Tetangga Rumah

Perkenalkan, nama saya jaey. Saya tinggal bersama bubu, istri tercinta dan dua anak saya. Malam itu tinggal saya yang masih melek, biasa main Facebook. Sendirian saya rebahan di ruang tengah. Kulihat jam menunjukkan hampir pukul satu pagi.

Lamat-lamat saya merasa ada yang mengetuk jendela samping rumah. Suaranya pelan, tapi malam yang sunyi memantulkan bunyinya cukup keras. Mungkin hanya angin, pikir saya. Tapi sejak kapan angin mengetuk rumah orang? Saya melihat jendela. Dari korden yang belum sepenuhnya tertutup saya melihat ada yang berdiri di baliknya.

Saya punya teman, namanya Herman yang hobi begadang. Ia bahkan kadang tengah malam iseng mengetuk rumah hanya untuk ditemani begadang. Tapi ia selalu mengetuk pintu rumah bukan jendela, jelas ini bukan gayanya, lagi pula kudengar ia sedang pergi ke kota sebelah untuk suatu urusan. Saya coba menatap lebih lekat, dan sosoknya makin jelas dan saya makin menyadari bahwa ia bukan teman yang saya kenal. Ia adalah pocong.

Wajahnya pucat seperti berhari-hari begadang. Mata merahnya menyala menatap saya. Mungkin dia yang kemarin menampakkan diri kepada istri saya, batin saya.

Beberapa malam sebelumnya, Bubu terbirit-birit masuk rumah. Hari masih sore, sekitar pukul delapan malam ketika ia berada di halaman belakang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, katanya, di bawah pohon rambutan, seseorang terlihat duduk-duduk. Pakaiannya putih. Dari cahaya yang samar-samar, ia melihat mata berwarna bara itu menatapnya.

Pocong itu lalu melambaikan tangan, meminta saya mendekat. Saya pura-pura celingukan, berharap ada orang lain yang di sekitar saya. Tentu saja tidak ada. Terpaksa saya patuh.

Jaey bangkit dengan kaki gemetar. Rasanya seperti mendapat panggilan maju dari guru matematika untuk menyelesaikan soal di papan tulis. Ketika posisi kami hanya dipisahkan oleh teralis, ia menghardik, “Awas kamu, jangan main-main!” Ia lalu melengos pergi sambil terus mengoceh tak keruan.

Syukurlah, saya memang tak berniat mengundang untuk ngobrol berlama-lama seperti Herman. Cepat-cepat saya menutup jendela dan langsung masuk ke dalam kamar. Suara pintu tertutup yang agak keras membangunkan bubu.

“Ada apa mas jaey?”

“Ah, ga ada apa-apa.” Jawabku lantas segera memeluk tubuhnya dan tidur.

Yeah, rumah saya memang terkenal berhantu. Maklum rumah tusuk sate yakni pertigaan dimana rumah saya ada didepan jalan persis. Sebelumnya saya membeli karena tertarik pada harganya yang sangat miring. Bayangkan, luas rumah 260 m² dengan jalan yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat tapi harganya tak sampai 100 juta, mana boleh dicicil lagi.

Awal menempati saja datang seorang kakek yang janggut nya putih sehabis Maghrib. Ia memperkenalkan diri sebagai tetanggganya. Saya pun mengajak masuk tapi ia menolak. Karena tak enak maka aku pun masuk ke dalam membuat kopi tapi sayangnya ia sudah tak ada. Rasanya tak mungkin kalo ia tetangga dekat karena dua rumah disamping kanan dan dua rumah dikirinya juga kosong semua.

Ketika kami mulai mencoba bergaul dengan tetangga barulah cerita-cerita tentang adanya sosok yang menghuni rumah kami terdengar. Ada yang bercerita melihat sosok anu atau anu. Mereka biasanya menghubung-hubungkan cerita dengan pohon besar yang tumbuh di halaman depan rumah, yang belakangan saya ketahui sebagai pohon kopi.

Ketakutan para tetangga makin menghebat ketika pohon kopi itu berbunga. Malam hari aroma wangi kembang kopi menguar, menyerbu kamar-kamar tidur dan memaksa mereka tidur lebih awal sambil memeluk anak-anak kecil mereka lebih erat. Beberapa orang dewasa memilih jalan memutar lebih jauh ketimbang melintasi jalan depan rumah kami yang gelap gulita.

Sampai sekarang kadang terlihat ada yang berjalan-jalan di dalam rumah atau berjoget-joget di halaman belakang. Tapi saya memegang ucapan si kakek-kakek bahwa kami bertetangga. Seperti lazimnya tetangga, ada yang baik, pengertian, ada juga yang reseh, usil, dan cerewet.

Meski tidak turut membantu membayar KPR, saya tetap berhutang kepada mereka. Setidaknya mereka telah berjasa menjaga rumah itu dari godaan harga yang menggila. (Jangan-jangan, hanya para hantu yang bisa menstabilkan harga properti)

Soal ancaman tetangga pocong itu, saya hanya menduga ada sangkut pautnya dengan pohon kopi yang akhirnya saya tebang, karena saran (lebih tepatnya paksaan) dari para tetangga (yang manusia).

Di pertemuan singkat itu, sebenarnya ada keinginan saya untuk meminta maaf jika keputusan itu kurang berkenan di hatinya. Lagi pula kalau ia penyuka kopi maka aku akan mengajak ia bertemu teman saya Herman yang jago ngopi dan begadang, siapa tahu nanti mereka bisa jadi akrab.

Tamat, 9 Agustus 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s