Wawancara eksklusif

Sebuah SMS masuk ke dalam hp Herman dari nomor yang tidak dikenal, tepat saat herman hendak masuk ke dalam rumah. Isinya singkat saja:” boleh saya menelpon?”

Herman termasuk orang yang punya kebiasaan tidak menarik dalam berkomunikasi lewat hp. Jika ada yang telpon dari nomor yang tidak dikenal maka tak akan diangkat, maklum ini berkaitan dengan pekerjaan Herman. Jika ada yang SMS tanpa menyebut nama maka tak akan dibalas, apalagi ini hampir jam 12 malam, Herman juga capai karena habis menguber berita untuk esok hari. Karena itu Herman acuhkan lantas masuk ke rumah.

SMS itu muncul lagi sehabis Herman makan. Isinya kali ini cukup panjang dan mulai menarik perhatian Herman.”Saya bisa pertemukan anda dengan Jaey Born (ketua kriminal yang namanya selalu bikin penjahat kelas teri terkencing-kencing, tapi tak pernah muncul di muka umum). Anda bisa melakukan wawancara eksklusif dengannya.”

Deg-degan hati Herman membaca isi SMS itu. isi SMS mungkin karena beberapa waktu yang lalu ia pernah menulis artikel di sebuah media daring, yang intinya ia agak meragukan tokoh Jaey Born. Ia ragu apakah benar-benar ada ataukah cuma mitos aja, karena tidak ada yang pernah bertemu dengannya.

Bingung antara mau membalas atau, akhirnya ia putuskan untuk acuhkan saja. Herman baru ingat kalo ia belum sholat isya. Akhirnya ia pun mengambil wudhu.

Selesai shalat Herman hendak membuat kopi untuk menghilangkan lelah. Saat itulah hp nya berbunyi. Satria, tumben ia menelpon tengah malam begini, batin Herman setelah melihat nama di layar hpnya. Satria adalah seorang teman dekat Herman saat kuliah bahkan kadang ia juga yang memberikan rejeki padanya dengan cara memberi informasi. Segera saja ia angkat.

“Halo mas Satria, ada apa?”

“Mas her, yang tadi SMS itu teman saya. Ia tak mungkin bohong.”

“Benarkah?” Tanya Herman ragu walaupun ia kaget juga.

“Iya, Jaey Born sudah sering membaca koran kamu dan ia percaya kamu makanya ia mau di wawancara.” Seru Satria panjang lebar. Setelah ngobrol agak panjang Herman putuskan untuk menerima tawaran wawancara itu, apalagi Satria menggaransi bahwa aku tidak akan apa-apa.

“Tenang saja. Ia teman baikku, tak mungkin ia akan mencelakakan mu. Aku jamin itu.”

Herman segera saja sibuk membawa segala macam peralatan wartawan. Maklum, kapan lagi ia bisa dapat kesempatan untuk melakukan wawancara dengan tokoh legendaris itu walaupun ia berasal dari dunia hitam.

Setengah jam kemudian Herman sampai di pom bensin yang sudah ditentukan dengan membawa sepeda motor. Dilihatnya Satria sudah berada di samping mobil Innova hitam bersama seseorang. Berbeda dengan bayangan Herman yang menyangka teman Satria itu kekar, banyak tato, dan tampang galak. Ternyata ia seorang lelaki yang sebaya Herman, kalem dan juga memakai kopiah.

“Maaf mas Herman merepotkan Anda. Saya Kay yang tadi SMS anda.” Katanya. Walaupun pelan tapi Herman menangkap nada berwibawa sehingga Herman pun sungkan.

“Ah tak apa-apa.” Jawab Herman.

“Mas her, motornya aku bawa aja ya. Kamu naik mobil saja.” Satria berkata.

“Lho. Kenapa kita ngga berdua aja mas Satria?” Jawab Herman. Agak khawatir juga Herman kalo ia sendirian.

“Maaf mas Herman, Bos Jaey Born hanya mau diwawancarai oleh anda saja dan tidak boleh ada orang lain ikut. Karena begitu prosedurnya.” Kata Kay mantap. Mendengar itu Herman makin bingung.

“Tenang saja mas, aku jamin anda tidak akan apa-apa asal anda mematuhi aturan. Bos kami itu orang baik, jangan percaya apa kata orang sebelum melihat sendiri. bukankah itu yang sering anda tulis di koran.” Seru Kay. Dilihatnya Satria juga mengangguk. Akhirnya dengan memantapkan langkah Herman pun setuju.

Herman masuk ke dalam mobil Innova hitam itu. Dilihatnya didalam sudah ada dua orang berbadan kekar yang memakai pakaian hitam.

“Maaf mas, ini prosedur juga.” Jawab Kay. Kepalang basah, Herman pun akhirnya duduk dan diapit oleh dua orang bodyguard. Ia merasa seperti kambing yang diapit oleh dua ekor gajah.

Mobil pun melaju ke kota Jakarta. Karena sudah tengah malam maka Herman agak bingung juga ia akan dibawa kemana, apalagi mobil jalannya ngebut.

“Silahkan kalo mau merokok mas, tidak apa-apa.” Kay membuka keheningan karena memang dari tadi tidak ada yang berbicara. Herman hanya menggelengkan kepala, ia memang perokok berat tapi disaat seperti ini ia tak berniat menghisap rokok.

Tiba-tiba mobil berbalik 180° setelah itu langsung ngebut dengan kecepatan tinggi di perempatan. “biasa mas, kami harus waspada. Karena banyak kecoa dan lalat-lalat yang mencoba membuntuti.”

Mobil kali ini berbelok ke arah, menuju sebuah perkebunan dan tiba-tiba mesin mobil dimatikan termasuk lampu mobil membuat saya terkejut dan juga agak takut. Maklum berhenti di tengah kebun saat tengah malam. Coba orang yang suka menghina jaey born di media sosial diperlakukan seperti ini. Diciduk lantas dibawa ke tempat sepi lalu jaey born datang, pasti ia sudah terkencing-kencing lantas semaput.

“Aman?” Kay bertanya

“Aman bos.” Sahut orang disamping Herman. Mesin Mobil pun dinyalakan dan kembali melanjutkan perjalanan.

Sekitar 20 menit kemudian mobil masuk ke gang sempit. Entah berada di mana Herman sudah tak tahu karena tadi jalannya berputar-putar tak tentu arah membuat ia mabok.

10 menit kemudian Herman dibawa ke sebuah bangunan. Herman seperti kenal tapi karena gelap dan masih mabok ia tak tahu.

“Silahkan keluar pak.” Seru bodyguard sambil membuka pintu. Herman terpaksa menurut dan keluar. Ia digiring masuk ke sebuah kamar yang besar dan bersih. Disana Kay sudah menunggu.

“Mau kopi mas?”

“Ah ngga.” Jawabnya. Ia memang sedang tidak mood. Biarpun mereka bersikap ramah dan sopan siapa tahu nanti dalam minuman itu ada obat bius dan tahu-tahu Herman sudah..

Tiba-tiba masuk dua orang yang tidak dikenal. Mereka langsung menuju Herman.” Maaf pak, kalo bapak ingin ketemu jaey born maka muka bapak harus ditutup.”

Kali ini Herman naik darah. “Heh, yang ingin ketemu dan wawancara itu bos kalian. Aku tak mau ditutup. Enak saja kalian.” Teriaknya.

“Maaf pak, ini sudah peraturan nya.” Dua orang didepan Herman tak bergeming.

Melihat hal itu Kay segera saja berbisik pada Herman. “Mas turuti saja. Mereka itu hanya menjalankan peraturan saja. Kalo dilanggar mereka juga akan dapat hukuman keras.”

Melihat hal itu Herman pun luluh. Ia pun akhirnya pasrah ketika mukanya ditutupi sejenis kain berwarna hitam dan mereka pun berjalan. Untung ada yang mengarahkan sehingga ia tidak bingung. Lima menit kemudian ia tiba disebuah ruangan dan berhenti. Jujur aja, Herman deg-degan.

“Buka tutup mukanya.” Perintah sebuah suara. Entah mengapa kok sepertinya Herman kenal suara itu.

Lampu kamar yang terang benderang sejenak menyilaukan mata Herman. Dilihatnya sekelilingnya dan ternyata sudah ada beberapa teman yang dikenal semuanya. Ada Mas Agus, pak Nana, Bubu Ricky, Widi, Eny, dan beberapa teman wartawan, tentu saja Satria juga sudah ada dengan muka cengengesan. Mereka mengelilingi sebuah meja besar dan serempak mengungkapkan.

“Selamat ulang tahun mas Herman.”

Ahhh, kampret, jancok, buajingann Herman tentu saja menyumpah serapah.

baru Herman ingat kalo sekarang ia sedang berulang tahun, ingin sekali ia meninju muka Satria.

Tamat, 28 Agustus 2018

7 tanggapan untuk “Wawancara eksklusif”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s