Kereta Malam

Herman termangu di depan stasiun kereta, sudah lebih dari satu jam ia menunggu tapi tak satupun kereta malam yang datang untuk membawa nya pulang. Diam-diam ia merutuk dalam hati. Ah, kalo bukan karena Rany pacarnya tentu ia tak akan sesial sekarang.

Tadi sore ia sudah berdandan serapi mungkin lantas menuju tempat Rany, sang kekasih pujaan hati yang dikenalnya lewat FB. Sayangnya justru kenyataan pahit yang harus ia terima. Ternyata Rany malah sudah asyik dengan kekasihnya yang baru. Adu mulut tentu saja terjadi bahkan nyaris terjadi adu jotos, beruntung sekelompok orang yang lewat segera memisahkan, sebab jika sebuah bogem mentah mendarat di tubuh lawan nya maka dipastikan ia bisa menginap gratis di kantor polisi karena ternyata ia putra dari kepala desa tersebut.

Herman melirik jam tangannya, sudah pukul 11.30 malam. Diam-diam ia menyesal tak menuruti nasehat penjaga peron stasiun tadi agar mencari angkutan lain, cuma berhubung hatinya sedang kesal maka ia acuhkan. Herman melirik kiri kanan dan baru ia sadari bahwa ia sendirian di stasiun tersebut, padahal biasanya ada dua tiga orang yang kurang beruntung nasibnya menjadikan stasiun tersebut sebagai hotel gratis untuk bermalam. Darahnya agak berdesir ketika ia teringat akan berita yang ia baca bahwa beberapa hari yang lalu ada seorang yang terbunuh secara mengenaskan di stasiun yang ia injak karena orang tersebut menjadi korban perampokan dan mayatnya baru ditemukan esok harinya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang dan Herman menarik nafas lega ketika ia melihat seorang pemuda seumuran dengannya sedang berdiri tak jauh darinya membawa sebuah koper. Segera ia mendekat agar ia bisa bicara dengannya untuk mengusir sepi.

“Mas, hendak kemana nih malam-malam begini? ”

Pemuda itu tak bergeming. Jangan kan menyahut, melirik pun ia tidak membuat hati Herman agak geram. Kalo saja ia tak butuh teman ngobrol untuk mengusir sepi sudah tentu ia tinggalkan pemuda sialan itu, tentu saja dengan beberapa makian yang ia hadiah kan sebelumnya.

Ah, barangkali saja ia sedang mendengarkan musik sehingga ia tak dengar batinnya walau ia tak melihat headset di telinganya. Saat Herman hendak lebih mendekat tiba-tiba dari arah samping sebuah sinar terang menyilaukan mata mendekat. Herman bernafas lega karena akhirnya ia bisa pulang walau kereta tersebut terlambat. Saat kereta tersebut berhenti persis didepannya, sang pemuda tersebut langsung mengambil koper dan masuk mendahului Herman membuat Herman agak dongkol karena lagi-lagi ia kalah.

Begitu Herman masuk, tak lama kemudian kereta tersebut langsung berangkat membuat Herman agak heran karena biasanya kereta api akan berhenti agak lama di stasiun biarpun penumpang sedikit atau tak ada. Ah, mungkin masinisnya tahu ini sudah tengah malam sehingga tak mungkin ada penumpang lain batin Herman. Herman segera mencari tempat duduk dan dilihatnya cukup banyak juga penumpang membuat hatinya agak heran karena bukankah ini sudah tengah malam. Ada sebuah bangku yang kosong dipinggir jendela dan Herman tanpa permisi segera saja duduk. Ia mengedarkan pandangannya dan tak menemukan pemuda yang naik tersebut. Ah persetan dengannya, rutuk Herman.

Setelah penat ditubuhnya agak hilang baru Herman menyadari bahwa suasana didalam kereta tersebut agak ganjil. Semua penumpang hanya terdiam tak ada yang berbicara. Ia menengok penumpang disebelah nya dan tercekat karena ternyata ia bermuka pucat pasi.

Kereta hantu, batinnya menggigil. Ah tak mungkin, mana ada di dunia ini hantu apalagi ada kereta yang khusus memuat para hantu walau ia pernah dengar juga dari teman-teman kalo ada sebuah kereta yang mengalami kecelakaan yang mengenaskan, hampir seluruh penumpang nya meninggal dan menjadi kereta hantu. Untuk menenangkan pikirannya Herman mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan.

“Mas mas, siapa sih yang menyalakan kemenyan?” tiba-tiba penumpang disebelahnya berbicara.

“Entahlah, mungkin pemuda yang baru masuk membawa koper tadi. Kasihan ia, kudengar ia baru pulang lembur ketika segerombolan pemuda berandalan datang dan membunuhnya hanya gara-gara ia tak membawa uang berlebih. Kudengar mayatnya baru ditemukan pagi hari nya dengan puluhan luka tusuk.” sahut penumpang disebelahnya lagi membuat tanpa sadar rokok yang dihisap Herman terjatuh.

Dan kereta pun terus menderu menembus kegelapan malam.

 

Cikande, 08 Juni 2016

 

28 tanggapan untuk “Kereta Malam”

      1. Pengennya sih tema nya tentang cinta, tapi boleh deh tentang horror juga gak apa-apa, apalagi kalo ditambah bumbu komedinya sedikit ahihihiiiiiii pasti lebih seru..

        Makin banyak menulis, makin kreatif.. 🙂
        Good writing Mas Agus.
        #Julomde

        Disukai oleh 1 orang

  1. Pas banget di malem jum’at. Endingnya….

    Jadi.. sebenarnya, sekelompok orang yg lewat depan rumah Rany itu bukan memisahkan, tapi justru malah menghajar Herman hingga….. Yaah, yg naik kereta itu kan hantu semua… Hiiii…..

    Suka

  2. Waaahhh!! kayanya herman idola & lagi naik daun yaa!! semua film ia bintangi…haahaaa!! PA..

    Harusnya dikereta ada kuntil anaknya kang biar herman dicekik…kuntilanaknya mirip reny gitu..😂😂😂😂😂😂

    Suka

  3. semalam sengaja Maya lewatkan cerita ini, udah malam Jum’at mati lampu lagi
    rencana mudik pakai kereta malam, ah batal kalo gitu

    kok buat cerita serem sih?
    Temanya yang romantis gitu atau yang lucu, jadi nggk dugem pulang terawih baca cerita nya

    Suka

      1. bagian ini..

        “… Adu mulut tentu saja terjadi bahkan nyaris terjadi adu jotos, beruntung sekelompok orang yang lewat segera memisahkan, sebab jika sebuah bogem mentah mendarat di tubuh lawannya maka dipastikan ia bisa menginap gratis di kantor polisi karena ternyata ia putra dari kepala desa tersebut.”

        pertinyi’in saya, maksud dr ‘putra dari kepala desa tersebut’ itu siapa?

        Suka

  4. bagian ini..

    “… Adu mulut tentu saja terjadi bahkan nyaris terjadi adu jotos, beruntung sekelompok orang yang lewat segera memisahkan, sebab jika sebuah bogem mentah mendarat di tubuh lawannya maka dipastikan ia bisa menginap gratis di kantor polisi karena ternyata ia putra dari kepala desa tersebut.”

    pertinyi’in saya, maksud dr ‘putra dari kepala desa tersebut’ itu siapa?

    Suka

    1. Lho, apa yang amburadul?
      Putra dari kepala desa itu ya pacar barunya Rany. Masa putra kepala desanya Chacha, jeruk makan jeruk dong.:v
      Masa harus dijelaskan sedetail-detailnya sih. Ngga seru menurutku.

      Suka

    1. Maaf cha, kemarin lagi ada masalah jadinya jawab komentar nya asal saja. Maaf ya, jangan ngambek dong.
      Senyum dong, biar cakep gitu. ;).

      Suka

  5. Padahal saya sendiri nggak ada masalah tuh, asik aja dibacanya. Tapi biar seru, saya boleh ikutan kan? Hihihi…

    Mungkin menurut chacha:

    “ia” sebelumnya kan buat Herman, dan “ia” selanjutnya (tapi masih dalam satu kalimat) kok jadi buat pacar barunya Rany…?

    Bisa jadi karena kalimatnya kepanjangan.

    Kemudian….
    “putra dari kepala desa tersebut”

    Enaknya gini kali ya:
    “putra dari kepala desa daerah tersebut”

    Bisa juga:
    “putra dari lurah desa tersebut”

    Atau langsung aja
    “putra kepala desa”

    Gmana mas agus, chacha udah layak kan dijadi’in pemeran selanjutnya? Nggak perlu romantis juga, bikin yg tragis aja sekalian. Hehehe…

    Suka

    1. Kalo dilihat chacha itu masih anak sekolah dan memang kalo disekolah itu wajib mengikuti EYD, jadi mas Kay harap maklum ya. Maksudnya harap maklum itu aku cuma lulusan SD saja jadi bahasa Indonesia nya kurang bagus apalagi memang aku dapat nilai dikit kalo bahasa Indonesia.

      Pengin juga sih bikin pemerannya chacha, tapi dia anak santri jadi kan ga cocok buat peran Kunti
      Kalo perannya yang cocok itu apa ya?
      Takut ngambek ntar malah aku diblokir kayak teman kita.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s