Cinta

Herman mengenalnya saat ia sedang kondangan ke salah satu teman kerjanya. Sang empunya hajatan rupanya hanya mempunyai uang pas-pasan sehingga hanya menggelar hiburan layar tancep. Film yang diputar rupanya bercerita tentang suatu pembunuhan, dan ketika sang pemeran utama dikejar dan hendak dibunuh maka semua penonton pun menahan nafasnya karena tak ada kesempatan untuk kabur.

“Tidaaakkkkk!!” sebuah jeritan keluar dekat sekali dengan telinga Herman disusul oleh sebuah tangan langsung menarik tangannya Herman. Rupanya ia seorang perempuan muda dan dari wajahnya jelas ia sangat ketakutan, karena Herman dapat merasa detak jantungnya yang berdegup kencang karena tangan Herman ternyata menempel di dadanya.

“Oh maaf..” serunya ketika Herman hanya melongo saja memandang wajahnya. Segera ia melepaskan tangannya.

“Tak apa-apa dek, sendirian nih?” sahut Herman yang serasa dapat rejeki nomplok, lantas tertawa tapi tawanya segera berhenti ketika seseorang dibelakang menyeletuk.”ada yang lucu bung?” membuat Herman merasa malu.

“Itu, sama temanku” sahut sang gadis lantas menunjuk seseorang. Herman mengenalnya sebagai Kayana teman kerjanya. Rupanya Kayana sedang khusuk menonton filmnya sehingga tak melihat kejadian tadi. Beruntung lah karena jika ia melihat ia akan usil. Ternyata ia pun tahu diri lantas pergi menuju ke tempat Kayana tanpa sempat Herman bertanya lebih jauh.

~ ~ ~

Eny, rupanya itu nama gadis yang membuat Herman penasaran. Beruntung ia cukup dekat dengan Kayana di tempat kerja sehingga ia bisa memperoleh banyak info tentang Eny. Ternyata Eny dan Kayana merupakan saudara sepupu. Melihat Herman banyak bertanya tentang Eny maka Kayana pun langsung menggodanya.

“Wah, rupanya ada yang sedang jatuh cinta nih?”

“Ih, mau tahu aja.”

“Serius ngga nih, kalo serius aku bantu nih?”

Tentu saja Herman segera mengangguk karena sejak pertama melihat Eny, Herman langsung jatuh cinta. Dari Kayana akhirnya ia tahu apa saja kesukaan Eny. Tapi ia juga diberitahu kalo Eny ternyata juga seorang penakut. Herman berpikir tak masalah karena sebagai laki-laki maka ia Β akan melindungi nya. Kayana yang melihat hal itu lantas membisikkan sebuah rencana agar Herman bisa lebih dekat dengan Eny karena ia tahu Herman orang baik dan kalem.

“Wah gila lu, bagaimana kalo terjadi apa-apa.” ujar Herman ketika mendengar rencana Kayana.

“Pokoknya tak apa-apa lah. Biar nanti aku yang tanggung” Β jawab Kayana meyakinkan.

~ ~ ~

Malam itu Herman pergi ke pasar malam bertiga dengan Eny dan Kayana. Saat sedang belanja tiba-tiba Kayana pamit karena ia punya suatu urusan. Melihat hal itu maka Eny pun bersungut-sungut.

“Apaan sih, dia yang ngajak tapi malah sekarang pergi” rungut Eny cemberut tapi dimata Herman malah ia tambah manis.

“Tenang saja Eny. Nanti aku antar deh pulang kerumahnya.” akhirnya Eny pun menurut dan ia pun bisa tenang.

Tak terasa hari sudah malam dan Eny pun lantas meminta pulang. Terpaksa pulang jalan kaki karena motor dibawa Kayana. Ternyata jalan yang menuju rumahnya harus melewati pekuburan tua yang akhir-akhir ini sedang jadi pembicaraan ketika seorang tukang ojek mengantar seorang wanita dan di pekuburan itu wanita itu minta diturunkan lantas menghilang membuat tukang ojek sial itu demam selama tiga hari. Agak ngeper juga hati Herman apalagi setelah ia ingat kalo ternyata sekarang malam Jumat. Ditambah bulan juga ketakutan sembunyi dibalik awan membuat jalan makin gelap gulita.

“Aku sudah kapok lewat jalan ini mas.” Eny bicara.

“Lho, tapi kok mau saja.” sahut Herman.

“Habis tak mungkin lewat jalan satunya yang memutar, bisa capek dan nanti aku diomeli sama bapak karena terlalu malam.” jawabnya yang membuat Herman agak menyesal karena sebenarnya Eny dari tadi minta pulang tapi Herman malah menahannya dan semua tukang ojek langsung menyingkir tak ada yang mau mengantar begitu tahu arah tujuan mereka.

” bau apa ini Eny?, kok seperti bau kemenyan. ” seru Herman ketika mereka sampai di kuburan tersebut. Eny bukannya menjawab tapi malah merapatkan tubuhnya yang gemetaran. Melihat hal itu Herman yang sebenarnya tak percaya hantu pun bulu kuduknya ikut berdiri. Herman hampir pingsan ketika ia melihat asap putih dan sebuah suara serak dari arah sebuah makam.

“Aahhhh!” Eny menjerit dan ia pun terkulai. Herman yang melihat hal itu tambah gugup. Tapi tiba-tiba otaknya masih sempat berpikir. Segera saja ia berteriak.

” kambing kau Kay, Eny pingsan nih.” sungut Herman ketika Kayana yang tertawa-tawa keluar dari sebuah pohon.” sini kau.”

“Ah masa sih?” jawabnya tak percaya. Ia segera saja mendekat dan ikut bingung ketika melihat Eny ternyata sudah pingsan.

“Wah bagaimana ini. Aku bisa dihajar oleh Paman kalo ketahuan aku yang bikin ulah.” Kayana garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Herman pun ikut bingung karena tak menyangka begini akhirnya. Kayana yang jail Lantas menyambung sambil nyengir. “Sudah, kau buat saja pernafasan buatan supaya ia siuman tapi jangan bilang-bilang ya.”

“Ah rese kau, mana mungkin aku lakukan itu.” wajah Herman pun memerah. Herman bingung antara ingin menuruti ide sableng Kayana apa tidak.

“Tak perlu, aku bisa bangun sendiri.” Eny tiba-tiba bangun lantas berkacak pinggang melototi kami berdua yang langsung membuat kami tergagap.

“Apa kalian pikir aku tolol.”

“Bagaimana kau tahu Eny?”

“Lihat itu” tunjuk Eny yang membuat kami segera paham. Di pohon tempat keluarnya Kayana tadi tampak sepeda motornya sedang nangkring seenaknya.

Tolol kau, Herman ingin memaki begitu sambil melotot pada kayana tapi tak ada suaranya yang keluar. Mata Kayana pun seakan membalas, maaf lupa.

Tiba-tiba tanpa dikomando Kayana ambil langkah seribu lantas kabur dengan sepeda motor nya. Herman yang malu hati tak berkutik tak bisa berbuat apa-apa, habislah sudah hubungannya dengan Eny, batinnya.

Tiba-tiba Eny melangkah kan kakinya meninggalkan Herman. Herman yang kalang kabut segera saja menyusul.

“Eny, tunggu dulu. Jangan pergi sendiri ntar ada setan.”

“Biarin.” sahut Eny ketus.

Melihat sikap Eny tersebut maka Herman pun lantas segera berkata.

“Maaf kan aku Eny, aku belum pernah jatuh hati pada seorang gadis. Dan kau begitu keras hati dan susah dimengerti. Kau mau memaafkan ketololan ku bukan?”

“Mas Herman tadi hendak mencium aku bukan.” tukasnya membuat ku mati kutu. Tiba-tiba ia berbalik lantas tersenyum.

“Mas Herman, kalo kau mencintai seorang gadis bukan begitu caranya menyatakan cinta. Menakuti-nakuti nya lantas menciuminya ketika pingsan.”

Melihat senyum Eny maka Herman langsung bangkit semangatnya lantas menggenggam tangannya.” kau mau menjadi pacarku kan Eny?”

Eny tertawa melihat tingkah Herman, mereka pun segera pulang dengan hati bahagia dan sang rembulan pun ikut tersenyum keluar dari balik awan melihat tingkah kedua anak manusia yang dirundung asmara.

Cikande, 06 Juni 2017

14 tanggapan untuk “Cinta”

  1. Haaahaaaa!!! percaya gw herman cowok jujur…tapi kok tangannya kalau nganu..sempat yaa!!!😁😁😁😁😁 haahaaa!! PA..

    cuma gara2 lewat kuburan urusan nganu jadi gitu deh… megang berani lewat kuburan panas dingin haahaaa!!!😱😱😁😁😁😁

    Suka

  2. baguuusss… ceritanya. tapiii… ada beberapa kalimat yang agak berbelit-belit susunan kata-katanya.

    dan… dalam teks dialog, penulisan huruf awal setelah tanda kutip (β€œ ”) harusnya kapital.

    Suka

  3. Haahaaa!! Herman lugu tangannya tapi nggak lugu yaa!!…

    akhirnya kuburan jadi saksi antara herman & erny.. 😁😁😁😁 meski modalnya modus haahaa!! πŸ˜πŸ˜πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜±πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ’•πŸ’•πŸŽΆπŸŽΆπŸŽΆ

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s