Tagihan maut

Emde menerima gelas berisi martini yang disodorkan oleh susi istrinya. Malam itu Susi terlihat istimewa dengan gaun berwarna violet, kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat tapi malah menambah kecantikannya. Rias wajahnya sederhana tapi menambah kecantikan wajahnya, mungkin berkat jabang bayi yang sedang dikandungnya dan jabang bayi itu ikut bersuka cita karena ini adalah malam pesta pernikahan orang tua mereka yang kelima.

“Kau kelihatan gelisah..” Susi berkata sambil melempar senyum kearah satu dua tamu yang kebetulan melihat mereka.

“Ah tidak.” Jawab Emde sambil maju kearah Susi.” Justru kau yang terlihat pucat. Apa kau sakit?”

“Sebenarnya sejak tadi perutku agak tak enak.”

“Mengapa kau tak bilang dari tadi.” Gerutu Emde seraya ia mendekat dan meletakkan gelasnya di meja terdekat. Dilihatnya memang wajah istrinya tercinta nya agak pucat pasi.” Ayo istirahat.”

“Tapi mas, tamu-tamu kita…”

“Nanti akan kujelaskan. Mereka akan maklum kok. Wajar kalo hamil muda jadi mengalami gangguan.” Segera Emde memapah Susi untuk menuju kamar. Dilihatnya satu dua tamu undangan pesta perayaan pernikahan melihat mereka. Emde serta Susi melempar senyum lantas masuk kedalam kamar.

~ ~ ~

“Bagaimana, sudah mendingan?” Emde berkata sambil merebahkan Susi ke tempat tidur.

“Agak mendingan mas. Obat yang diberikan dokter Amrana memang manjur.” Jawab Susi sambil tersenyum.

“Beneran..?” Sahut Emde masih sangsi.

“Sudahlah, aku tak apa-apa kok. Ayo temani tamu undangan kita, jangan sampai mereka merasa dikucilkan.”

“Dengan keadaan kau seperti sekarang ini. Aku malah ingin mengusir mereka semua.” Jawab Emde serasa tersenyum. Melihat hal itu Susi pun gemas dan mencubit.

“Udah sana, beneran aku tak apa-apa kok.” Kata Susi. Emde pun terpaksa menurut sambil meletakkan HP disamping Susi sambil berpesan, kalo ada apa-apa langsung hubungi saja pasti aku akan kesini.

– – –

Sepeninggal suaminya Susi pun langsung rebahan di kasur. Kamar tidur milik mereka berdua terlihat indah dan nyaman karena Susi memang suka menghias kamarnya apalagi saat ada undangan seperti ini. Perlu waktu beberapa hari agar sesuai dengan selera Susi.

Sayang kepuasan nya diganggu oleh perutnya yang tiba-tiba melilit. Jangan-jangan ini ulah jabang bayinya. Ah biarlah nanti juga akan baikan sendiri walau Susi agak heran tak biasanya perutnya mengulah seperti ini.

Matanya yang indah lantas melihat keatas kamarnya. Ditengah kamarnya yang luas terdapat sebuah lampu hias terbaik yang ada di kota tersebut. Lampu itu berwarna emas dan jika dinyalakan maka akan menghasilkan warna yang menakjubkan. Ditengah lampu itu terdapat sebuah besi yang ujungnya lancip. Tapi ia tak khawatir karena ia sudah dapat garansi dari penjual lampu itu bahwa lampu itu tak akan jatuh biarpun ada gempa. Bagaimana tidak, lampu itu diikat sebuah rantai besi yang langsung menuju ke balok diatasnya dan diperkuat oleh puluhan baut terbaik. Lagi pula Susi juga suka lampu itu, terutama saat ia bercumbu dengan suaminya maka dari lampu itu memantulkan bayangan yang menambah gairahnya.

Entah mengapa mendadak birahinya timbul. Ah, mengapa ia tadi menyuruh suaminya pergi. Dan mendadak ia mengeluh karena perutnya berulah lagi.

– – –

Emde kembali ke dalam ruangan dimana pesta perayaan pernikahan nya dengan Susi berlangsung. Ia melempar senyum kepada satu dua tamu yang menyapanya. Hampir semua tamu undangan adalah kerabat dan juga rekan bisnisnya yang semuanya dikenalnya. Hanya satu yang tak dikenal yaitu seorang gadis berbaju merah muda yang kini sedang asyik berbincang dengan para tamu terutama dengan Kayana, salah satu anak buahnya di perusahaan miliknya. Gadis itu disanggul rambutnya yang menambah keindahan wajahnya dan agaknya sang gadis tidak sadar kalau ia diperhatikan.

“Suka dengan gadis itu ya.” Seru sebuah suara mengagetkan Emde. Ternyata yang datang adalah satria, rekan usahanya dalam penjualan perusahaannya.

“Ah kau mau tahu saja mas Satria.” Elak Emde.

Satria tersenyum kecil lantas mendekat. “kau tahu mas Emde, Kalau aku belum punya anak istri jujur saja aku juga tak malu mendekat kepadanya. Kalau boleh tahu siapakah namanya?”

“Aku sama malangnya denganmu bung”

“Masa, bukankah dia tamu undangan mu dan kulihat tak sampai 30 orang yang datang.” Seru Satria tak percaya.

“Aku tak mengundangnya.”

“Kulihat ia datang bersama dengan Kayana tadi. Kau lihat, ia bersama dengan Kay begitu akrab dan mesra.”

” Kau iri ya.” Seru Emde lantas menimpali “aku juga baru pertama melihat nya. Aku tadinya mau mengangkat Kayana menjadi manajer perusahaan menggantikan pak Aryo yang sudah masuk masa pensiun. Kayana memang tak begitu tampan tapi ia pandai mengatur administrasi dan juga agak dekat dengan karyawan sehingga ia bisa menjadi jembatan kalau ada konflik antara perusahaan dengan karyawan.”

“Wah rejeki Kayana besar sekali. Sudah mau jadi manager dapat gadis cantik pula.” Satria pun tertawa tapi tawanya berhenti ketika Vina istrinya datang. Vina menyapa Agus yang dibalas dengan anggukan. Satria dan istrinya lantas pergi meninggalkan Agus karena rekan bisnis Satria mau berbicara tentang perubahan perusahaan.

Setelah Satria pergi maka Emde kembali memperhatikan gadis bergaun merah muda tersebut. Coba rambutnya yang disanggul dilepas maka ia akan mirip dengan Wahyuni, gadis dari desa babakan yang dulu merupakan kembang desa tersebut dan Emde beruntung karena ia berhasil mendapatkan kembang desa tersebut. Tentu saja, dengan ketampanan wajahnya dan juga uang dari orang tuanya tak sulit baginya mendapat Wahyuni.

Emde memang pandai merayu dan akibatnya dapat ditebak. Wahyuni pun akhirnya mengadu pada Emde bahwa ia sudah hamil tiga bulan.

“Kita gugurkan saja.” Jawab Emde enteng.

Wahyuni menjerit.” Tidak mas Emde. Dari pada aku membunuh bayi ini lebih baik aku melahirkan anak tanpa seorang ayah.

Emde pun tak perduli. Saat itu ia sedang kuliah sambil mulai meniti karier di perusahaan milik orang tua nya. Wahyuni tentu saja kecewa berat ketika tahu Emde hanya tertarik pada kemolekan tubuhnya dan juga wajahnya dibandingkan hatinya. Ia pun kembali mengancam ketika Emde meninggalkannya.” Tak akan aku biarkan kau meninggalkanku begitu saja mas Emde. Akan kubuat kau malu dan juga keluarga mu.”

Emde hanya memikirkan kuliah dan juga karirnya.

Ancaman gadis desa seperti Wahyuni tak berarti apa-apa. Tinggal ia temui RT desa tersebut lantas memberinya banyak uang maka urusan beres. Sang RT lantas menemui orang tua Wahyuni, terjadi ribut sebentar memang tapi akhirnya orang tuanya mau menerima uang tersebut apalagi pak RT mengancam akan mengeluarkan ayah Wahyuni dari perkebunan tempat ia bekerja kalo mengajak ribut.

Dan ternyata Wahyuni memang nekad. Dua hari setelahnya Emde mendengar kalo Wahyuni bunuh diri dengan sebuah pisau panjang yang menembus jantung dan membawa bayinya ikut serta. Emde pun terkejut tak menyangka Wahyuni ternyata senekad itu.

– – –

Emde pun terkejut ketika banyak orang mengelilingi dirinya. Tanpa ia sadari bahwa gadis asing itu sudah ada disampingnya.

“Ada apa ini?” Seru Emde tak mengerti.

Beberapa tamu tertawa. Satria mendengus “Lantas buat apa kue ulang tahun yang besar itu mas Emde, hendak kau makan sendiri. Jangan menyesal kalau perutmu gendut karenanya.”

Suara tertawa pun memenuhi ruangan itu.

Emde pun tersipu malu. Segera saja ia maju ketengah ruangan.

“Mohon maaf semuanya. Aku tadi benar-benar bingung.”

“Tak apa-apa Emde, Aku tahu susi sedang tak enak badan. Aku tadi baru menjenguk nya dan ia sudah agak mendingan sekarang. Tapi sayangnya ia tak bisa kesini sekarang.” Seorang tamu pun menjelaskan membuat yang lain mengangguk-angguk.

“Tapi tak lucu ah kalo hanya ia seorang yang memotong kue ulang tahun. bagaimana kalo kita suruh Rini mendampingi.” Seru Satria yang usil.

Tepuk tangan tanda setuju segera meledak di ruangan itu mengalahkan suara musik lembut dari sound sistem yang diurus oleh pembantu Emde.

Rini, Rini siapa. Seingat Emde ia tak mengundang tamu bernama Rini ataukah ia sudah lupa. Baru setelah seorang gadis maju ke sebelahnya ia paham dan itu ternyata adalah gadis yang menjadi perhatian Emde dari tadi.

“Mengapa harus aku?” Katanya lembut memprotes.” Masih banyak yang lebih pantas…”

“Hai, tak baik menolak rejeki ini.” Seru Satria.

Seorang wanita paruh baya maju menengahi.”dari yang kami dengar, hanya nona Rini saja yang belum berkeluarga, sama dengan Kayana. Kan tak mungkin kita minta Kayana untuk menemani Emde memotong kue. Manfaatkan lah kesempatan baik ini, siapa tahu mendapat jodoh.” Katanya lembut.

Tepuk tangan dan tawa meledak di ruangan tersebut. Sebagian meledek Kayana yang jadi salah tingkah.

Akhirnya ia maju juga disamping Emde. Pipinya yang putih agak bersemu merah membuat parasnya makin cantik. Emde dapat mencium bau wangi semerbak dari badannya. Selain bau wangi semerbak, Emde juga mencium bau hawa udara pegunungan yang entah mengapa membuatnya menjadi tak enak dan menggigil.

“Hai Herman, mengapa kau buka jendela.” Seru Emde pada pembantunya.

“Semua jendela tertutup rapat tuan. Diluar memang ada kabut, mungkin itu sebabnya hawanya dingin.” Sahut Herman.

” Ah, itu alasan saja. Paling ia ingin Rini menghangatkan tubuhnya.” Seru Satria mencemooh.

Suara mencemooh tanpa maksud menghina bergema di ruangan tersebut. Karena didesak akhirnya Emde mengalah.”baiklah, aku harap nona Rini tidak ketakutan mencium bau keringatku.”

Emde dan Rini lantas maju ke tengah ruangan dimana terdapat kue ulang tahun pernikahan yang besar, bertingkat lima. Kue ulang tahun itu dibuat sendiri oleh Susi. Ia memang sangat suka membuat kue apalagi ini kue ulang tahun pernikahan nya jadi ia membuat secara hati-hati dan barulah dalam dua hari ia selesai membuat nya.

Emde mengambil sebuah pisau berkilat-kilat yang memang diperuntukkan memotong kue. Ia menoleh dan dilihatnya sang gadis bergaun merah muda mendekat padanya sambil tersipu. Ia berhenti disamping Emde lantas tangannya memegang tangan sang tuan rumah untuk ikut memotong kue.

‘tangannya dingin’ batin Emde kaget. Entah mengapa ia menjadi tak enak dan gugup. Tangan yang memegang pisau pun gemetar.

“Hei, Emde gemetar.” Seru seseorang.

“Pasti ia takut dipergoki Susi istrinya.” Ledek satria. Suara tawa pun kembali berkumandang.

Salah seorang tua maju menengahi.” Biarlah kita semua jadi saksi bahwa kita yang memaksa, Bukan Emde yang minta tangannya dijamah oleh perawan muda lagi cantik rupawan ini.”

Untuk kesekian kalinya gelak tawa pun meledak.

Suara tawa itu agak meredakan kegalauan di hatinya. Sementara sang gadis mukanya bertambah merah. Ia makin merunduk ketika mengikuti gerak pergelangan tangan Emde saat memotong kue. Suatu hasrat aneh merasuki Emde lantas ia menurut saja ketika tangan sang gadis mengarahkan pisau ke puncak kue ulang tahun itu dimana tampak sepasang boneka lilin khas Jawa diatasnya.

Lalu ujung pisau pun menusuk lambung boneka lilin, boneka pengantin wanita.

“Dia mau mengakahi kuenya, kita bakal dijejali lilin.” Sungut satria, antara mengomel dan menegur.

Emde tersadar. Ia segera menarik tangan lantas memotong kue. Potongan pertama ia kasih ke Kayana yang sedang diam saja melihat keberuntungan Emde.

“Jodohmu kali ini jangan ditolak.” Kata Emde. Kayana terkejut lantas memaki yang disambut gelak tawa yang lainnya melihat tingkah Kayana. Emde segera memotong kue sampai semua tamu mendapat bagian. Setelah selesai ia segera mengambil minuman yang di bawa pelayan lantas menghampiri Rini.

“Jadi namamu Rini ya.” Kata Emde membuat Rini terkejut karena ia tadi sedang ngobrol dengan seseorang.”ku kira kau Wahyuni.”

“Mengapa anda mengira saya Wahyuni?” Sahut Rini, sementara sang teman tampaknya maklum lantas pergi.

“Kau sangat mirip dengan seorang kenalan ku, namanya Wahyuni. Ia berasal dari desa Babakan Banyumas.”

“Oh ya?” Katanya heran, keheranan yang nampak dari ketidak mengertian.

“Iya, kukira tadi kau tadi saudara nya atau ada hubungan keluarga dengan Wahyuni.” jawab Emde.

” Benarkah?” Katanya, lantas tersenyum.” Saya sangat senang dengan cara perkenalan anda. Sayangnya seorang wanita keburu menjembatani antara kita bukan.”

Emde langsung blingsatan, merasa tersindir.

Ia pun lantas mengalihkan obrolan ke hal lain. Hal yang lucu-lucu sehingga Rini tertawa. Tiba-tiba seorang tamu wanita datang, masuk obrolan sebentar lantas mengajak Β rini pergi. Emde hanya bisa memandang kepergian Rini. Rini tak mungkin Wahyuni, batin Emde. Rini jelas terlihat seperti gadis kota yang terpelajar dan pandai bergaul sedang kan Wahyuni hanya seorang gadis kampung. Emde pun lantas pergi dan menuju ke tempat Kayana.

Kayana tampak gugup ketika Emde datang. Maklum, ia sedang melamun.

“Hayo, kau pasti sedang melamunin dia kan.”

“Dia?”

“Rini. Alah, tak usah berpura-pura Kay. Aku tahu kamu naksir dia bukan.” Seru Emde.

“Terus terang memang iya pak Emde. Sejak aku bertemu dengannya hatiku langsung merasa cocok.”

“Selamat, semoga saja kalian cocok dan bisa menikah.” Emde menimpali sambil menjabat tangan Kayana yang sumringah.”kapan kau bertemu dengannya?”

“Baru tadi pak.”

“Baru sekarang?” Kata Emde tak percaya

“Iya. Aku baru memarkirkan mobil yang kubawa saat kulihat ia turun dari taksi. Kulihat ia celingak-celinguk kebingungan. Saat itu ia menghampiri dan bertanya padaku apakah benar ini alamat pak Emde. Aku lihat memang ini alamatnya jadi aku ajak dia masuk. Kebetulan aku juga sendiri. Bukankah berdua lebih baik dari pada sendirian.” Jawabnya tersenyum.

“Tentu saja, ada bidadari datang mana mungkin kau lewatkan Kay.” Kata Satria tiba-tiba ikut nimbrung dari belakang.

“Aneh, aku tidak merasa mengundangnya.” Kata Emde.

“Oh, katanya ia menggantikan bibi nya yang sedang berhalangan karena tak enak badan.”

” Alah udah Gus, kau ini terlalu banyak kekhawatiran. Malah kulihat kau memandang terus ke Rini. Naksir ya. Awas, Susi bisa ngamuk kalau tahu.” Satria ikut menimpali.

“Diam kau brengsek. Sebaiknya…” Emde menghentikan perkataan nya karena dilihatnya seorang wanita separuh baya datang dan ia adalah bibinya Susi.

“Maaf aku mengganggu nih Emde. Kulihat Susi tak keluar juga. Apakah ia belum baikan.” Kata sang bibi membuat Emde tersentak dan malu.

“Maafkan aku bi, akan kulihat apakah Susi tak apa-apa.”Emde segera hendak beranjak tapi dicegah sang bibi.

“Tak usah Gus, tamu masih betah disini. Biar aku saja yang melihatnya. Tak enak pada para tamu.”

“Benar.” Jawab satria.”sekali kau usir kami Emde. Percayalah, kami tak akan sudi lagi menginjak kan kaki ke rumahmu ini” Satria menyambung sambil tertawa, tentu saja ia hanya bercanda.

“Baiklah. Tolong sampaikan pada Susi, setelah selesai aku akan segera kesana bi.” Bibi Susi mengangguk lantas pergi, memotong kue lantas menuju kamar Susi.

“Istrimu pintar bikin kue ya Emde” Seru Satria.

“Tentu saja, ia sudah menyiapkan semua ini sejak seminggu lalu.” Jawab Emde bangga.

“Ngomong-ngomong, istrimu suka membuat kejutan ya.”

“Maksudnya?” Tanya Emde tak paham.

“Lilin boneka ulang tahun itu, aku yakin isinya bukan hanya lilin. Mungkin istrimu menambah anggur dalam lilin. Mungkin ia membuat suatu ciri khas dirinya?”

“Anggur?”

“Cobalah kau lihat. Boneka lilin ulang tahun itu.” Kata Satria sambil menunjuk ke arah kue tar ulang tahun yang terletak di meja utama.

Reflek Emde berpaling. Entah mengapa hatinya merasa tak enak. Ia pun maju mendekat ke arah meja itu. Beberapa tamu undangan tampak juga sedang melihat boneka ulang tahun tersebut. Dari boneka pengantin wanita itu, tepat dibagian bekas tusukan pisau pemotong kue nampak cairan berwarna merah menetes-netes turun kebawah kue tar besar itu menghasilkan kesan seram dan menggetarkan.

Emde dan Satria maju mendekat untuk mengetahui cairan apa itu. Satria yang penasaran lebih dulu memegang cairan itu. Tadinya ia bermaksud untuk menjilati cairan itu tapi karena ia mencium bau tak sedap dari tangannya yang berlumuran cairan merah ia mengurungkan dan ganti mengendusnya.

“Ini darah Emde”

“Darah.” Emde tersentak dan hatinya merinding.

– – –

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara benda dari kaca jatuh, pecah berderai. Asalnya dari kamar tidur Susi yang baru dimasuki oleh bibinya. Semua orang serentak menoleh ke asal suara. Sepi senyap sejenak, seolah ada roh gaib yang datang merenggut seisi ruangan, membuat mulut terdiam, membuat jantung serasa berhenti sejenak.

Lalu tampak bibi Susi datang dari dalam kamar tidur susi. Ia datang terhuyung-huyung. Sebelah tangannya menutupi mulutnya sedangkan satunya memegangi dadanya. Ia membalikkan badannya dengan wajah pucat pacu, matanya membelalak seakan mau keluar. Sekonyong-konyong wanita separuh baya yang bertingkah aneh itu menjerit melengking menggetarkan dada semua orang lantas jatuh terkulai, pingsan.

Hampir semua tamu berhamburan menuju kamar tidur.

Hanya Emde seorang yang diam dingin membeku di tempatnya. Satria dan Kayana tersentak lantas segera kamar tidur Susi. Satu satunya tamu yang tak beranjak adalah Rini.

Rini berdiri tak jauh dari meja utama tempat kue tar berada. Wajahnya memandang Emde dengan polos, tapi sorot matanya membuat jantung Emde serasa berhenti berdetak.

“Ya Allah. Emde, cepatlah kesini.” Seseorang berteriak

Barulah Emde sadar. Ia segera menuju kamar tidur tempat Susi berada.

Susi masih ada di tempat nya. Masih berbaring ditempat sebelum ia tinggalkan.

Hanya matanya membelalak, tanpa sinar. Mulutnya terbuka tapi tanpa suara. Keduanya tangannya setengah terangkat keatas, seakan hendak menahan sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba datang tapi tak bisa ia hindari. Sesuatu itu kini hinggap tepat diatas tumbuh Susi.

Sesuatu itu adalah lampu hias kamar tidur yang ditempati nya.

Ujungnya yang lancip jatuh tepat diatas badan Susi, tepat dibagian jantung membuat sprei tempat tidur yang bersih kini bernoda darah.

Emde berpaling pucat, karena ngeri.

Reflek ia memutar badan. Nalurinya membuat ia langsung menuju ruang tengah tempat pesta.

Tapi dekat meja utama, tak seorang pun tampak.

Gadis asing itu telah lenyap.

Semua jendela dan pintu terkunci rapat. Tak ada yang berubah, semua masih seperti saat ia tinggalkan. Hanya kini, hawa ruangan yang tadinya dingin berangsur-angsur menghangat.

~ ~ ~ TAMAT ~ ~ ~

Cikande, 19 Oktober 2017

11 tanggapan untuk “Tagihan maut”

  1. Jadi itu pembalasan dari wahyuni ya? Nyeremin juga.
    Gk nyangka ya.. cuma karena udur2an kecil soal koma sampe sebegitu dendamnya dia, hmmm..

    Suka

  2. Sebelum komentar gw mau ketawa dulu..Beehaaahaaa!!…Beehaaahaaaa!!!..,πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Si dokter Amrana salah obat kali ngasih kesusinya…Beehaaahaa!!..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Seru ceritanya kang pas kue Tar boneka ada darahnya..πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

    Cuma cerita awal sedikit mati karena peran Amrana nggak dimainkan lagi Heehee!!.πŸ˜ƒ

    Cuma gini yaa!! Amrana suka sama Susi terus direbut Emde.. Amrana tahu kasus kematian Wahyuni sehingga ia selain jadi dokter juga berprofesi sebagai para normal pembangkit Arwah.😳😳

    Karena ia kesal sama Emde jadi Wahyuni target ia untuk menuntaskan dendamnya ke Emde..

    Tapi bisa panjang tuh cerita Behaaahaaaa!!..πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Soalnya pas acara pemotongan kue sampai akhir cerita horornya hidup banget.. Beehaahaaaa!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Maknyuslah kang..πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s