Ruang Bawah Tanah

Erika memandangi rumah besar yang terlihat didepannya dari kaca mobil. Sebuah rumah yang bagus dan juga megah walau sayangnya dikelilingi oleh tembok yang tinggi, Mungkin karena rumah tersebut agak jauh dari pemukiman warga. Tampak nya agak menyenangkan dan romantis untuk berduaan, tapi agak menakutkan juga karena tamu yang datang menjemput ku mengatakan bahwa ia tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Memang terdapat empat lampu yang menyinari di empat penjuru, sayangnya lampunya agak temaram. Belum lagi bulan yang sembunyi dibalik awan membuat suasana makin mencekam.

” dingin?” sapa seorang pria sambil membuka pintu mobilnya.

” ah tidak. ” sahut Erika lantas turun dari mobil. Ia perhatikan wajah laki-laki tampan didepannya lantas menyambung agak ragu.” benarkah tuan tinggal sendirian disini?”

” benar, kenapa?”

” ah tidak.” jawab Erika diplomatis.

” kau masih punya kesempatan untuk membatalkan date kita.” serunya.

Membatalkan, gila kalo Erika sampai melakukannya. Jarang ia mendapatkan tamu seperti malam ini. Seorang lelaki berwajah tampan dan bertubuh kekar. Belum lagi dengan setelan jas yang menandakan kalo ia orang berduit. Erika masih ingat ketika ia membayar Tante Mira dengan uang yang banyak. Untuk Tante Mira saja ia berani membayar mahal, apalagi untuk dirinya.

” nah diam tanda setuju. Ayo masuk, ” seru nya membuyarkan lamunan Erika. Erika pun lantas masuk ke dalam rumah yang megah tersebut. Walau ia sudah menduga tapi tercengang juga ketika melihat isinya. Didalam rumah itu semua perabotan serba luks dan bermerk. Ia pun tersenyum tipis lantas berbisik ditelinga Erika. ” jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri.” ujarnya lantas ia pergi, mau mengambil minuman katanya.

Tak lama kemudian ia datang lagi dengan dua gelas sloki dan sebotol anggur yang Erika tahu berharga mahal.

” bagaimana, kerasan? ” katanya yang dijawab Erika dengan anggukan kepala.

” aku heran mengapa tuan tinggal sendirian. Mengapa tak menikah.”

” sudah pernah.”

“Cerai?”

Ia menggelengkan kepala.

” kalo kau maksud cerai hidup tidak.”

” istri tuan meninggal ”

“Ah, janganlah kau panggil tuan. Sebut saja namaku biar kita lebih intim.” serunya lantas menyerahkan gelas berisi anggur tersebut.

” baiklah bung,..bung Herman. ” jawab Erika tersipu.

” ah pakai bung lagi, apakah susah bagimu memanggil namaku.” protesnya.

“Canggung aku menyebut namamu langsung…Herman.”

“Nah, begitu lebih baik. Anggap saja rumah sendiri. Dance?” katanya lantas tanpa menunggu jawaban Erika Herman memencet tombol dan suara musik mengalun syahdu didalam ruangan tersebut tapi entah mengapa di telinga Erika terasa menyeramkan karena musik itu menggema di ruangan tengah rumah tersebut yang sepi mencekam sehingga ia bergidik.

” dingin?” ujar Herman ketika ia melihat getaran ditubuh Erika.

“Hanya oleh minuman ini.” jawabnya sambil menyodorkan gelas yang lantas diisi dengan cekatan oleh Herman. Ia memandang Erika lekat-lekat. Sejuk dan teduh pandangannya  menentramkan hati Erika Sehingga Erika tak kuasa menolak ketika Herman mengulurkan tangannya lantas mereka berdua pun berdansa diiringi oleh suara musik waltz yang lembut.

“Tubuhmu hangat.” bisik Herman di telinganya.

“Mungkin oleh pengaruh minuman ini.”

“Tidak, tubuhmu memang hangat seperti yang aku dengar oleh teman-teman ku yang pernah berkencan denganmu.”

” Apakah teman-teman mu dari kalangan atas semua?” sahut Erika.

“Tidak semua, hanya segelintir saja. Beberapa temanku malah dari kalangan lower class dan juga berasal dari sekitar sini. Tapi entah mengapa mereka segan untuk bertamu kesini.” ia mengeluh.

” Mungkin mereka menyangka kau hantu.” gurau Erika.

“Hantu tak menapakkan kaki di lantai.” sungut nya.

“Atau mungkin kekayaan mu yang menghantui mereka.”

Herman menghentikan gerakan dansa nya sehingga membuat Erika agak menyesal. Ia menatap nya dengan murung dan pandangan matanya agak pudar.

“Apa kau pikir kekayaan ini bisa memberi mu kebahagiaan Erika?”

“Biasanya begitu.”

Herman mengendurkan pelukan ditubuh Erika lantas menjawabnya dengan suara getir.

“Kekayaan memang awalnya bisa memberikan aku kebahagiaan sehingga istriku tak tahan lantas menghambur-hamburkannya. Kalo cuma untuk beberapa model pakaian terbaru atau emas permata Ok lah, tapi ia berbuat lebih dari itu. Ia menghambur lebih dari kebutuhan badani.”

“Mungkin ia terlalu bergembira dengan apa yang ia miliki.”

“Lebih tepat nya ia terlalu bernafsu. Nafsu terhadap kebutuhan badani dan juga nafsu terhadap hasrat perempuan nya.”

Erika tercekat.”maksudmu ia selingkuh?” yang dijawab hanya dengan anggukan kepala.

Erika seharusnya menutup pembicaraan tak enak tersebut, tapi entah mengapa hasrat perempuan nya malah semakin ingin mengetahui.

“Kau bilang kalian berpisah dan istrimu meninggal. Apakah jalan yang kalian tempuh jalan yang baik.”

“Ah sudahlah, tak baik membicarakan orang yang sudah meninggal bukan. Sebaiknya kita bicara tentang kita berdua saja.” Erika setuju dan mereka pun makin larut dalam alunan musik dansa.

~ ~ ~

Erika terbangun karena mendapat mimpi yang amat buruk. Dilihatnya pakaian yang ia miliki ada dibawah tempat tidur. Segera ia berpakaian selekas mungkin, karena biarpun Erika seorang wanita panggilan ia tahu bagaimana caranya menyenangkan tamu dan juga menata dirinya sehingga ia tidak dianggap wanita murahan. Ia heran mengapa ia bermimpi sangat buruk, padahal ia barusan menghabiskan malam yang luar biasa dengan Herman.

“Herman.”

Panggilan Erika hanya menggema di ruangan kamar sehingga Erika diam-diam bergidik. Ia turun dari kasur lantas keluar ruangan tersebut. Dilihatnya ruangan yang luas dan sepi yang menyentak apalagi ditambah cahaya lampu yang temaram membuat suasana makin mencekam.

“Herman…”

Kembali  ia berseru memanggil tapi seperti yang pertama, tak ada sahutan sama sekali dari tuan rumah. Erika mengeluh, entah mengapa ia punya perasaan tak enak apalagi kalo teringat mimpi buruk nya barusan. Ia pun mengambil keputusan untuk keluar saja dari rumah megah tersebut, persetan dengan bayarannya.

Saat ia hendak keluar, dilihatnya dari arah koridor rumah lampu kecil yang menyala. Seingat Erika saat ia datang koridor tersebut gelap gulita. Entah mengapa ia tertarik ingin kesana dan bergegas ia menuju ke Koridor tersebut. Ternyata koridor itu mempunyai sebuah ruangan ke bawah tanah. Erika yang penasaran lantas  menuruni tangga demi tangga. Entah berapa lama ia turun sampai ia tiba di sebuah ruangan. Didalam ruangan yang temaram itu, ia melihat herman dan seorang wanita berambut pirang yang tak dikenal nya. Wanita itu sebenarnya cantik, tapi mukanya yang pucat menandakan bahwa ia sangat ketakutan.

“Benarkah kau mencintaiku Maria.” di dengar nya Herman berkata.

“Aku sungguh mencintaimu suamiku.” sahutnya membuat erika terkejut. Bukankah Herman berkata istrinya sudah mati.

“Apa buktinya.”

“Bukankah sudah kuserahkan tubuh ku bulat-bulat untukmu.” jawabnya hampir menangis. Erika menggigit bibirnya. Sakit, itu berarti ia tidak bermimpi.

“Hahaha…” Herman tertawa terbahak-bahak. ” kau memang menyerah kan tubuhmu, tapi bukan cuma buat aku seorang. Jangan kau kira aku tak tahu apa yang kau lakukan dengan tukang kebun itu. apa kau pikir aku tak tahu Maria. Kalian bermain cinta dibelakangku.” dan dengan kalap ia memukuli wanita bernama Maria.

“Ampun mas Herman, ampuni aku.” ia memohon menghiba.

“Percuma aku mengangkat mu dari tempat pelacuran. Sekali pelacur kau tetap pelacur. Lebih baik kau mati saja Maria. Akan kutimbun jasadmu di ruangan ini dengan semen sehingga tak seorangpun tahu.” dan entah dari mana Herman tahu-tahu memegang sebuah pedang dan dengan membabi buta ia membunuh dan memotong mayat Maria sehingga lantai itu bermandikan darah.

Erika terpekik. Ia sungguh tak menduga kejadian tersebut. Pekikan Erika membuat ruangan itu temaram. Dilihat nya lantai ruangan itu bersih. Tak ada potongan tubuh atau banjir darah yang mengerikan. Erika menarik nafas lega. Ah, ternyata ia sedang berhalusinasi. Ia pun berbalik dan hendak melangkah pergi. Sayang langkahnya terhenti ketika ternyata Herman sudah ada dibelakangnya dengan menggenggam sebuah pedang.

“Kau melihat kejadian itu bukan?” Herman menyeringai mengeluarkan suara, suara yang entah mengapa terdengar sangat mengerikan di telinga Erika, beda dengan saat pertama ia datang.

“Aku…aku…” hanya itu suara yang bisa dikeluarkan Erika.

“Ya, kau sama saja. Semua pelacur sama saja. Kalian suka berkhianat. Sama seperti Maria. Kalian semua hanya mau uangku. akan kubunuh kalian semua para pelacur.”

“Jangan, jangan bunuh aku.” Erika beringsut mundur, Herman mendekat. Erika semakin mundur sampai punggungnya menyentuh dinding tembok. Herman menyeringai, dengan ganas ia pun mengayunkan pedangnya dan semua menjadi gelap bagi Erika.

 

TAMAT

 

tegal, 21 juni 2017

 

 

5 tanggapan untuk “Ruang Bawah Tanah”

  1. Haaahaaa!! Ternyata siherman OM senang berdarah dingin… gile bener.. lha kalau semua pelacur dibunuh kenapa dicari Hermaaan!!! kejam sekali dikau.. 🙄

    kalah deh genk motor sama pedangnya 😛

    Nulis cerpennya jauh amat sampai ke Tegal kang… apa udah mudik toohh!! 😛

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s