kelerengnya lantas pulang. Saat keluar halaman rumah Bu Eny, dilihatnya di pinggir jalan ada anak kecil berbaju merah dengan kulit berwarna merah juga.

“Kamu siapa?”

Ia hanya menggelengkan kepala.

“Kamu mau main kelereng denganku?”

“Ayo.” Jawabnya girang dengan mata berbinar binar. Sementara matahari pun makin redup dan sayup-sayup di kejauhan terdengar suara azan Maghrib.

Tamat, 12 Oktober 2018.

8 tanggapan untuk “Tangisan tengah malam”

  1. Mungkin anak kecil yang berkulit merah titisan dari siEmde…Kenapa nggak bisulan aja sekalian tuh anak..😂😂😂😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s