Pencekik Gila

Reny membuka pintu taksi lantas membayar. Hari sudah larut malam ketika ia sampai ke rumahnya. Salah ia sendiri keasyikan belanja di Mall jadi lupa waktu. Dilihatnya tetangga kiri kanannya sudah tak ada yang diluar. Jangankan sudah larut malam seperti sekarang, kalau sudah lewat maghrib aja sepi. Maklum, kompleks perumahan elite yang di diaminya memang membuat para penghuninya hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Jarang ada tetangga yang bercengkerama dengannya dan bagi Reny tak masalah. Maklum ia seorang wanita karir yang mana lebih mementingkan karirnya. Kehidupan rumah tangganya juga berantakan karena suaminya merasa Reny lebih mementingkan karirnya dibanding dirinya lantas suaminya selingkuh yang mana menyebabkan perceraian mereka.

 

Ceklek, bunyi suara kunci rumah pun menggema dalam rumahnya saat ia mengunci pintu. Ia memang harus mengunci pintu rapat-rapat karena ia mendengar kalo akhir-akhir ini didalam kotanya ada pencekik gila yang mengincar para wanita. Pencekik gila itu selalu beraksi tanpa meninggalkan jejak sehingga sulit ditangkap.

Reny membasuh badannya lantas memakai handuk. Tubuhnya sudah terasa segar dibandingkan tadi. Hanya dengan berbalut handuk ia pun lantas masuk kedalam kamarnya yang agak gelap. Maklum, Reny memang kadang mematikan lampu rumahnya kecuali lampu depan dan ruang tamu untuk menghemat pengeluaran. Ia lantas masuk kamar lalu mengunci pintu dan ia terpekik ketika menyalakan lampu dilihatnya sesosok manusia berdiri dipojok ruangan. Wajahnya tak kelihatan karena tertutup oleh topi lebar seperti di film film koboi. Ditangan kanannya tergenggam sepucuk pistol dengan memakai sarung tangan karet.

“Jangan berteriak nyonya. Anda tentu tak mau kepala anda yang indah itu dilubangi bukan!”

Reny hanya bisa mengangguk. Sang tamu tak diundang itu pun lantas maju dan membuka topinya.

“Kalau dalam kesempatan lain, mungkin aku akan tertarik dengan kemudaan dan ketampanan wajahmu.” seru Remy lirih sambil berusaha mengatasi debaran didada nya karena rasa takut.

“Kenapa tidak sekarang saja.”

“Singkirkan dulu pistolmu.”

Sang tamu misterius menggeleng. ” tak mungkin nyonya. Sekarang cepat naik ke atas tempat tidur. Tentu saja sebelum nya buka dulu handukmu.”

Remy tambah menggigil.” kalau kau macam-macam aku akan berteriak.” serunya walau dalam hati ia meragukan. Maklum waktu dulu membuat rumahnya mantan suaminya membuat kedap suara.

“Tak mungkin mereka mendengar nyonya karena ini ruangan tertutup. Jangan lupa, pistol ini juga memakai peredam suara. Sekarang cepat naik.” bentaknya. Melihat hal itu Remy menggigil. Ia sudah tahu apa yang diincar oleh tamu tak diundang itu karena ia sudah mendengar dari berita di tv. Sambil berusaha mencari akal maka ia terpaksa membuka handuknya secara perlahan dan tiba-tiba ia melempar handuk dan juga seprei tempat tidurnya ke arah tamu tak diundang. Remy lari sekencangnya kearah pintu sambil berteriak minta tolong sekeras-kerasnya tapi sayangnya karena ketakutan ia malah tak mampu membuka pintu. Tapi suara teriakannya terhenti ketika sepasang tangan langsung mencekik lehernya.

“Tadinya aku ingin memperkosamu di tempat tidur sayang, tapi rupanya kau lebih suka bermain cinta dilantai.” serunya lantas ia pun membanting Reny membuat Reny jatuh tak sadarkan diri.

~ ~ ~

Udin tergesa-gesa turun dari mobil lantas segera masuk menyeruak ke dalam garis polisi. Tapi langkahnya dihentikan oleh petugas. Terjadi perdebatan sebentar tapi akhirnya ia berhasil masuk juga kedalam rumah setelah menyebutkan sebuah nama.

“Nama korban pak?” seru Udin sambil memotret jenasah yang ada didalam kamar.

“Reny Sumiati.” sahut sebuah suara. Udin menoleh dan melihat kapten Herman yang dilihatnya berwajah suram.

“Ada kemajuan?”

Muka kapten Herman makin muram.”masih seperti subuh tadi ketika mayat guru tari itu ditemukan. Ia mati karena dicekik, baru setelah itu bedebah terkutuk melampiaskan nafsu binatangnya. Tak ada yang bisa dijadikan petunjuk. ”

“Oh ya, bagaimana dengan bekas suaminya?”

Kapten Herman angkat bahu.” ia memang salah satu yang menjadi sumber kecurigaan, tapi anak buah saya sudah mengecek alibinya saat pembunuhan terjadi dan ia bersih.”

“Wah.”

“Kau pikir cukup dengan wah saja?” gerutu sang kapten. ” bedebah terkutuk itu selalu saja bisa lolos dari pantauan kami. Setiap beraksi ia tak pernah lupa menggunakan sepatu karet dan juga sarung tangan karet. Setan, ia selalu bersih dan tak pernah meninggalkan jejak. ”

Udin pun ikut bingung. “Sudah korban kelima berjatuhan. Masyarakat sudah mulai resah. Kukira sudah tak ada korban lagi sejak dia ditangkap.”

“Dia!” sungut kapten Herman. ” kau tahu, sejak pembunuhan ketiga terjadi aku langsung menangkapnya karena ia punya hubungan dengan korban kedua. Tapi sayang nya meskipun pejabat itu kutangkap dan dipenjara tapi pembunuh itu ternyata masih berkeliaran. Dan kini ia menuntut balik kepadaku. Untung lah kau bisa membujuknya untuk mencabut tuntutan nya.”

“Salah kalian sendiri asal main tangkap saja.” seru Udin sambil tersenyum.

“Setan kau,” maki Herman. ” kau pasti punya kartu as sehingga ia mencabut tuntutan nya”

“Rahasia.” Udin menyeringai. “Kudengar ia membuat syarat untuk mencabut gugatannya padamu.”

“Ho’oh, ia mau mencabut tuntutan nya tapi dengan syarat aku bisa menemukan pembunuh istrinya. Ia memberi tenggat waktu sebulan dan kau tahu, besok adalah waktunya.” Kapten Herman kembali mengeluh.”ah, kalau saja kutemukan pelakunya, akan kucekik ia seperti ia mencekik para korbannya.

Udin pun ikut simpati.

~ ~ ~

Hari sudah larut malam ketika Udin meninggalkan lokasi TKP.  Benar memang ia bersimpati pada Kapten Herman karena Herman selalu memberikan jalan untuk mengambil foto ekslusif tiap terjadi kasus, beda dengan wartawan lain yang akan diusir oleh para petugas. Tapi mau bagaimana lagi, jika pelakunya tertangkap maka oplah korannya akan menurun karena tak ada berita yang menarik. Toh kalau pun Herman tak mampu memenuhi janjinya pada pejabat yang dulu ditangkap nya paling Herman hanya akan dimutasi.

Udin mengendarai mobil nya dengan santai. Sebagai wartawan ia tak boleh buru-buru, siapa tahu dijalan ada berita bagus untuk korannya besok.

Sebuah keramaian tampak didepannya. Udin pun melambatkan laju mobilnya.

Uh hanya berita remeh, gumamnya ketika ia melihat ada sebuah kecelakaan antara motor dan mobil dimana pengendara motor nya tampak sedang tergeletak. Udin tak berniat membantu karena di lokasi kejadian sudah ada petugas polisi dan ia pun tahu kalo masyarakat tak akan tertarik dengan berita kecil seperti itu.

Udin sudah capek berkeliling kota dan berniat pulang saja untuk istirahat sambil menunggu telepon yang masuk barang kali ada yang memberinya berita bagus ketika ia sudah sampai di pinggir kota. Dilihatnya di pinggir trotoar ada perempuan yang bertubuh tinggi dan langsing dalam keremangan malam. Maklum, banyak lampu tak menyala saat dipinggir kota. Udin pun memarkirkan mobilnya tak jauh dari situ.

Ketika Udin turun ia tahu ada di taman anggrek. Dilihatnya tak ada seorang pun disekitar situ selain perempuan bertubuh langsing tapi dadanya besar. Strategis benar, dilihatnya perempuan itu mendekat kearahnya.

“Halo.”

“Halo juga.” balas Udin yang lantas dibalas oleh sebuah kecupan di pipi.

“Masuk hitungan.” Udin pun melihat dan wajahnya ternyata lumayan cantik.

“Nanti saja sekalian sobat ku yang tampan.”

Mereka pun lantas naik mobil menuju keluar kota tapi di perempatan lampu merah ia putar balik dan kembali ke taman anggrek.

Perempuan itu tertawa. ” mau kesini aja kok berputar-putar, harusnya kita sudah bermain cinta dari tadi. ”

Udin tak menjawab. Ia mengambil sebuah bungkusan berisi sepasang sarung tangan karet dan juga ia melepas sepatunya dan diganti juga dengan sepatu karet. Tak lupa ia memakai topi stenson yang besar lantas keluar mobil dan menuju ke wanita tersebut.

Perempuan itu terheran-heran. “Aksi benar, kayak mau ke pesta saja.”

Udin tak menjawab. Mereka masuk makin dalam ke taman dan dilihatnya tak ada seorangpun. Udin pun membuka bungkusan lantas memakai sepasang sarung tangan.

Melihat sarung tangan itu mata sang perempuan membelalak.” kudengar…kudengar kau tak suka pelacur.”

Udin tersenyum. ” aku memang belum pernah mencoba pelacur dan karena itu aku ingin mencobanya dan kau adalah korban pertamaku. ”

Sang perempuan pun langsung menggigil ketakutan. ” jangan mendekat, atau aku akan..akan menjerit. ” ucapnya terbata-bata.

Udin menyeringai. ” disini tak ada siapapun sayang. Nah sebaiknya kau tak usah banyak mulut. Buka semua bajumu dan segera rebahan dibawah pohon.”

Tapi mana mau pelacur itu menurut. Segera saja ia berlari, tapi sayangnya karena terburu-buru ia pun tersandung dan jatuh. Ketika ia membalikkan badannya dilihatnya Udin sudah ada didepan nya. Perempuan itu pun langsung menjerit tapi suaranya tertahan di tenggorokan karena sepasang sarung tangan karet menjepit lehernya. Ia meronta-ronta tapi sayang jepitan itu laksana jepitan besi dan akhirnya lehernya pun terkulai.

“Ah, ternyata kau lebih cepat mati.” Udin menyeringai dan lantas merobek-robek semua baju yang ada ditubuh perempuan tersebut.

 

TAMAT

Cikande, 11 Agustus 2017

3 tanggapan untuk “Pencekik Gila”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s