Sebuah cerita dari supir taksi

Satria merapikan baju yang dibawanya lantas menuju terminal Bandung. Beruntung ia mendapatkan bis karena saat itu hari sudah larut malam. Kau beruntung bung, lima menit lagi kami akan berangkat dan ini merupakan bis terakhir seru sang kenek. Satria hanya angkat bahu, malas menimpali karena ia memang sedang buru-buru. Setelah membayar ongkos tiket, dengan sedikit berdebat karena Satria menganggap tarif terlalu mahal akhirnya ia bisa dapat kursi bis juga. Biarlah kursi dibelakang asal ia bisa sampai ke Jakarta besok untuk anak istri nya padahal dua hari sebelumnya ia baru pulang menengok bapaknya yang sakit. Bapaknya sebenarnya sudah memperingatkan agar besok saja berangkat nya, tapi telpon dari Vina sang istri membuat ia terpaksa balik ke Jakarta malam hari ini juga.

Bis melaju dengan kecepatan tinggi apalagi saat masuk jalan tol dan Satria pun tidur karena ia sudah ngantuk. Sayang ternyata ada kecelakaan parah di jalan tol dan terpaksa rute dialihkan lewat jalur lain. Bus pun melaju lewat jalur Purwakarta, pun begitu sopir tetap menjalankannya bis dengan kecepatan tinggi. Akibatnya di perempatan kali jati bus mengalami kecelakaan fatal. Bermula saat bus mencoba mendahului sebuah truk gandeng disebuah tikungan. nahas, dari arah depan sebuah minibus datang dari arah berlawanan dan kecelakaan pun tak terhindarkan.

Satria pun terbangun dan terlonjak dari tempat duduknya. Dilihatnya sebagian penumpang berlarian jejeritan keluar. Suasana benar-benar kacau balau. Satria duduk dipinggir jalan menenangkan pikirannya yang shock berat. Dilihatnya bus bagian depan dan belakang rusak parah. Bagian depan parah karena tabrakan dengan minibus sedangkan bagian belakang ditabrak oleh truk dibelakangnya yang tak sempat menginjak rem. Satria menyingkir agak jauh. Ia melihat keadaannya baik-baik saja tak kurang suatu apapun. Ingin ia ingin menolong orang-orang itu tapi ia ingat pernah menolong orang kecelakaan di Jakarta tapi ia malah dipersulit oleh polisi. Untuk saksi mata, untuk memberikan keterangan dan tetek bengek yang menjemukan. Satria merogoh sakunya meraih HP untuk memberi kabar istrinya sayang ia tak menemukan nya. Paling hilang saat kecelakaan tadi, biarlah. Akhirnya satria memutuskan untuk melanjutkan perjalanan saja.

Agak jauh menyingkir dari lokasi kecelakaan yang membuat ia sempat ngeri lantas ia menyetop kendaraan yang lewat untuk melanjutkan perjalanan. Sayang sudah satu jam ia menunggu tak ada kendaraan yang mau berhenti untuk membawa nya ke jakarta walaupun ia sudah melambai-lambai kan tangan. Dua bis sudah lewat, tak terhitung mobil pribadi dan truk, terakhir ia bahkan hampir celaka ketika ia yang kesal lantas sengaja menunggu ditengah jalan malah hampir ditabrak.

“Setan, apa mereka kira aku hantu hingga mereka tak melihatku.” umpatnya.”biarlah, biar hantu yang menolong ku pun aku tak perduli. ” teriaknya lagi.

Aneh bin ajaib, tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat didepan nya. Satria yang sudah capek menunggu berniat mengacuhkannya tapi dari dalam terdengar suara.

“Perlu bantuan bung?” seru sang supir lantas membuka pintu. Satria pun bergegas masuk lantas mengucapkan banyak terima kasih.

Sang supir ternyata masih berusia muda, mungkin sekitar 30 tahunan dari wajahnya. Wajahnya sebenarnya tergolong tampan walau ada garis-garis keras di mukanya. Mungkin karena jalan hidupnya. Semua gambaran itu Satria dapat dari cahaya lampu kendaraan yang berpapasan dengan kami.

“Kau belum memperkenalkan diri bung.” seru sang supir membuka pembicaraan membuat Satria tersipu. Satria pun lantas memberitahukan namanya.

“Oh, ternyata Anda Satria. Apa anda Satria pengarang cerpen di wordpress dan mywapblog. Aku salah satu penggemar mu bung.” serunya riang. Satria pun malu-malu (dan tentu saja bangga karena tak menyangka ternyata ada yang mengenalnya dan mengagumi karya tulis nya.)

“Aku mempunyai sebuah kisah, kisah yang cukup seru untuk kau buat bahan cerpen. Maukah kau mendengarkannya?” serunya. Satria hanya mengangguk saja untuk menyenangkan orang yang menolongnya. Bukan sekali dua kali ia mendapat bahan buat cerpen dari teman-teman nya yang katanya menarik dan bahan yang menarik itu ternyata hanya cerita biasa yang dengan mudah ia jumpai di mana-mana.

~ ~ ~

Ia ternyata menceritakan tentang dirinya sendiri. Ia mempunyai nama singkat yang gampang diingat yaitu Agus. Agus mengaku hanya lulusan SD. Sebuah ijasah yang tak akan berguna di zaman yang mana seorang sarjana S1 pun akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Beruntung ia mempunyai seorang Paman yang kaya dan baik yang mau membantunya dengan memberikan sebuah mobil taksi yang kini Satria tunggangi. Rute yang Agus tempuh adalah Jakarta-Bandung yang merupakan rute basah. Tapi ia juga menerima jika ada yang mau ketempat lain, tentu saja dengan ongkos yang sesuai. Kadang ia juga dapat penumpang bule yang sering memberikan tips berlebih, apalagi Agus cukup fasih berbahasa Inggris dan bisa mengajak bercanda.

“Aku tak diberikan wajib stor oleh pamanku. Berapa pun yang aku bawa selalu ia terima tanpa pernah protes. Hal itu justru membuatku hati-hati. Aku tak mau mencuranginya dan itu sebabnya hubungan kami baik-baik saja sampai sekarang.” terangnya panjang lebar sambil bercerita bahwa ia lebih suka penumpang bule karena berani bayar mahal.

Satria pun menguap, benarkan dugaannya. Melihat hal itu Agus tertawa lantas berkata.” Ok, sekarang cerita intinya bung. Aku jamin kau akan tertarik. Kalo kau bilang tak tertarik aku akan tendang kau dari taksiku ini.” ucapnya sambil tertawa dan Satria hanya bisa memaki saja dalam hati.

Aku baru pulang membawa sepasang suami-istri dari Jerman plus anak mereka yang masih gadis. Mereka minta diantarkan ke Bali dari Jakarta. Pengin keliling jawa, begitu alasan suaminya karena ternyata bule Jerman itu pernah bertugas di Jawa ketika Agus bertanya kok pakai taksi bukan pesawat terbang yang lebih cepat. Di Bali, anak sang bule yang cantik itu menggoda Agus yang memang berwajah cukup tampan, sayang Agus yang mabok karena perjalanan lewat pelabuhan Ketapang membuat gadis Jerman itu kecewa. Seminggu mereka di Bali lantas pergi lagi ke Bandung. Total dua Minggu ia mengantar kan sepasang suami-isteri dan anak mereka. Di Bandung mereka pun berpisah.

“Ini untuk istrimu.” seru istri sang bule lantas memberikan sebuah kalung permata oleh-oleh dari Bali. Agus mengucapkan banyak terima kasih. Sang istri tersenyum lantas mengiringi sang suami masuk ke hotel. Hanya tinggal sang gadis Jerman yang masih didalam taksi.

“Ayo ikut aku ke dalam kamar hotel. Aku juga akan memberikan oleh-oleh untukmu.” serunya lantas menarik tangan Agus. Agus sebenarnya ingin menolak tapi tangannya keburu ditarik oleh sang gadis. Di kamar hotel langsung memeluk nya lantas hendak menciuminya.

“Ah, pasti kau sikat gadis itu sepuasnya.” seru Satria sambil menyeringai.

“Huss, kau diam dong. Mau dengarkan cerita lanjutannya ngga?” jawab Agus yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Satria.

“Berapa usiamu nona”

“Lima belas tahun. Kenapa?”

Untung selama dalam perjalanan ke Bali Agus pernah cerita, bahwa di negeri ini lumrah kalo ada anak dibawah umur yang menikah, bahkan yang baru lulus SMP pun ada apalagi kalo sudah kecelakaan akibat hamil duluan.

“Kalo aku menidurimu nona cantik, ย kok sepertinya aku meniduri anak sendiri.” jawab Agus.

Sebenarnya sang gadis kecewa. Tapi setidaknya hiburan bahwa ia disebut gadis cantik oleh Agus sedikit mengobati kekecewaan nya. Dilepasnya kalung emas yang ada dilehernya. Untuk anakmu, seru nya lantas mengecup pipi Agus.

Hampir saja, batin agus. Pulang dari hotel Agus lantas mengebut karena ia ingin segera sampai rumah. Birahinya bergejolak. Jujur Agus mau saja mencumbui gadis Jerman tadi sampai puas. Tapi Agus merupakan sedikit dari supir supir yang ingat kalo ada istri yang setia menunggu di rumah. Ah, Reny memang baru dinikahi oleh Agus selama tiga tahun. Dan selama tiga tahun pernikahan mereka hampir setengah nya ia habiskan dijalan. Maklumlah, namanya juga supir taksi jadi kendaraan merupakan istri kedua. Tapi enaknya kalo sudah bertemu maka mereka bisa melepas rindu dengan syahdu. Lebih asyik dari pada waktu pacaran dulu.

Niat mengembalikan taksi ke rumah pamannya ia tunda dulu. Hasratnya yang sudah bergejolak harus dilampiaskan. Ia pun segera pulang ke rumah. Ditinggalkan taksi nya di pinggir jalan lantas Agus memasuki gang kecil yang menuju rumahnya. Gang tadi becek bertanda habis hujan dan tukang ronda pun tak kelihatan Batang hidungnya. Mungkin kedinginan jadi ronda dirumah pikir Agus.

Tak lama kemudian Agus sampai dirumahnya sendiri. Sebuah rumah kecil yang asri. Lampu halaman depan tampak menyala, tapi di bagian dalam gelap. Apa Reny ngambek karena lama ditinggal Agus, lantas pulang kerumah orang tuanya. bukankah ia sudah memberi tahu sebelumnya. Tidak, Reny tak mungkin begitu. Ia pemberani dan berpendirian teguh. ” aku akan selalu menantinya mas. Sendirian menantimu, konon lebih mesra apalagi kalau kau pulang tiba-tiba. ”

Agus lantas mengeluarkan kunci duplikat rumahnya. Ah reny, kau memang luar biasa. Kalau gadis Jerman itu Agus beri nilai 7 maka Reny ia kasih nilai 9, 10 sebenarnya kalau tak ada kudis di betis kanannya. Dan karena kudis itu ia pun bisa memberikan kode. Dilihatnya seisi rumah dalam keadaan gelap tapi mata Agus sudah biasa melihat dalam gelap karena ia biasa menarik taksi malam hari. Ia menuju kamarnya dan dilihatnya sesosok tubuh sedang tidur di ranjang.

“Hai gadis berkudis. Kau pilih harta atau nyawa.” seru nya lantas naik ke ranjang.

“Oh ternyata penjahat berpanu. Aku lebih memilih bermain cinta saja.” jawab Reny cekikikan. Melihat hal itu maka Agus pun langsung memeluk nya yang disambut oleh sang istri. Kalau kau sudah menjadi suami istri bertahun-tahun maka kau akan paham istri mu biarpun dalam gelap.

Dua kali mereka bermain cinta dan Agus dibuat takjub karena sang istri ternyata mempunyai gairah yang sama, ah ia pasti juga rindu kepadaku.

Kemudian:

“Mas, sudah lama rasanya aku tak jalan-jalan ya. Yuk jalan-jalan.” seru Reny.

“Aduh, masih capek mana ngantuk lagi.”

“Nggg..”

Rajukan Reny lebih gawat dari bentakan seorang langganan yang marah. Tanpa banyak cakap lagi Agus lantas memakai pakaian. Agus agak heran juga tak biasanya Reny merajuk. Tapi keheranannya hilang ketika Reny tersenyum didepan rumah menunggunya. Reny bergelayut manja dipundak Agus lantas mereka pun keluar rumah dan menuju taksi.

“Kau hendak kuantar kemana kekasihku?”

“Terserah kau sayangku.” jawab Reny sambil memeluk pinggang Agus. Agus pun menjalankannya mobil pelan-pelan.

“Hmm…bagaimana kalo ke rumah Paman. Sekalian aku melapor.” jawab Agus.

“Ayo, kenapa tidak.” sahutnya.

“Hei, biasanya kau menolak kalo kuajak kesana.” seru Agus heran.

“Aku tahu ia orang baik, tapi kebiasaan jeleknya itu.”

“Ia bisa berlaku adil Reny terhadap empat istrinya. Kukira itu tidak terlalu jelek.”

“Dengan sekeranjang lagi di luaran.” protes Reny.

“Yang penting ia bisa berlaku adil dan anak-anaknya juga sudah tahu kelakuan bapaknya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, apalagi aku yang hanya ponakan.”

“Uh, kau selalu membelanya.” sungut Reny

“Jangan lupa sayang, ia telah memberikan aku pekerjaan yang mana dari mobilnya kita bisa makan bahkan bisa mempunyai rumah biarpun kecil. Masih kurang, mobil taksi ini bersedia aku cicil sampai cicilannya habis. Tinggal beberapa bulan lagi dan mobil taksi inipun akan milik kita berdua.”

Kegembiraan Agus meredakan protes istrinya. “Kau bawa apa untukku kekasih?”

“Wah, tertinggal dirumah. Kau pasti akan terbelalak nanti saat dirumah. Aku dapat dari..”

“Orang-orang baik, aku percaya.”

“Dermawan lagi.”

“Ho’oh, jarang aku dapat penumpang seperti mereka.” Agus lantas panjang lebar tentang sepasang suami istri dari Jerman plus anak gadis nya. Tentu saja tak ia ceritakan tentang sang anak yang menariknya ke kamar dalam kamar hotel. Tanpa terasa mereka pun sudah sampai ke rumah Paman Agus.

“Kau masuklah duluan. Tak enak kalo aku yang muncul.” seru Reny, Agus hanya tersenyum karena ia tahu bahwa istrinya tak suka pada pamannya.

Agus membunyikan bel pintu. Sekali dua kali tak ada sahutan, baru setelah yang ketiga terdengar sahutan dari dalam.

“Siapa?”

“Aku Agus Paman.”

“Oh, ternyata kau gus” seru sang Paman lantas membuka pintu. Sinar matanya memperlihatkan kesenangan walau terlihat masih mengantuk.

“Sebentar Paman, aku panggil kan dia dulu”

“Dia?”

“Reny istri saya Paman.” jawab Agus.

“Oh tentu, jadi kau datang dengan…” sang Paman terbelalak. “Kau maksud Reny kemari bersamamu. Mustahil, ia…”

ucapan Paman Agus terhenti ketika ia melihat sesosok tubuh yang tiba-tiba sudah ada dibelakang Agus. Matanya membelalakkan seakan tak percaya. Reny tersenyum lantas berkata. Suaranya sayup-sayup seperti angin dari musim kemarau.

“Apa kabar Paman, apa kau baik-baik saja?”

Sang Paman tidak menjawab. Ia keburu semaput lantas pingsan jatuh tak sadarkan diri.

“Ayo kita pulang.” bisik Reny ketakutan.

Sebenarnya Agus ingin sekali menolong pamannya tapi Reny sudah menarik nya sekuat tenaga. Agus akhirnya mengalah apalagi dilihatnya anak-anak sang paman sedang menolong ayah mereka. Reny menarik nya ke mobil taksi lantas mereka pun pergi.

“Ada apa Paman jadi begitu.” ucap Agus karena tak puas dengan sikap istrinya.

“Besok mas juga tahu.”

“Besok, mengapa harus besok.”

“Sekarang mas, aku hanya ingin bersamamu saja.”

Selama dalam perjalanan Reny selalu memeluk nya seakan tak ingin melepaskan. Akhirnya mereka pun kembali ke rumah. Saat sudah sampai rumah Agus yang sudah mengantuk memutuskan untuk tidur saja. Reny tak keberatan, ia pun tidur disamping sang suami.

Mata Agus masih terasa berat ketika seseorang menggedor-gedor pintu rumahnya. Dengan malas Agus beranjak dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah tetangga sebelah nya dan sepupunya atau anak dari sang Paman. Sepupunya lantas menangis dan bercerita tak karu-karuan. Dari tetangga nya ia lantas tahu bagaimana mereka tahu ia ada didalam rumah karena taksi diparkir dipinggir jalan. Tapi kabar itu tidaklah penting.

Yang penting, kabar mengenai pamannya.

Orang tua itu ditemukan gantung diri pagi ini

Dan lebih mengejutkan lagi: biarpun Agus mencari kesana kemari dalam rumah ia tak menemukan Reny istrinya. Akhirnya sang tetangga dengan hati masghul bercerita bahwa reny telah meninggal dunia. Reny telah bunuh diri tujuh hari sebelumnya. Reny menenggak sebotol obat tidur dan usaha dokter di rumah sakit untuk menolongnya sia-sia. Reny menghembuskan nafas terakhir dengan meninggalkan pesan yang membingungkan semua orang. “Cepatlah pulang sayangku. Aku akan selalu menunggumu.”

~ ~ ~

Agus menangis terisak-isak.

Wajah supir taksi yang sebelumnya keras kini telah berubah menjadi selunak bubur. Tapi mobil tetap aman terkendali sehingga Satria tak perlu khawatir.

Satria sebenarnya ingin mengucapkan turut berduka cita tapi karena mengira ucapan tak berguna jadi ia diam saja. Setengah takjub setengah tak percaya mendengar kisah Agus. Istrinya tetap setia menunggu biarpun telah berpindah ke dunia lain.

Taksi sudah keluar dari kota Purwakarta ketika Agus melanjutkan ceritanya. Tak ada seorang pun yang tahu penyebab Reny yang dikenal tetangga periang dan baik hati itu bunuh diri. Hanya Agus yang tahu. Istrinya adalah orang yang memegang teguh dan tak suka membicarakan aib orang lain, apalagi jika itu aib keluarga. Jangan dikata lagi, bila itu menyangkut Paman Agus yang selalu Agus hormati dan junjung tinggi.

“Sebelum Paman bunuh diri, Paman menulis sepucuk surat pendek. Direkat rapat. Ditujukan untuk aku pribadi. Tahu apa isi nya?”

Satria hanya menggeleng kepala.

“Isinya…” lanjut Agus lirih.”bahwa ia minta maaf. Ia menyesali perbuatannya. Telah lama ia menaruh hati pada Reny. Telah berulang-ulang ia mencoba iman Reny tapi selalu gagal dan selalu pula Reny merahasiakan nya karena ia tahu suaminya sangat menghormati pamannya. Lalu terakhir, tiga hari setelah aku mengantar sepasang bule Jerman itu Paman mencegat Reny di mulut gang.

Ada kabar buruk mengenai suamimu. Ia kecelakaan di Surabaya, tapi masih hidup begitu tulis Paman. Reny pun menangis dan ia hanya menurut saja saat masuk ke dalam mobil pamannya. Didalam mobil pamannya memberikan minuman dan Reny yang sedang shock tanpa curiga meminumnya. Kepalanya langsung pusing dan ia pun jatuh tak sadarkan diri. Ia sadar saat ada didalam sebuah motel dan tanpa pakaian. Reny tentu saja menangis histeris tapi pamannya mengancam bahwa ia akan menghancurkan Agus kalo Reny berani cerita.

Dan Satria pun ikut merasa geram dalam hati.

Mobil pun berbelok menuju Depok ke rumah satria saat Agus melanjutkan ceritanya.

“Padahal itu tak perlu. Reny aku tahu tak akan pernah merusak hubungan baikku dengan Paman. Satu-satunya ia pernah mencoba adalah saat aku bertemu dengannya setelah ia bunuh diri atau lebih tepatnya roh Reny.”

Wah, hampir saja kebablasan karena asyik mendengarkan cerita Agus maka Satria lantas meminta Agus menuju jalan Pancasila. Agus lantas menjalankannya taksi nya pelan-pelan.

“Tahu mengapa aku dan Reny bisa keluar masuk gang rumah kami dengan bebas?” Agus mengajukan cerita yang lantas dijawab sendiri. ” karena kata orang gang dan rumah itu berhantu. Reny dengan caranya sendiri selalu berusaha agar orang tak mendekati rumah kami. Rupanya ia ingin dibiarkan sendirian, menungguku pulang. ”

Air matanya menetes lagi

Dan tak terasa pelopak mata Satria pun ikut basah.

“Apa yang terjadi kemudian?” kata Satria

“Aku hampir gila, tentu saja…”

“Dan?”

“…tanpa menghadiri pemakaman Paman aku keluar dengan mobilku. Aku ngebut gila-gilaan. Kucederai dua orang pejalan kaki, sebuah mobil yang menghalangi kulempar ke pinggir jalan. Tahu-tahu aku dikejar oleh dua mobil polisi. Tapi sudah tahunan aku mengemudi, dengan mudah saja kukecoh mereka.” Agus tersenyum, kaku.

“Begitu?” komentar Satria pendek, ingin tahu kelanjutannya.

“Tahu-tahu aku sudah diluar kota. Diluar kota itu aku ngebut makin menggila. Ntah sudah berapa sumpah serapah yang aku terima dan aku tak perduli. Aku menangis, memaki-maki dan juga menjerit tak karuan. Dan peristiwa itu pun terjadi.”

“Peristiwa apa?”

“Naas, di belokan tajam. Tak jauh dari bus yang kecelakaan tadi aku menyalip bus. Sayangnya dari arah depan ada sebuah truk besar dan…”

“Dan kau mampu menghindar?”

Agus menggelengkan kepalanya. “Aku ingin menyusul Reny istriku. Jadi bukan aku mengerem tapi aku pasrah saja.”

“Mustahil, tapi kau masih hidup.” Satria merasa bulu kuduk nya merinding.

“Sobat, mobilku hancur ringsek tak karuan. Setan pun akan mati apalagi aku cuma orang yang kesetanan hehehe.”

Ah omong kosong nya boleh juga tapi aku tak akan terkecoh, Satria akhirnya mengerti apalagi saat ia tertawa. Tak ada rasa seram. Ia tertawa seperti biasa.

“Nah, itu gapura nya. Apakah rumahmu sudah dekat bung Satria.” tunjuk Agus. Satria mengangguk. Ah, akhirnya sampai juga ia di rumah. Taksi pun berhenti di depan jalan raya saja karena ia tak ingin masuk ke depan rumah memakai taksi. Bisa ngomel Vina, pemborosan katanya. Apalagi dilihatnya dari kejauhan di depan rumahnya ada keramaian.

“Bagaimana menurutmu cerita ku bung?” Agus tersenyum.

“Wah luar biasa ceritamu gus, jujur saja aku tadi sempat takut.” kata Satria sambil keluar taksi.

Agus berdehem dari dalam taksi. “Ini semua karena ucapanmu sendiri bung.”

“Lho, apa maksudmu” seru Satria tak mengerti.

“Saat kau ada ditikungan tadi kau berkata. Biarlah hantu yang membawamu tak mengapa. Nah, ditikungan tadilah aku meninggal.”

Satria jengkel mendengarkan ocehan Agus. Bah, memangnya ia anak kecil yang bisa ditakuti. segera saja ia balik badan meninggalkan nya. Baru Satria sadar bahwa ia belum bayar ongkos taksi. Ah biarpun Agus menjengkelkan tapi toh ia sudah baik hati mengantarkan sampai kesini, mana dikasih sebuah cerita yang unik. Satria pun balik badan lagi untuk membayar tapi betapa kaget nya ia ketika tak melihat taksi tadi maupun Agus. Yang terdengar justru bunyi jangkrik dan anjing yang melolong dikejauhan.

Hampir pingsan Satria melihat hal itu,buru-buru ia masuk ke gang rumahnya walau dengkulnya gemetar. Ketakutan agak berkurang ketika ia melihat tetangganya sedang berjalan searah dengannya. Ia pun menyapa tapi diacuhkan. Satria sebenarnya jengkel tapi ia telan juga caci maki yang hampir keluar. Biarlah yang penting ia sampai rumah apalagi keramaian didepan rumahnya lebih menarik hatinya. Segera ia percepat langkahnya tapi kakinya serasa dipantek ketika ia tahu. Keramaian itu berasal dari sebuah ambulan dan ia melihat istri serta keluarga nya sedang menangis dirinya yang sedang terbujur kaku.

TAMAT

Cikande, 18 Juli 2017

23 tanggapan untuk “Sebuah cerita dari supir taksi”

  1. Seru banget cerpennya, aku harus banyak belajar dari tulisan Mas Agus nih heheheee…
    Bagian yg membuatku tertawa adalah saat Agus ngomong ke Reny :”Hai wanita berkudis..” Hihihi adududuhh gilaaak lucu banget

    Cerita misteri berbumbu horror komedy ini sungguh menyenangkan untuk dibaca, membuat para reader seperti saya yg lagi badmood sedikit terhibur

    Terima kasih Mas Agus
    Ditunggu karya selanjutnya.
    #keep writting

    Suka

  2. Jadi semua tokoh di cerpen ini hantu semua ya mas? Parah. Tapi keren, mata saya sempet merembes bca cerita agus.
    Btw siapa nama pamannya agus? Paknana bukan? ๐Ÿ˜›

    Suka

  3. Suueee!!! lhaa!! gw ternyata modar juga akhirnya.. Haaahaaa!!! PA… ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Feeling gw udah tahu kalau yang nganter gw juga setan ..๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ cuma akhir cerita gw dibuat keder ….yaaa!! ini mah setan makan setan..

    coba setan perempuan berkutil yang jadi sopir taksinya kan enak.. bisa setan & kesetaaannaannn!!!.. ketimbang setan panu Haaahaaaaa!!! ujung2nya gw modar juga PA..๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Kalau buat novel misteri bagus tuh Gus cerita yang sampean buat cuma 5 episode baru seru… tapi lebih dominan kisahnya cewek mati bunuh diri & bla2.lah..berkesan berliku ujung2 mati semua…maknyus kang..๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    Suka

    1. Aku juga sebenarnya mau buat dua atau tiga episode kang, cuma takut mood nulis ilang nantinya malah kacau. Jadi ya aku bikin satu episode saja.

      Tenang aja kang, nanti ada cerpen berikutnya buat kang satria. Judulnya pesugihan rongdo dan pasangan main kang satria adalah pak nana. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Suka

  4. Nulisnya ada yg gak bener, tuh.
    โ€œKernetโ€ , bkn kenek.
    โ€œSopirโ€ , bkn supir.

    Oh, jadi seorang Agus itu hanya tamatan SD, pantesan kalo bikin cerita bahasanya amburadulโ€ฆ yg baca, matanya sampek munyer2โ€ฆ

    Tapi, saya msh bisa paham dan mengerti, meski bola mataku munyer2 membacanyaโ€ฆ

    Jiiangkrikโ€ฆ

    Suka

  5. Ceritanya agak horor ya. Ada adegan ranjangnya segala. Wkwkwkwk
    Itu si Agus hebat banget. Meski lulusan SD, tapi fasih berbahasa inggris. Mungkin beliau sekolah SDnya di inggris.
    Nah, tuh Satria lebih hebat lagi. Nunggu kendaraan sambil berbaring di tengah jalan raya. Sakti dia. Hahahaha

    Suka

    1. Sekarang kan jaman internet mas jadi bisa pakai Google translate biarpun cuma lulusan esde.

      Itulah Satria guru saya kang, biarpun tiduran di tengah jalan juga bisa saja karena kesaktiannya udah setingkat Sinto gendeng.๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ฑ

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s