misteri kamar 108

Bubu mengumpat dalam hati saat lift beranjak naik dalam kecepatan siput. seharusnya aku tadi lewat tangga saja, rutuknya murka entah pada siapa. Lift berhenti di lantai satu, membuat Bubu memencet kesal si tombol untuk memaksa kotak sialan itu kembali menutup. Tapi terlambat, seorang lelaki paruh baya tanpa sehelai pun rambut di kepalanya terlanjur masuk, lantas tanpa permisi seenaknya menekan tombol berangka lima.

Kesalnya sudah berkali lipat, Bubu melirik sebal si pendatang yang telah dengan kurang ajar membuatnya berbagi kotak lift, tapi lelaki sialan itu malah terang-terangan sedang menatapnya.

Bah!

“Apa lihat-lihat?” semprotnya galak, lengkap dengan matanya yang mendelik tak suka.

“Jangan marah, Nona, saya hanya mengagumi kecantikan Anda,” kata si lelaki tua tak tahu diri itu seraya mengedipkan sebelah mata. Bubu ingin meludahinya kalau bisa atau melempar sepatu yang dikenakannya, tapi dia sedang berada di dalam lift sebuah hotel berkelas, bukan di sebuah halte atau terminal bis.

Untungnya, tak lama lift berdenting dan pintu di depannya terbuka, mereka sudah ada di lantai tiga. Bergegas Bubu menyeret kakinya keluar, meninggalkan lelaki bangkotan yang masih belum jera menggodanya.

“Saya ada di kamar 512 Nona, datanglah jika kau suka,” seru si lelaki buaya sesaat sebelum pintu lift tertutup, tawanya yang sayup terdengar sungguh memuakkan, membuat Bubu yang sedang marah semakin naik pitam. Mengapa banyak sekali lelaki brengsek seperti dia, serapahnya dalam hati.

Tapi itu tidak penting, dia harus segera menemukan kamar 108, kamar yang rupanya dipesan suaminya sejak siang tadi. Apa yang dilakukan Herman di kamar itu? Pertanyaan yang melintas di kepalanya berhasil mengusir kemarahan Bubu, beralih bentuk menjadi sedih-kecewa-sakit hati yang datang tanpa dia undang.

Kenapa suaminya itu harus selingkuh segala? Bagaimana mungkin Herman tega mengkhianati cinta mereka yang hampir berusia sepuluh tahun pernikahan? Apakah semua lelaki di dunia ini tak pernah puas hanya dengan satu perempuan?

Sebelumnya, Bubu cukup percaya diri suaminya tidak seperti suami-suami lain yang suka main mata untuk kemudian jajan dengan sembarang perempuan. Tapi sejak sudah satu bulan terakhir ini, banyak teman-teman Bubu yang melaporkan Herman sering check in di hotel pada siang hari, padahal setiap malam Herman tak pernah alpa untuk pulang dan menginap di rumah. Bagaimana pun, Bubu tidak bisa tinggal diam untuk sebuah kebiasaan baru yang sangat tidak biasa semacam ini, bukan?

Setelah ia mendengar kabar itu, bubu lantas meminta adiknya Susi yang memang bekerja satu perusahaan dengan suaminya untuk memberi tahunya kalo ia melakukan kebiasaan barunya tersebut, dan memang adiknya mengirim pesan kalo mas Herman check in tadi.

Walaupun sejujurnya, ada sedikit kekhawatiran di hati Bubu, kalau-kalau sikapnya tersebut hanyalah kecemburuan semata, yang konyol dilakukan karena tidak berdasar sama sekali. Tapi alasan apalagi yang memungkinkan seseorang check in di hotel untuk sekadar sekian jam di siang hari kalau bukan untuk ‘bobo siang’ yang menyenangkan?

Setelah bertanya pada office boy akhirnya ia sampai juga dikamar yang dituju.

Hei, ini Kamar 108! Misteri akan segera terkuak.

Bubu berhenti, mengatur napas mencoba menenangkan diri. Semoga yang dipikirkannya tadi hanyalah asumsi belaka. Di detik terakhir, Bubu masih berharap semua omongan teman-temannya itu tidak benar, Bubu sungguh berdoa Herman masihlah lelaki setia yang sama yang dinikahinya selama satu dekade ini.

Tapi, bagaimana jika Herman benar-benar sedang bersama seorang perempuan di dalam kamar? Mungkin sekarang ini mereka sedang….

Oh Tidaakkk…

“Mama…” Bubu melangkah mundur, kaget karena pintu dibuka dari dalam dan Herman sudah berdiri di depannya, bahkan sebelum Bubu mengetuk atau menggedor-gedor pintu itu.

“Ngapain Papa di sini?” tanya Bubu ketus saat keterkejutannya berganti rupa dengan curiga yang membabi buta

“Mama ngapain di sini?”

“Iiih…tadi kan Mama duluan yang tanya. Ayo jawab!” jerit Bubu gemas. Membuat Herman mengernyitkan kening, menatap Bubu heran seolah perempuan yang adalah istrinya itu adalah sebangsa hantu yang keluar dari kuburan.

“Tadi ada meeting, terus Papa ngantuk, ya sudah pesan kamar saja,” jelas Herman kemudian.

Alasan yang terlalu mengada-ada! Bubu memilih tidak percaya, lantas matanya mengintip ke dalam kamar.

“Mana perempuan itu?”

“Perempuan apa?”

“Selingkuhan Papa.”

“Hah? Selingkuhan?”

“Iya, Papa selingkuh kan? Hayo ngaku!”

“Selingkuh apa sih, Ma?” Herman mulai tidak terima dituduh macam-macam, Bubu mulai menangis merasa telah dibohongi suaminya.

“Ngapain Papa bobo siang di hotel segala? ‘Kan bisa langsung pulang ke rumah.”

“Kan macet Ma, buang-buang waktu kalau Papa pulang ke rumah, pasti nggak bisa balik ke kantor lagi.”

Bubu geming, tidak mau menerima alasan yang dilontarkan Herman, “lagian tumben Papa perlu bobo siang segala? Rasanya kalau liburan pun Papa jarang tidur siang. Iya, kan?”

Herman menghela napas panjang, mengisi paru-parunya hingga penuh, lantas membelai pipi Bubu lembut. Dia sudah tahu perempuan ini sedang terbakar, pembelaan apa pun yang dipilih Teddy, bisa saja membuat apinya semakin menjalar. Dia yang harus sabar.

“Mama yakin siap mendengar alasan Papa sebenarnya?”

Bubu mengangguk cepat. Dia ingin tahu yang sebenarnya. “Tidak ada dusta di antara kita, Pa,” jawabnya mantap. Meskipun jauh di lubuk hatinya, Bubu waswas juga, apakah dirinya siap atas kebenaran yang akan dikatakan suaminya?

“Janji ya, Mama tidak marah.”

“Ya nggak bisa begitu dong, Pa. Mana mungkin Mama diam saja kalau Papa selingkuh?” erang Bubu seraya menepiskan tangan Herman yang masih mencoba membelai bahunya.

“Sumpah disambar geledek, Papa nggak selingkuh ma.” jawab Herman tenang, malah senyum samar terlukis di bibirnya.

“Lantas kenapa Papa sering nginep di hotel siang-siang?” cerca Bubu masih panas.

“Papa capek, Ma. Akhir-akhir ini Papa tidak bisa tidur kalau malam.”

“Oh ya?” Bubu mulai melunak, sekarang dia merasa bersalah tidak memerhatikan suaminya lebih betul, karena jelas tampang lelaki itu kelelahan. Mata panda dan kantungnya semakin jelas terlihat. “Kenapa Papa sulit tidur?”

“Mmm…akhir-akhir ini, Mama kalau tidur mendengkur, jadi Papa nggak bisa bobo deh.”

Oh?

 

TAMAT

6 tanggapan untuk “misteri kamar 108”

  1. Hmmmm…

    Good.. banget dah..!!! 😑😏😏😏
    Kayaknya aku gak pernah ngorok.. 😏😏😏
    Dan lagi sejak tidur sama mas herman… ☹️☹️☹️

    Suka

  2. Kalau memang gk bsa tidur dikamar krna ada yg ngentut, kan bsa tidur dikamar lain? Kan mereka orang kaya jd gk mgkn dirumah kamarnya cuma 1?
    Minimal kan bisa tidur bareng inem.. 😉

    Btw ceritanya krg greget, gk ada yg hot2nya sih.. -_-

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s