Gara gara aplikasi AyoPoligami

Ditengah hari yang panas, satria dan Eny sedang sibuk di dapur. Maklum mereka sedang membuat kue dan makanan kecil untuk acara arisan sore harinya.

Eny memang sengaja membuat kue dan makanan kecil sendiri, alasannya agar lebih hemat daripada beli di toko, apalagi kalo ngutang di warteg nya Agus, bisa lebih mahal.

Satria, sebagai suami teladan tentu saja mendukung penuh ide istrinya, apalagi di saat tanggal tua seperti sekarang. Memang sih ada duit tapi kan tidak harus dihabiskan, lagipula belum tentu arisan nanti istrinya yang dapat.

Sedari tadi mereka hanya lebih banyak diam membuat makanan. Satria sedang membuat pisang goreng, sedangkan Eny sedang memotong wortel untuk lumpia. Hingga kemudian Eny membuka percakapan.

“Kang, tahu ga tetangga kita yang belum lama pindah kesini. Katanya dia mau cerai. Suaminya diusir dari rumahnya sejak seminggu yang lalu.”

“Lho, masa sih. Memangnya ada apa kok sampai mau cerai.” Satria menjawab sambil membuka pisang gepok dari kulitnya.

“Kata Bu RT, suaminya itu poligami.” Jawab Eny.

Satria berdiri sambil mengambil baskom yang sudah berisi adonan tepung dan meletakkan disebelah irisan pisang.

“Jadi katanya, suatu hari, istrinya nglilir kebangun tengah malam. Nah saat terbangun itu, ia mendapati suaminya ternyata belum tidur dan malah tertawa cekikikan sambil megang hape. Si istri kemudian pura-pura tidur lagi, hingga kemudian saat suaminya kebelakang untuk buang air, ia lantas mencoba membuka hp suaminya.”

“Terus?” Tanya satria penasaran.

“Nah, waktu di cek itu, ternyata di hapenya tadi, suaminya sedang berhubungan dengan wanita lain. Pakai aplikasi khusus poligami, kalo tak salah namanya AyoPoligami.” Kata Eny dengan semangat menggebu-gebu, seperti yang diceritakan oleh Bu RT saat sedang membeli sayuran di warteg Agus tadi pagi.

“Emang suaminya jelas-jelas sudah poligami gitu? Kan katamu cuma chatting saja sama wanita lain, belum tentu poligami kan. Emangnya dia sudah nikah lagi.”

“Dia kan pakai aplikasi ayopoligami mas, kalo pakai aplikasi itu ya sudah pasti poligami mas, apalagi dia sudah diusir sama istrinya, udah ga ada keraguan lagi itu.”

“Itukan cuma aplikasi dek, kalo cuma pakai aplikasinya belum tentu dia nikah lagi kan.”

“Tapi kalo sudah pakai aplikasinya, otomatis sudah ada keinginan untuk poligami kan. Apalagi kata istrinya, chatting nya itu vulgar banget.”

“Nah, kalo cuma keinginan, berarti belum nikah toh? Apalagi katamu waktu kamu main kerumahnya, istrinya itu kadang ngomel. Bisa jadi dia lelah lalu butuh hiburan.” Jawab satria agak membela.

Nada bicara Eny mulai meninggi.”lah, memang kalo istri suka ngomel, itu bisa jadi alasan suami untuk cari hiburan dengan wanita lain ya?”

“Ya ngga juga sih.” Kata satria sambil cengengesan.”tapi daripada cari hiburan di prostitusi, kan lebih mending cuma cari hiburan lewat aplikasi.”

“Iya, awalnya cuma hiburan, lalu chattingan, lalu akhirnya kebablasan.” Eny berkata sengit.

“Ya, kalo memang mereka kebablasan dan ternyata beneran menikah lagi memangnya kenapa. Toh dalam kondisi-kondisi tertentu, poligami boleh-boleh saja kok dek. Itu contohnya sudah banyak ustadz yang istrinya dua.” Kata satria menanggapi cerita Eny dengan tenang, tapi tanpa sadar justru memanaskan atmosfer percakapan mereka.

“Jadi maksudnya, mas satria setuju sama poligami gitu.” Kata Eny sambil tanpa sadar mengacungkan pisau dapur yang hendak dipakai untuk memotong wortel tadi ke muka satria.

“Kalo aku setuju memangnya kenapa toh dek. Poligami itu setahuku sah sah saja asalkan bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Adil baik dari segi jasmani maupun rohani. Termasuk juga bisa membiayai kehidupan istri-istrinya.”

“Mas mau poligami? Sudah bisa merasa adil gitu. Ngasih makan aku saja masih ngos-ngosan tapi kenapa mas berniat nambah tanggungan.” Eny pun mulai terisak.

“Bukan gitu maksudnya, Dek.”

“Atau Mas ternyata malah memang sudah punya simpenan lain? Ayo ngaku”

“Astaga, kok kamu mikirnya gitu?” Karjo balas bertanya.

“Jawab dulu, Mas!”

“Ya enggak toh Dek. Kamu tuh aneh-aneh aja.”

“Ah, sebel sama Mas. Pertanyaanku nggak dijawab. Jadi semakin curiga.” kata Eny sambil meletakkan pisaunya dan berlalu dari dapur.

Satria yang melihat aksi Eny pergi dari dapur dengan segera langsung mengambil hape miliknya yang tak jauh dari tempatnya.

“Ealah… jangan sampai gara-gara aplikasi ini aku sama Eny ceraian, masih mending kalau cuma diusir dari rumah, lha kalau sampai dibacok pakai pisau, modiar aku,” gumam Satria sambil menghapus suatu aplikasi dari hapenya.

Tamat, 17 Januari 2020.

Kisah sebuah tas

Tidak pernah terbayang sebelummya Eny akan terjerat dalam grup pencinta berat sebuah merek tas asal Perancis. Modelnya begitu pasaran. Saking mudahnya ditiru, produk palsunya pun bertebaran. Mulai dari yang dinamakan kw2, kw1, premium, superpremium, sampe mirror yang konon klaimnya adalah sempurna serupa dengan yang otentik.

Makin ke kanan makin mehong harganya. Sampai yang versi mirror kadang kala tak jauh beda dengan yang asli (Lha terus kenapa juga tetap beli yang tembakan? :p).

Hingga dari jalan-jalan di berbagai grup facebook penggemar tas, dia menemukan sebuah grup menarik. Dari sini saya menemukan bahwa para perempuan bisa menjadi sangat tidak logis jika sudah berhubungan dengan tas. Eny sendiri contohnya. Bentuk tas yang semula big no no sebagai item koleksi kini mendadak menjadi begitu menggoda. Pesona Adam Levine hingga Tae Yang langsung sirna, diganti dengan tas-tas dengan puluhan warna pilihan itu.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang dia lakukan adalah melihat setiap update dari grup. Memandang-mandang sambil mengelus-elus ATM. Berharap, dalam pencarian tiada henti ini, ada seorang anggota grup yang menjual tas bekasnya (ya bekas) dengan harga nyungsep. Di grup ini, barang-barang bekas yang lebih manis dilabeli preloved itu memang masih dihargai tinggi. Apalagi jika kondisinya masih very good condition (vgc). Hanya terpotong tak sampai 20 persen dari harga baru.

Hingga perjalanan yang membuat banyak sisi kehidupannya yang lain tersisihkan itu sampai pada sebuah jawaban. Eny menemukan tas baru dengan harga menawan. Tergolong murah karena itu barang po alias pre order alias bisa mencicil bayarnya sampai barangnya datang. Eny pilih item yang lagi hit dengan harapan bisa meng-upgrade penampilan saya berlipat-lipat.

Setelah satu bulan menanti plus mencicil, akhirnya tas datang. Senangnyaa…tapi kadang harapan tak sesuai kenyataan. Ungkapan klasik ini juga berlaku untuk tas. Chemistry yang didapat ketika melihat tas itu dalam bentuk gambar ternyata tidak terjadi ketika tas itu hadir nyata. Uang 1,8 juta yang ia keluarkan untuk tas itu jadi terasa besar sekali. Apalagi Eny yakin, seyakin-yakinnya, hanya sedikit orang yang sadar kalau dia sedang memakai tas mahal.

Tapi di grup itu tidak perlu khawatir. Tas yang kurang sreg itu bisa dijual lagi dengan mudah. Maka keesokan hari Eny mempersiapkan photo session. Menata barang jualan di online tidaklah serumit menata jualan di etalase toko. Tinggal cari spot paling sip, atur cahaya agar warna yang ditampilkan foto bisa semirip barang asli dan klik, jadi deh. Biarpun sekeliling berantakan, dengan pilihan sudut foto yang tepat akan memberi hasil memuaskan. Tas akan terlihat seperti nongkrong di sebuah sudut galeri mahal.

Lalu upload dan tunggulah respons anggota grup yang lain. Jaga lapak dengan siaga. Sering-sering cek messenger barangkali ada yang tertarik.

Tak sampai sepuluh menit sudah beberapa inbox mengalir. “Sis berapa harganya?” “Sis liat detailnya dong. Difotoin semua bagian.” “Ya sis uda saya terima ftonya. Tapi masih kurang. Sudut kanan belum. Handlenya juga difoto.” “Sis dust bagnya ori ga?” “Sis ada care cardnya ga” “Sis boleh kurang nggak harganya.” “Saya tawar dikit boleh ya, nggak afgan(baca: sadis) kok.” “Sis freeongkir dunk. Boleh ya, boleh ya?”

Begitulah rangkaian pertanyaan yang sering diajukan para calon buyer. Semua itu akan terasa lega begitu calon buyer bilang, “Ok sis deal. Berapa noreknya.”

Kini saatnya packing. Tas ini harus selamat dengan bentuk yang tidak berubah sedikitpun meski harus bergumul dengan tumpukan barang ekspedisi yang lain. Cari kotak tebal sebagai tempat merupakan salah satu cara termudah. Tapi ada juga seller yang mau usaha lebih. Dalam sebuah postingan dia memperlihatkan piranti packingnya. Ada gulungan besar bubble wrap ratusan meter, ada tumpukan koran dan plastik bening. Juga bungkus kado dan label nama. Seller itu biasanya memasukkan gulungan koran ke dalam tas untuk menjaga struktur tas, membalut tas dengan bubble wrap, dimasukkan ke dust bag, dan dilapisi kardus, baru kemudian dibungkus kado biar cantik. Umumnya perempuan akan senang dengan paketan model begitu karena serasa mendapat hadiah padahal itu bayarrrr.

It’s wrapped. Tiba saatnya mengirim. Pilih yang sehari sampe (berlaku hanya di sesama pulau Jawa) demi lebih memuaskan buyer. Apakah cerita ini selesai? Belum. Sesi buyer menerima tas itu juga sering menjadi kisah tersendiri.

Tas akhirnya nyampe ke buyer. Karena kesibukan hingga baru dibuka jelang tengah malam. Eny yang baru mau tidur, seperti biasa absen dulu ke messenger. Ting, pesan masuk. “Sis uda terima tasnya. Kok warna noir bukan black.”

Busyett, padahal setahunya noir (baca: noar) itu bahasa Prancis dari hitam. Ternyata beda memang warnanya. Langsung berdebar ia menerima komplain itu. Gak kebayang kalo tas itu akan direfund. Eny langsung hubungi seller pertama tempat ia po. “Sis, kok warna yang dikasih ke saya noir bukan black. Saya kan dulu pesan hitam.”

Sis yang tinggal di satu pulau dekat negara tetangga itu langsung membalas. “Sis sebelum komplain buka google translate. Noir itu bahasa prancisnya black.” Oh, wow, i feel so stupid by then. Segera dia sampaikan ke buyer penjelasan itu. Yang dijawab, “Beda sis. Kalo black itu legam gini, kalo noir agak terang.” Buyer memperlihatkan perbandingan tas dengan dua warna itu. Pasrah sudah.

Untung buyernya baik. Dia mau ngerti dan menerima tas itu. Selesai? Belum. Jam 12-an malam lebih bunyi ting lagi. Saya buka pesannya. “Sis, benangnya kok ada yang keluar satu.” Sambil menunjukkan foto benang kecil nongol, yang saking kecilnya ia sendiri gak pernah menyadari ada benang yang bisa banget langsung dipotong sendiri itu. Oh my…

Kalau sudah begitu, rasanya kapok-kapok berurusan dengan tas-tas branded begini. Karena harganya lumayan, tingkat komplain jadi begitu tinggi. Tapi meski akhirnya semalam itu Eny jadi nggak bisa tidur, besoknya yang di buka juga masih grup itu.

Dilihat dari perspektif ekonomi, perempuan memang pangsa pasar yang besar untuk barang-barang yang berkaitan dengan image. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan perempuan dalam membeli tas. Banyak anggota grup yang posting koleksinya. Ada yang masih punya hitungan sebelah jari, ada juga yang sudah sampai puluhan hingga ratusan.

Salah seorang anggota pernah menaksir koleksinya kalau dirupiahkan mencapai Rp 112 juta. Mungkin ini murah jika itu berupa tas kelas atas macam Hermes atau produksi avant garde sebuah lini fashion dunia, atau tas limited editions lainnya. Tapi ini tas tergolong menengah. Pembelinya juga mayoritas kalangan menengah ke atas yang bawa tas itu untuk jemput anak sekolah, arisan, atau belanja bulanan. Ini merupakan fenomena tersendiri, bahwa para perempuan kelas menengah sekarang sudah tidak lagi sayang untuk menghabiskan uang jutaan untuk tas baru atau bekas yang digunakan sehari-hari.

Soal nilai ekonomi jangan ditanya. Bisa puluhan juta sehari uang berputar di grup-grup pencinta tas medium class itu.

Eny sekarang berusaha mengurangi waktu berkunjung ke grup itu lagi. Bukan karena insyaf. Tapi karena sudah menemukan lagi grup tas merek lain yang sepertinya juga seru. Untuk itu, saya mesti bersiap membuang waktu lebih banyak demi mantengin grup sambil makin kencang mengusap atm. Mengutip Agnes Monica yang sedang sibuk go international: Cinta (tas) ini, kadang-kadang tak ada logikaaaaaaaa….

Penumpang Ojek Online

Sebagai driver ojek online, Herman sudah banyak bertemu dengan berbagai macam tipe penumpang. Ada yang suka bercerita dan juga bertanya, ada juga yang lebih suka diam dan hanya bilang ” terima kasih ” saat sudah sampai tujuan. Lokasi pengantaran ojek pun bermacam-macam, dari mall, tempat ibadah, sampai tempat buang hajat pun pernah ia antar.

Selama ini Herman sudah sering mendengar cerita dengan sesama ojek online. Ada suka ada juga duka, ada lucu, dan beberapa dari mereka ada juga yang mengalami kejadian horor, sudah Herman lahap sampai kenyang. Ada yang bercerita mendapat antar makanan. Eh, setelah sampai ternyata hanya rumah kosong. Yang lain bercerita kalo ia mendapat pesanan kain putih dua meter, kayu, dan spidol pada malam hari, ternyata setelah datang di tempat tujuan ternyata adalah kuburan. Horor kan, tapi bagi Herman, bisa saja itu ulah orang iseng, iya kan.

Karena itu Herman tak pernah takut kalo dapat orderan, mimpi saja tidak.

Malam itu pukul 7, jalanan Jakarta masih padat. Sebuah pesanan ojek online masuk ke hapenya, minta di jemput di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Daerah mall itu tentu saja rame karena merupakan salah satu mall terbesar di ibukota.

Segera saja dia menuju tempat yang dituju. Sang pemesan bernama Ningsih sudah menunggu di pinggir jalan raya, karena kalo di tengah jalan, ia pasti tertabrak kan.

“Mbak Ningsih ya, yang pesan ojek tadi?” Tanyanya ingin memastikan. Ningsih hanya mengangguk saja.

Sebagai driver aku ingin penumpang ku nyaman, karena itu aku tak berani melihat wajahnya lama-lama. Ningsih berkulit putih, wajahnya menurut Herman mungkin cantik, terawang nya karena sebagian wajah tertutup oleh rambutnya yang panjang sebahu, mana saat itu sudah malam, walaupun di dekat mall tapi lampu jalan malah mati, mungkin pengelolanya lupa mengecek.

Motor Herman adalah motor Honda beat tapi keluaran pertama, sehingga sudah agak kusam dimakan usia. Ia takut kalo mbak Ningsih tak nyaman, maka ia tanya langsung dia.” Maaf mbak, apa mbak mau naik motor seperti ini?”

Ningsih hanya mengangguk, setelah itu ia naik.

Melihat penumpang nya tak banyak bicara maka Herman pun segan. Sebelum menarik gas, ia sekali lagi bertanya.” Lokasi tujuan nya sudah sesuai yang di aplikasi kan mbak?” Dilihatnya dari kaca spion dia mengangguk. Herman pun segera memacu motornya.

Mereka segera berjalan menembus macetnya jalan ibukota. Setelah setengah jam, mereka sudah sampai di suatu kampung di pinggiran ibukota. Herman yang baru pertama kali tak menyangka, kalo tempat yang ia tuju ternyata masih sepi, ia pikir semua harus ramai kalo di Jakarta, hanya tampak dua tiga orang saja yang lalu lalang.

Berdasarkan alamat yang ditunjukkan di hape, rumah tujuannya hanya berjarak tiga km lagi. Ningsih masih diam saja di jok belakang, sehingga Herman pun agak segan untuk bertanya, malu kan, kalo driver online tapi masih tanya.

Setelah melewati beberapa kampung dan kebun yang gelap, akhirnya sampai juga Herman di tempat tujuan. Sebuah kampung yang sepi. Rumah yang ada di hadapannya bercat hijau muda dengan halaman yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga yang rimbun, sayangnya tak ada lampu yang menyala, menjadikan rumah itu seperti angker. Herman yang sebenarnya tak percaya hantu agak ciut juga nyalinya, apalagi rumah itu agak jauh dari rumah sebelahnya.

“Mbak, apa disini rumahnya?” Tanya Herman.

Tak ada jawaban, Herman pun terpaksa bertanya lagi, sayangnya seperti pertanyaan pertama, penumpang dibelakang nya tak menyahut juga. Herman pun dongkol dan terpaksa menengok ke belakang dan betapa terkejutnya ketika sang penumpang telah raib.

“Mbak, mbak Ningsih, kau dimana?” Teriaknya. Suaranya menggema tapi tetap tak ada yang menyahut.

Celaka, pikirnya. Sebagai driver online, ia khawatir kalo ada apa-apa dengan penumpangnya, maka ia sekali lagi berteriak. Syukurlah, kali ini ada yang menjawab, tapi sayangnya bukan Ningsih tapi seorang laki-laki berumur sebaya Herman.

” Ada apa bang, kok teriak-teriak?” Tanyanya.

“Maaf kang, aku tadi mengantar penumpang kesini, tapi sampai kesini, ia tiba-tiba menghilang.” Jelasnya.

“Wah, kau pasti dikerjai hantunya Ningsih. Rumah itu sudah kosong sejak dua tahun lalu.”

“Hantu!!” Herman terperanjat.

” Iya, seminggu yang lalu juga ada tukang ojek yang kesasar kesini. Sama seperti Abang, ia juga membawa Ningsih, penghuni rumah itu.” Ia bernafas sebentar lantas melanjutkan.” Dua tahun lalu, Ningsih bersama teman-temannya pergi ke mall di kota. Nahas baginya, saat hendak menyeberang jalan, sebuah motor yang dikemudikan oleh pemuda mabuk menabraknya. Ia tewas di tempat saat itu juga.”

Menggigil sekujur tubuh Herman. Segera saja ia pamit dan kabur dari tempat itu juga, walau dalam hati ia mengumpat juga karena hantu Ningsih belum sempat bayar.

TAMAT

Cikande, 08 Januari 2019

Tambahan:

setelah Herman pergi, seorang wanita datang dari sebuah pohon sambil membawa sepatunya.

“Ia sudah pergi kang Satria?”

“Sudah dong, ayo kita masuk. Tapi aku nyalakan lampu dulu ya.” Jawab Satria.

Cerita Cinta Herman

Herman sedang bermain Facebook ketika sebuah pesan WhatsApp datang. Sebuah nama tampak di layar hpnya, Melati, membuat ia tersentak.

Kenapa ia mengirim pesan padaku, batin Herman. Ingatannya melayang ke peristiwa yang terjadi sejak tujuh tahun silam.

*.* *

Saat itu Herman sedang melakukan tugas ekstra kurikuler sekolah menengah atas. Untuk tugasnya itu ia pun pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Saat itu hari sudah sore, karena terburu-buru ia tak sengaja menabrak seseorang sehingga buku yang ia bawa jatuh.

“Maaf, aku tak sengaja.” Seru Herman sambil memunguti bukunya yang jatuh.

Gadis berbaju abu-abu berkulit putih itu sebenarnya hendak marah, cuma melihat Herman sudah meminta maaf dan ia juga sedang buru-buru maka ia telan omelan yang hendak keluar. Sambil menerima buku dari tangan Herman ia berkata.

“tak apa-apa” sahutnya dengan muka datar. Ia pun bergegas ke penjaga perpustakaan dan keluar. Herman juga pun hendak keluar ketika dilihatnya sebuah kartu pelajar terjatuh dilantai. Segera ia pungut dan ternyata milik gadis tersebut.

Melati, ternyata itu namanya, batinnya sambil tersenyum. Melati murid kelas X. Segera disimpannya lantas ia pun pulang.

Keesokan harinya ia datang ke kantin sekolah. Dilihatnya melati sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.

“Hai.”

“Oh Herman, mau apa nih kesini.” Bella, teman sekelas Herman malah yang menyahut.

“Ini milikmu bukan?” Jawabnya sambil menyodorkan kartu pelajar ke arah melati. Ia terkejut, tapi diterima dengan mulut tersenyum.

“Melati.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

“Herman.” Sambutnya sambil tersenyum.

“Ciee, kayaknya mau jadian.” Beberapa suara langsung terdengar. Herman buru-buru melepaskan tangan lantas kembali ke dalam kelas.

Ternyata memang itu awal hubungan Herman dan melati. Herman memang sudah naksir melati sejak pertama bertemu. Mereka pun lantas memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Walaupun begitu Herman tidak pernah mampir ke rumah orangtua Melati. Nanti saja, orang tuaku marah kalo tahu aku pacaran, begitu alasan Melati. Herman pun hanya mengangguk saja, walau ia dengar dari sahabatnya,Satria, bahwa orang tua Melati merupakan salah satu pengusaha sukses di Jakarta walaupun mereka berasal dari Jawa Tengah.

Sayangnya kedekatan mereka hanya setahun saja. Setelah lulus mereka terpaksa berpisah. Herman tetap melanjutkan kuliah di ibukota sedangkan Melati terpaksa pindah ke Jogjakarta karena jurusan kuliah yang ia tempuh hanya ada disana.

Walaupun begitu, Herman dan Melati berkomitmen untuk menjaga hubungan. Bulan-bulan pertama mereka lalui bersama dengan baik. Kadang Melati mampir ke Herman sekalian menjenguk orang tuanya, begitu juga Herman kadang ke kota Jogja walaupun ia harus menempuh perjalanan 10 jam. Ah, jangan kan cuma ke Jogjakarta, lautan api pun akan Herman sebrangi demi cinta.

Sayangnya mulai satu tahun hubungan mereka goyah. Herman pun tak bisa leluasa ke kota pelajar karena keterbatasan biaya. Maklum, kedua orangtuanya hanyalah pegawai biasa dan ia sendiri hanya fokus pada kuliah. Sedangkan Melati makin sibuk dengan kuliahnya yang memang membutuhkan fokus penuh. Jarang bertemu tentu saja mengganggu hubungan mereka walaupun mereka sering chatting tapi tidak dapat menghasilkan perasaan yang sama saat bertemu langsung.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari pacar di kota masing-masing yang sifatnya sementara. Istilahnya, “kamu boleh pacaran sama siapa saja, tapi ntar nikahnya sama gue”. Herman pun akhirnya pacaran dengan wanita teman kuliahnya yaitu Eny, sedangkan Melati menjalin hubungan dengan Nana, teman satu kampusnya.

Selepas lulus kuliah, Melati menyusul ke Ibukota untuk melanjutkan master di kampus yang sama dengan Herman. Saat itu Herman belum sarjana. Dengan kembalinya Melati ke Jakarta, maka Herman pun memutuskan hubungan dengan Eny. Aku ingin fokus kuliah, begitu alasan Herman.

Singkat cerita, akhirnya mereka pun lulus dari kampus terbaik se-Indonesia, Herman sarjana dan Melati masternya. Agak njomplang memang. Namun bukankah cinta memang tak mengenal gelar.

Selesai kuliah maka Herman pun berusaha mencari pekerjaan. Sayangnya sudah banyak perusahaan yang didatangi tapi belum membuahkan hasil. Ternyata gelar sarjana bukan jaminan akan mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi di ibukota yang memang kejam.

“Jangan putus asa bang herman, nanti juga dapat kok.” Begitu kata Melati ketika mereka bertemu di suatu kafe. Berbeda dengan Herman, Melati sudah sibuk dengan pekerjaan nya di sebuah kampus sebagai pengajar. Perkataan Melati agak mendinginkan hatinya.

“Biar aku yang bayar bang.” Melati mencegah. Herman hanya mati kutu, dirinya memang tidak mempunyai banyak duit. Mereka pun pergi naik motor ke pantai Ancol.

“Abang tak usah galau begitu. Sekarang biar aku yang traktir Abang. Nanti kalo sudah menikah, udah kewajiban Abang untuk traktir aku.”

“Abang janji, Abang akan bahagiakan kamu melati.” Jawab Herman sambil tersenyum. Diraihnya tangan melati lantas diciumnya. Matahari ikut tersenyum melihat dua insan di tepi pantai itu.

Tak terasa, sudah enam tahun mereka menjalin hubungan sejak SMA. Hingga suatu saat ia pulang ke Jawa tengah bersama orang tuanya dan baru kembali sebulan kemudian. Ia menghampiri Herman dengan mata sembab dan air mata berlinang.

Rupanya, dia dijodohkan dengan Wawan, lelaki pilihan orangtuanya bahkan tanggalnya pun sudah ditentukan. Enam bulan lagi pernikahan itu akan digelar. Mendengar itu, rasanya jiwa Herman hancur seketika.

Komitmen bahwa “kamu boleh pacaran dengan siapa saja tapi menikahnya harus denganku” terus terngiang di batinnya. Akhirnya dengan ijin orang tuanya maka Herman pun pergi ke Jawa tengah untuk melamar Melati.

Setelah menempuh perjalanan setengah hari sampailah Herman di tempat tujuan. Hati Herman agak menciut ketika ia tiba di rumah orang tua Melati. Sebuah rumah yang megah, bahkan lebih megah dari beberapa rumah orang kaya di ibukota.

Namun sayangnya kepercayaan diri dan harapan Herman sirna, seperti kabut di pagi hari yang terkena sinar matahari.” Kamu cuma sarjana Herman, apa kamu bisa membahagiakan anak saya.” Begitu jawaban ibunya.

Herman tidak dapat berkata apa-apa. Ia pun balik lagi ke Jakarta dengan dada dibuncah amarah dan juga batinnya menangis, bedebah…

Herman tetap berhubungan baik dengan melati. Pernah ia perpikiran untuk mengajak melati kawin lari, tapi apakah ia bisa, padahal ia tidak mempunyai uang. Melati pun akan kehilangan pekerjaan, belum lagi ia harus mengurus kedua adiknya karena kedua orangtuanya sudah berusia lanjut. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia sering bertemu dengan melati dan pergi berduaan. Pokoknya sebelumnya sah, melati adalah milikku.

Sayangnya hubungan itu diketahui oleh Heny, kakak melati. Ia tentu saja mencaci maki saya sebagai orang tidak tahu diri. Malamnya hp Herman berbunyi dan ternyata ibunya tidak kalah marah dan menuduh saya sengaja merusak hubungan melati dengan calon suaminya.

Sejak itu melati pun dikirim pulang ke kampung halamannya. Herman hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Hingga suatu hari ia datang dengan wajah sendu. Ia datang hanya untuk mengabarkan bahwa tiga hari lagi ia akan menikah dan ia mengirim kartu undangan pernikahan. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.

Setelah melati pergi maka Herman segera menyobek-nyobek surat tersebut. Hatinya hancur lebur dan ia pun menangis sejadi-jadinya. Ingin ia bunuh diri tapi beruntung kedua orangtuanya dan juga adik-adiknya bisa mengendalikan diri nya.

Tiga hari setelah ia menikah tidak disangka ia menelponku. Ia kembali minta maaf dan berpesan.” Jangan berisik ya bang, nanti mas Wawan bangun dan aku bisa kena marah.” Herman hanya mengangguk, ia kini sudah pasrah.


Hp android nya Herman kembali berbunyi. Dilihatnya ternyata Melati yang menelponnya. Ada apakah ia menelpon setelah satu tahun tak ada kabar. Sebenarnya Herman sudah mulai melupakannya dan ia kini juga sedang menjalin hubungan serius dengan Eny, pacar sementara waktu kuliah dulu. Eny juga sudah tahu masa lalu Herman dan ia tetap menerima. Setiap orang punya masa lalu masing-masing, begitu kata Eny bijak.

“Halo.”

“Bang Herman, gimana kabarnya bang?” Sebuah suara masuk ke telinga nya, sebuah suara yang terus terang masih dirindukan oleh Herman.

“Baik. Gimana kabarmu Melati.”

“Aku juga baik bang.” Jawabnya dengan suara yang agak getir. Akhirnya Melati pun berterus terang kalo kini ia sudah menjanda. Ternyata Wawan selingkuh dan melati yang memang tidak menyukai Wawan langsung mengajukan gugatan cerai.

“Jadi kamu sekarang sudah janda?” Tanya Herman ingin tahu.

“Betul bang, orang tuaku kini pasrah dan mereka juga meminta maaf karena salah memilih jodoh untukku. Mereka kini ikhlas jika aku kawin dengan bang Herman. Aku juga sudah mempunyai satu anak.” Jawabnya.

Agak dingin tengkuk Herman mendengar perkataan terakhir Melati. Setelah berbasa-basi akhirnya Herman menutup telepon.

Herman tambah kusut pikiran. Jika ia menikah dengan Melati, maka kedua orangtuanya pasti tidak setuju mengingat dulu kakaknya melati pernah datang ke rumah dan marah kepadanya mereka berdua, lagi pula bagaimana dengan Eny, sosok wanita yang sudah berhasil menyembuhkan luka hatinya. Haruskah ia memilih melati, cinta pertama nya dengan mencantumkan Eny ataukah ia memilih Eny yang pengertian?

Tamat

Cikande, 21 November 2018

Perjalanan mudik lebaran

Perkenalkan, nama saya Emde, kali ini saya akan menceritakan kisah saya melakukan sebuah ritual tahunan bernama Mudik Lebaran kemarin. Kalau soal jarak dan kendaraan yang saya gunakan, yah sebut saja itu hobi.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari perjalanan saya ini. Konon, ada juga orang setolol saya yang juga melakukannya bahkan dari Bali ke Aceh yang 4000 km lebih jauhnya. Sedangkan saya dari Yogyakarta menyusul ke rumah istri saya di Lampung utara sana, yah, enggak jauh-jauh amat kalau naik sepeda motor. Hanya berjarak 1000-an km, hanya sepelemparan cawet. Cawetnya Thor.

Istri saya, Nisha, sudah ada di kampung halamannya sejak awal puasa, jadi nya saya hanya sendirian, tidak bisa gandengan seperti truk-truk barang yang sering saya salip.

Motor yang saya pakai tidak terlalu tua, begitu juga saya. Jam lima pagi, saya mulai melaju kencang ke arah Barat. kecepatan tak lebih dari 70 km karena CVT motor Mio Soul pemberian mertua baik hati yang saya gunakan ini memang agak berisik. Tak apalah, sebagai menantu yang baik tentu saja harus bersyukur walaupun dari desas desus yang aku dengar pemilik sebelumnya mengalami kecelakaan, dan karena dianggap bawa sial maka dijual ke mertua saya.

Sampai di perbatasan Jawa tengah-jawa barat saya berhenti di sebuah warung kelapa muda dan bergabung dengan beberapa pemudik motor yang lain. Obrolan basa-basi mulai terjadi, mulai dari nanya asalnya dari mana, kerja apa, tinggal di mana, akan ke mana, dan berbagai decakan kaget atas kenekatan saya muncul dari mereka.

“Mudik Lebaran dari Yogya ke Lampung pakai motor sendirian? Kamu benar-benar tolol Mas,” begitu kata mereka dalam hati.

Tentu saja itu kira-kira saya saja berdasarkan wajah yang mereka tunjukkan ketika mereka bilang; “Hati-hati ya Mas”.

Setelah 10 jam perjalanan dari kota gudeg, dan berhenti dua kali selanjutnya saya baru tersadar, dari semua obrolan dan pertemuan dengan macam macam orang tak satu pun dari mereka yang menanyakan nama saya siapa. Bagi mereka nama saya tidak penting, yang lebih penting adalah perjalanan saya sebagai “pemudik lebaran” dengan jarak yang begitu jauh. Sial memang, hiks..

Saat mau menyeberang ke Sumatra saya dapat informasi penting dari seorang sopir truk. Awalnya, seperti puluhan orang yang pertama kali saya kasih tahu rute mudik Lebaran saya, si sopir kaget kenapa saya nekat naik motor. Padahal di daerah Sumatra sangat rawan. Cerita si sopir, dia pernah hampir dibunuh oleh preman karena melawan saat diminta uang.

Saya memperhatikan wajah si sopir truk. Wajah sesangar dia, ada bekas luka, rahang besar, dan kekar begitu saja dipalakin preman, apalagi saya yang punya wajah bulat dan unyu-unyu gabungan formasi fusion Herman dan Satria begini. Bisa dioseng-oseng hidup-hidup saya.

Memasuki  sebuah bekas kapal pesiar dari Jepang yang sudah jadi kapal angkutan biasa membuat saya berdecak kagum. Mungkin pada masa jaya kapal pesiar yang saya tumpangi ini, dulunya memang mewah. Begitu masuk di lantai tiga saya disambut oleh sebuah ruangan karaoke, game center, sebuah televisi berlayar besar di aula. Saya terus berjalan menuju sebuah ruangan tidur gratis untuk siapa saja termasuk saya. Sedangkan lantai di atasnya terdapat lantai untuk orang yang lebih berduit dengan fasilitas hotel bintang lima.

Tentang kemewahan itu, saya pikir kalian bisa coba sendiri. Akan tetapi yang menarik sebenarnya bukan di situ. Dari semua yang ada di kapal “mewah” itu, hampir 90 persen penumpangnya adalah sopir truk.

Lalu sekitar 5 persen adalah sopir mobil baru tanpa plat nomor. Mereka dibayar cuma untuk menaikkan mobil-mobil baru ke dalam kapal kemudian mengeluarkannya. Sedangkan 5 persen sisanya adalah orang-orang seperti saya. Pengendara kendaraan pribadi yang sedang ingin mudik Lebaran.

Sudah sejam menunggu tapi kapal belum ada tanda-tanda mau berangkat. Seharusnya sesuai jadwal jam 03.00 sore ini kapal sudah jalan. Saya mulai gelisah, begitu juga para pemudik lainnya, sedangkan para supir itu anteng-anteng saja. Sebagian tidur, sebagian lagi entah kemana.

Saya lalu bangkit ingin kencing. Kamar mandi di kapal ini ternyata banyak dan salah satunya kamar mandi onsen. Alias kamar mandi model Jepang yang harus telanjang jika ingin mandi air panas di dalamnya. Tentu saya urung masuk, bayangan saya telanjang berada di tengah tengah sopir-sopir truk dengan wajah angker dan telanjang membuat saya mengkeret.

Saya lalu ke kamar mandi lain. Namun, kali ini saya harus curiga karena kamar mandinya sangat sepi tapi keran air menyala, mungkin sebagai tanda ada orang di dalam. Pikir saya waktu itu, kamar mandi super sempit kaya begini tidak mungkin dipakai untuk mandi.

Mungkin mereka boker dan saya iseng menundukkan kepala mengintip kaki mereka. Astaga kenapa kaki-kaki mereka pada posisi berdiri semua. Jika sedang boker kan harusnya tidak begitu, jika hanya kencing kenapa lama sekali? Saya mundur perlahan teratur dan tepat di belakang saya ada seseorang sebaya.

“Nungguin kamar mandi juga ya, Mas?” kata orang ini.

Saya mengangguk.

“Lama bakalan. Mereka semua lagi coli, Mas.”

(((Coli)))

Serius? Di kapal laut? Di atas laut begini?

Saya hampir saja ketawa ngakak mendengarnya, lalu mendadak hilang kebelet saya. Saya keluar dari sana karena tidak nyaman. Orang di sebelah saya akhirnya ikut keluar. Ternyata emang betulan lama nungguin para sopir truk itu selesai.

“Mereka sering begitu, Mas. Apalagi kalau habis lihat di televisi ada artis cantik dan seksi gitu, mereka akan menyerap sebagai ingatan lekukan lekukan tubuh untuk dijadikan khayalan saat coli.

Brengsek, kata saya dalam hati. “Oh, begitu tho,” kata saya dari mulut. Tapi tentu saya juga paham, enggak semua sopir begitu.

Kami pun akhirnya ngobrol ngalor ngidul. Ia agak kaget ketika tahu saya dari Jogja dan hanya sendirian, bukan di Jakarta. Aku pun jelaskan kalo aku merantau ke Jogja karena disana ada toko milik uwa saya yang menganggur, maklum orang tuaku adalah transmigrasi. Aku jelaskan juga pernah coba di Jakarta tapi tidak kuat dengan harga sewanya yang melambung tinggi, setinggi harga sembako kalo bulan puasa dan lebaran.

Maghrib sudah datang, tapi belum juga ada tanda-tanda kapal mau berangkat. Beberapa penumpang nampak ribut dengan petugas. Si penumpang menjerit-jerit histeris karena dia harus segera pulang berkumpul dengan keluarga. Saya hanya melihat dari kejauhan, begitu pula dengan sopir-sopir lain. Hal yang sangat berbeda dengan sopir-sopir yang hanya santai saja menanggapi keterlambatan keberangkatan kapal. Tidak terdengar protes sama sekali.

Tentu bukan berarti mereka tidak punya keluarga yang menunggu untuk berlebaran. Tapi bagi mereka, terlambat begini sudah risiko perjalanan, jadi mereka sudah bisa legowo menerimanya. Slogan para sopir kan sederhana; “Nek kesusu budalo wingi mas!”  (Jika buru-buru, berangkatlah kemarin, Bung!)

Akhirnya kapal berangkat juga jam 10 malam, luar biasa, setelah 7 jam delay menganggur buta tidak ngapa-ngapain selain coli. para sopir itu hanya berkomentar “Ealah, jadinya berangkat benar ini kapal”.

Yah, itulah kisah perjalanan ku dari Jogja sampai pelabuhan merak. Sedangkan dari pelabuhan Bakauheni Lampung sampai rumahku aku ceritakan kapan-kapan ya.