Altar Persembahan

Tempat itu hanyalah sebuah tempat yang berada di sebuah lereng gunung, gunung yang oleh penduduk setempat dinamai sesuai namanya yaitu gunung batu karena memang dimana Emde memandang hanya nampak bebatuan saja. Emde memandang tempat dimana ia berdiri, tak ada sebuah pohon pun, karena memang tempat itu tandus yang, jangankan pohon, rumput pun seakan enggan tumbuh.

Emde berdiri dilereng gunung batu seorang diri dan diam-diam ia menyesali mengapa ia berlaku senekad itu.

Ya, siang menjelang sore tadi, sebenarnya ia bersama dengan rombongan pecinta alam dari kampus. Sebagai pemuda yang besar di kota maka ia suka berwisata dengan menaiki gunung. Bersama dengan kelima temannya yaitu Agus, Herman, satria, Jaey, Kayana dan diketuai oleh Amrana yang memang paling tua dan paling banyak pengalaman dalam memanjat gunung mereka membentuk kelompok pecinta alam bernama mywapblog family.

Mereka berenam sudah banyak menyusuri hutan dan juga menaiki gunung. Karena keberanian mereka dalam menjelajah maka tak heran mereka sering dapat piala atas keberanian, terutama saat terakhir mereka diminta mencari sebuah helikopter yang jatuh di sebuah gunung. Atas keberhasilan mereka, grup pecinta alam tersebut pun masuk koran.

Dua hari lalu, setelah menempuh perjalanan dari ibukota mereka sampai juga ke desa yang ada dibawah gunung batu. Kepala desa menyambut hangat mereka karena sebelumnya mereka memang sudah memberi kabar terlebih dahulu. Begitu juga dengan para penduduk kampung menyambut ramah. Pokoknya tak ada masalah.

Masalah mulai muncul ketika seorang sesepuh desa memberi tahu.” Jika kalian ingin mencapai puncak gunung batu boleh saja, tapi jika dalam perjalanan ke puncak gunung kalian melihat celah di tebing gunung maka janganlah kalian masuki. Anggap saja kalian tak melihat celah tersebut.”

“Mengapa demikian pak?” Seru Herman ingin tahu.

“Celah itu adalah tempat keramat. Disana ada altar Persembahan milik penunggu gunung yang harus kalian jauhi. Siapapun yang ingin ke altar itu harus mempersembahkan darah. Dan bagi kalian yang berani menghina altar keramat milik penunggu gunung itu harus mengorbankan nyawa.” Jawab orang tua itu berapi-api yang hanya disambut senyum kecil oleh para anggota mywapblog family. Maklum, mereka sudah sering bertualang sehingga nasehat seperti itu sudah sering mereka dengar, sementara Amrana mengangguk-angguk tanda mengerti.

Setelah dua hari menjelajah, mereka sudah mencapai tebing gunung batu. Tak ada kesulitan berarti karena mereka sudah berpengalaman. Celah itu sudah mereka lupakan sampai tadi siang secara tak sengaja Satria melihat sebuah celah saat ia buang hajat. Ia pun segera memberi tahu yang lainnya yang disambut oleh rasa penasaran yang lainnya karena mendengar nasihat dari sesepuh desa.

“Jangan, sebaiknya kita tak masuk ke dalam celah seperti nasehat kakek itu.” Seru Amrana bijak saat mereka sudah ada di depan celah.

“Ah kang Amrana terlalu penakut.” Emde menyeletuk.

“Aku bukan penakut.”sergah Amrana dengan tenang.” Tapi kepercayaan penduduk harus kita hormati.

“Kalian tak ingin melihat altar itu?” Emde berkata sambil melihat kepada teman-temannya. Ia kenal betul siapa mereka dan tahu apa yang akan mereka jawab. Dan memang Agus, Jaey, Kayana, satria dan Herman memutuskan untuk melihatnya.

Akhirnya diadakan pemungutan suara, dengan hasil 1 untuk Amrana sedangkan 6 untuk Emde. Amrana mengalah dan mereka pun dengan semangat masuk ke dalam celah dipimpin oleh Amrana didepan.

Ternyata semakin kedalam celah itu makin sempit. Tak ayal badan mereka penuh goresan karena kiri dan kanan celah itu batu semua.” Kurasa kakek itu benar, siapapun yang ingin melihat altar itu harus mengorbankan darah.” Kata Amrana sambil mengusap tangannya yang lecet berdarah kena batu yang diangguki oleh Herman. Mendengar hal itu Emde hanya tertawa saja padahal kondisi nya tak jauh beda dengan temannya.

“Kurasa kang Amrana benar.” Agu ikut mengiyakan. Ucapan Amrana ternyata membuat yang lain terpengaruh.

Akhirnya setelah setengah jam saat tengah hari terik, mereka akhirnya bisa keluar celah dan melihat sebuah altar. Altar itu adalah sebuah meja dari batu berbentuk segi empat yang ada disamping tebing yang tegak lurus. Altar batu itu berwarna agak kehitaman dan di pinggir altar tampak kemerahan.

Setelah melihat-lihat sebentar maka mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Tentu saja Emde protes.

“Kita tunggu semalam saja disini.”

“Kita sudah melihat altar itu mas Emde, apalagi yang kau mau?” Seru Kayana dongkol. Kayana memang agak penakut dibandingkan yang lainnya.

“Justru kita harus buktikan pada para penduduk desa bahwa altar ini hanyalah altar biasa. Cerita tentang penunggu altar ini hanya untuk leluhur mereka saja. Kita bermalam sehari saja lalu besok kita tak usah ke puncak tapi langsung ke kampung saja untuk memberi tahu penduduk bahwa penunggu gunung hanyalah omong kosong belaka. Apa kalian setuju?” Kata Emde berapi-api.

“Tidak, kita harus pergi dari sini sekarang juga mumpung hari masih terang.” Jawab Amrana berwibawa.

Tak ada yang menyahut. Akhirnya dilakukan pemungutan suara lagi dengan hasil kali ini 6 suara untuk Amrana dan 1 buat Emde.

Melihat hal itu Emde murka. Segera ia membuka celana lantas mengencingi altar itu. “Kalian lihat, tak akan ada apa-apa, ini hanyalah altar batu saja.” Teriaknya kalap.

Semua terkesiap, tak ada yang menyangka Emde akan berbuat senekad itu. Untuk keamanan rombongan, maka Amrana segera mengasih kode kepada Herman dan Satria.

Melihat hal itu Emde segera mengambil lembing yang memang dibawanya untuk keamanan di perjalanan.” Yang pertama menyentuhku, mati.” Teriaknya melotot.

Kawan-kawannya terkejut.

Melihat hal itu maka tak ada lagi yang bisa mereka berbuat. Salah seorang bergumam putus asa.” Sudahlah, kita juga enak turun gunung tanpa menggotong tubuhnya yang besar.”

Semua mendoakan keselamatan nya lantas mereka pergi.

~ ~ ~

Emde mengambil sebuah roti lantas memakannya. Beruntung, sebelum mereka pergi mereka sempat meninggalkan bekal dan juga selimut serta hp untuk jaga-jaga. Dia melihat keatas dan bulan purnama tampak di langit. Sinarnya yang terang membuat tebing itu tak terlalu menakutkan.

Diam-diam ia menyesal, mengapa ia bisa senekad ini. Benarkah ia akan menusuk temannya jika ada yang menyentuhnya tadi siang? Tentu saja tidak, ia hanya tak mau turun gunung sambil digotong karena dibuat pingsan.

Ia sudah banyak bertualang, bukan cuma satu dua kali grup pecinta alam mywapblog family diperingatkan penduduk kampung dan selama ini mereka sudah membuktikan bahwa tempat keramat yang ditakuti penduduk hanyalah tempat biasa, ada goa yang hanya berisi gas beracun atau hewan langka yang memang jarang terlihat sehingga dikeramatkan penduduk. Heran, kenapa kali ini kawan-kawannya nyalinya menciut.

Ah persetan dengan mereka, ia akan buktikan bahwa ia akan baik-baik saja sehingga para penduduk gunung tersebut tahu bahwa altar itu hanya altar batu biasa, bukan seperti yang didongengkan penduduk selama ini.

” Altar itu selalu minta tumbal darah setiap tahun. Harus ada darah yang dikorbankan dan itu waktunya dalam dua hari mendatang” sesepuh desa itu berkata memperingatkan.

Dan itu berarti malam ini.

Merinding juga bulu kuduk Emde. Tapi ia harus bisa mematahkan kepercayaan penduduk ini agar para penduduk itu bisa hidup normal tanpa ditakuti oleh hal-hal mistis.

Jika ia berhasil melewati malam ini tanpa sesuatu yang terjadi (dan ia pastikan bahwa ia memang tak akan apa-apa) maka ia akan berhasil mematahkan mitos penduduk tersebut. Ia akan turun gunung dengan penuh kemenangan. Kepada teman-temannya dia akan minta agar mereka membawakan seorang gadis ayu atau janda rupawan karena menang taruhan. Syukur-syukur kalo sang janda merupakan orang kaya sehingga bisa sekalian ia kawini. Para penduduk desa akan menyambut nya dan mengeluk-elukan sebagai pahlawan. Ah, Emde jadi malu sendiri membayangkan karena ia sendiri tak menghendaki sambutan meriah seperti itu saat turun gunung.

“Aku pasti akan menang, akan ku minta seorang janda cantik atau gadis rupawan sebagai hadiah hahaha.” Teriak Emde di tebing itu untuk mengusir kesepian.

Puas berteriak Emde lantas menuju altar itu. Ia rebah disana dan ia agak heran mengapa hawa disini tidak dingin, padahal sudah hampir tengah malam waktunya saat ia melirik hp peninggalan Amrana. Emde tersenyum kecil karena ia tak akan menggunakan hp itu apapun yang terjadi, karena jika ia memanggil maka sama saja ia kalah. Malu ah sama bubu pacarnya, apalagi ia dengar kabar kalo Herman juga naksir bubu walaupun waktu ia desak Herman sebelum berangkat tour ini Herman sudah bersumpah bahwa ia dan bubu hanya berteman saja.

Saat ia rebahan, baru ia sadar kalo altar itu ukurannya pas sekali dengan tubuhnya. Tingginya sama dengan tinggi badannya, saat ia merentangkan tangannya juga ternyata pas. Ah, pasti hanya kebetulan batinnya lantas karena ia sudah mengantuk maka ia pun tertidur.

Entah berapa lama Emde tertidur, ia bangun karena mendengar ada suara langkah kaki menuju tempatnya. Ia pun membuka matanya dan terbelalak ketika melihat bubu pacarnya sudah ada didepannya tanpa sehelai benangpun. Ia tersenyum mengundang birahi lantas telentang disampingnya dengan pandangan mata yang menggairahkan.

Birahi Emde langsung naik, ia tidak sempat berpikir bagaimana bubu bisa ada di gunung batu lebih lagi ia tak sempat berpikir bagaimana bubu bisa bertindak seganjil itu. Padahal yang ia tahu bubu adalah gadis yang sangat memegang teguh kehormatan dirinya.

Selama pacaran ia hanya boleh memegang tangannya saja. Setiap ia minta lebih pasti bubu langsung menjawab.”halalkan aku dulu mas Emde, baru kau boleh menyentuh diriku.” Katanya sambil tersenyum manis membuat Emde mati kutu. Maklum, ia baru kuliah dua tahun dan orang tuanya sudah mengingatkan bahwa ia harus lulus kuliah dulu baru boleh menikah.

Pernah sekali ia nekad mencium pipinya bubu, sudah dapat ditebak apa yang terjadi. Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya dan selama dua minggu ia diacuhkan sama sekali oleh bubu membuat ia kapok. Akhirnya bubu mau lagi dengannya setelah ia mendatangi rumah nya dan ia memohon sambil berjanji bahwa ia tak akan mengulangi lagi perbuatannya. “maafkan aku Bu, aku khilaf waktu itu karena habis menonton film karena diajak Agus sama Kayana.”

Emde langsung saja membuka seluruh pakaiannya. Dengan tergesa-gesa ia pun membuka celananya lantas naik ke tubuh bubu.

Entah berapa lama ia bermain cinta, setelah puas ia pun terkulai lemas. Bubu lantas bangun. seperti datangnya, ia pun tanpa berkata apa-apa lantas pergi dan menghilang. Ah, apakah ini hanya khayalannya saja, apakah ia harus ceritakan pada teman-temannya besok kalo bubu datang. Pasti tak akan ada yang percaya apalagi kalo ia bercerita habis bercinta hahaha..

Emde tertawa geli sendiri. Tapi tawanya terhenti ketika ia mendengar suara.

Saat ia bangun dilihatnya puluhan manusia sudah berada disamping altar memandang dirinya membuat ia terkejut. Ada seorang tua yang didepan berbaju hitam, sepertinya ia pemimpinnya.

“Sudah kau nikmati bukan gadis rupawan sesuai keinginan terakhirmu anakku. Sekarang saatnya kau korbankan dirimu anakku.” Ia berkata, suaranya tajam dan berwibawa.

“Apa, apa maksudmu…”seru Emde tergagap. Orang tua itu tidak berkata apa-apa.

Orang tua itu membalikkan badannya. Emde reflek ikut menoleh dan terkejut ketika ia melihat ratusan, ah bukan ratusan tapi mungkin ribuan orang membawa obor memenuhi tebing tersebut sehingga suasana tampak terang benderang. Orang tua itu mengangkat kedua tangannya dan bersuara.”panen kalian akan dilipatgandakan. Petani, silahkan menyawah sambil berdendang. Pencari ikan, silahkan beternak ikan sambil memukul kendang. Pengantin baru, silahkan menanam benih sambil bergoyang.”

Suara riuh rendah memenuhi seisi tebing.

Pembicara itu mengangkat kedua tangannya sehingga suasana menjadi sepi dan hening. “Dengarkanlah kalian semua. Anak muda ini sudah datang mengorbankan dirinya. Kenanglah ia sepanjang masa dan ikutilah jejaknya.”

Suara tangisan pun terdengar dimana-mana, menyayat hati mengusik jiwa.

Orang tua itu menoleh kepada Emde.” Sudah siapkah kau anakku?”

Emde yang tahu ia hanya bermimpi lantas menyahut iseng.” Siap apa pak tua?”

“Mengorbankan dirimu, darahmu anakku.”

“Hei, kau terus menerus memanggil aku anakmu. Kau bukan ayahku, aku dapat pastikan itu.”jawab Emde. Tak apalah, ini pasti hanya mimpi walaupun ia heran juga kok mimpinya seperti nyata.

“Setiap orang yang datang kesini adalah anakku. Mari kita sudahi saja dan bersiaplah mengikuti upacara anak muda.”

Orang tua itu memberi isyarat. Empat orang bertubuh besar yang ada disampingnya lantas maju ke altar lantas memegangi tangan dan kakinya. Emde terkejut dan berontak sekuat tenaga sehingga empat orang itu agak kewalahan. Melihat hal itu beberapa temannya maju dan ikut memegangi Ende. Emde tambah takut, apalagi saat ia melihat keatas yang dilihatnya bukan bulan purnama tapi wajah wajah hitam yang tampak mengerikan.

Ini pasti hanya mimpi, pasti mimpi buruk emde membatin walaupun hatinya mulai merasa takut. Entah mengapa hatinya tiba-tiba bergidik apalagi ketika orang tua itu tahu tahu sudah memegang pisau yang berkilat.

Aku harus bangun batinnya. Ia menggigit bibirnya keras-keras sampai berdarah tapi tetap saja ia tak bangun dari mimpi buruknya. Sudah ia coba gigit lidahnya Sampai mulutnya terasa asin karena berdarah tapi mimpi buruk itu tetap berlanjut.

“Menepi lah kalian sedikit, biarkan aku menjalankan tugasku.” Berseru orang tua itu. Dua orang lantas menyisi memberi jalan membuat Emde makin ketakutan.

“Jangan takut anakku, pandanglah mataku dan kau tak akan merasakan kesakitan saat kau mengorbankan darahmu.”

Entah mengapa Emde menurut dan ia pun akhirnya berhenti berontak, entah karena kena sirap atau ia sudah putus asa karena tak bisa melepaskan diri.

Pisau diangkat tinggi-tinggi dan diayunkan tepat mengenai jantungnya. Emde tak merasa sakit sama sekali walaupun ia merasa ada cairan hangat yang keluar dari dadanya dengan derasnya. Matanya justru mengantuk dan semuanya pun menjadi gelap.

~ ~ ~ TAMAT ~ ~ ~

CIKANDE, 24 OKTOBER 2017

Terima kasih banyak buat bubu Ricky atas bantuannya.πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

12 tanggapan untuk “Altar Persembahan”

  1. “…dan paling banyak pengalaman dalam memanjat gunung…” kayaknya emang pak Amrana banget nih.. Hihihi..

    Orang yg suka ngeyel nasib akhirnya ngenes juga ya..

    Suka

  2. Beehaaa…Beeehaaaaahaaaa!!!..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Bubu datang tanpa sehelai benang….😱😱😳😳 Aaahh!! SiEmde matanya lamur kalii!!..Orang Herman dibilang Bubu..πŸ˜‚πŸ˜‚

    Harusnya orang tua yang menguliti tubuh Emde jangan nusuk jantungnya…Sunat aja burungnya Wuuhaaaa!!!..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s