Kisah sebuah tas

Tidak pernah terbayang sebelummya Eny akan terjerat dalam grup pencinta berat sebuah merek tas asal Perancis. Modelnya begitu pasaran. Saking mudahnya ditiru, produk palsunya pun bertebaran. Mulai dari yang dinamakan kw2, kw1, premium, superpremium, sampe mirror yang konon klaimnya adalah sempurna serupa dengan yang otentik.

Makin ke kanan makin mehong harganya. Sampai yang versi mirror kadang kala tak jauh beda dengan yang asli (Lha terus kenapa juga tetap beli yang tembakan? :p).

Hingga dari jalan-jalan di berbagai grup facebook penggemar tas, dia menemukan sebuah grup menarik. Dari sini saya menemukan bahwa para perempuan bisa menjadi sangat tidak logis jika sudah berhubungan dengan tas. Eny sendiri contohnya. Bentuk tas yang semula big no no sebagai item koleksi kini mendadak menjadi begitu menggoda. Pesona Adam Levine hingga Tae Yang langsung sirna, diganti dengan tas-tas dengan puluhan warna pilihan itu.

Dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang dia lakukan adalah melihat setiap update dari grup. Memandang-mandang sambil mengelus-elus ATM. Berharap, dalam pencarian tiada henti ini, ada seorang anggota grup yang menjual tas bekasnya (ya bekas) dengan harga nyungsep. Di grup ini, barang-barang bekas yang lebih manis dilabeli preloved itu memang masih dihargai tinggi. Apalagi jika kondisinya masih very good condition (vgc). Hanya terpotong tak sampai 20 persen dari harga baru.

Hingga perjalanan yang membuat banyak sisi kehidupannya yang lain tersisihkan itu sampai pada sebuah jawaban. Eny menemukan tas baru dengan harga menawan. Tergolong murah karena itu barang po alias pre order alias bisa mencicil bayarnya sampai barangnya datang. Eny pilih item yang lagi hit dengan harapan bisa meng-upgrade penampilan saya berlipat-lipat.

Setelah satu bulan menanti plus mencicil, akhirnya tas datang. Senangnyaa…tapi kadang harapan tak sesuai kenyataan. Ungkapan klasik ini juga berlaku untuk tas. Chemistry yang didapat ketika melihat tas itu dalam bentuk gambar ternyata tidak terjadi ketika tas itu hadir nyata. Uang 1,8 juta yang ia keluarkan untuk tas itu jadi terasa besar sekali. Apalagi Eny yakin, seyakin-yakinnya, hanya sedikit orang yang sadar kalau dia sedang memakai tas mahal.

Tapi di grup itu tidak perlu khawatir. Tas yang kurang sreg itu bisa dijual lagi dengan mudah. Maka keesokan hari Eny mempersiapkan photo session. Menata barang jualan di online tidaklah serumit menata jualan di etalase toko. Tinggal cari spot paling sip, atur cahaya agar warna yang ditampilkan foto bisa semirip barang asli dan klik, jadi deh. Biarpun sekeliling berantakan, dengan pilihan sudut foto yang tepat akan memberi hasil memuaskan. Tas akan terlihat seperti nongkrong di sebuah sudut galeri mahal.

Lalu upload dan tunggulah respons anggota grup yang lain. Jaga lapak dengan siaga. Sering-sering cek messenger barangkali ada yang tertarik.

Tak sampai sepuluh menit sudah beberapa inbox mengalir. “Sis berapa harganya?” “Sis liat detailnya dong. Difotoin semua bagian.” “Ya sis uda saya terima ftonya. Tapi masih kurang. Sudut kanan belum. Handlenya juga difoto.” “Sis dust bagnya ori ga?” “Sis ada care cardnya ga” “Sis boleh kurang nggak harganya.” “Saya tawar dikit boleh ya, nggak afgan(baca: sadis) kok.” “Sis freeongkir dunk. Boleh ya, boleh ya?”

Begitulah rangkaian pertanyaan yang sering diajukan para calon buyer. Semua itu akan terasa lega begitu calon buyer bilang, “Ok sis deal. Berapa noreknya.”

Kini saatnya packing. Tas ini harus selamat dengan bentuk yang tidak berubah sedikitpun meski harus bergumul dengan tumpukan barang ekspedisi yang lain. Cari kotak tebal sebagai tempat merupakan salah satu cara termudah. Tapi ada juga seller yang mau usaha lebih. Dalam sebuah postingan dia memperlihatkan piranti packingnya. Ada gulungan besar bubble wrap ratusan meter, ada tumpukan koran dan plastik bening. Juga bungkus kado dan label nama. Seller itu biasanya memasukkan gulungan koran ke dalam tas untuk menjaga struktur tas, membalut tas dengan bubble wrap, dimasukkan ke dust bag, dan dilapisi kardus, baru kemudian dibungkus kado biar cantik. Umumnya perempuan akan senang dengan paketan model begitu karena serasa mendapat hadiah padahal itu bayarrrr.

It’s wrapped. Tiba saatnya mengirim. Pilih yang sehari sampe (berlaku hanya di sesama pulau Jawa) demi lebih memuaskan buyer. Apakah cerita ini selesai? Belum. Sesi buyer menerima tas itu juga sering menjadi kisah tersendiri.

Tas akhirnya nyampe ke buyer. Karena kesibukan hingga baru dibuka jelang tengah malam. Eny yang baru mau tidur, seperti biasa absen dulu ke messenger. Ting, pesan masuk. “Sis uda terima tasnya. Kok warna noir bukan black.”

Busyett, padahal setahunya noir (baca: noar) itu bahasa Prancis dari hitam. Ternyata beda memang warnanya. Langsung berdebar ia menerima komplain itu. Gak kebayang kalo tas itu akan direfund. Eny langsung hubungi seller pertama tempat ia po. “Sis, kok warna yang dikasih ke saya noir bukan black. Saya kan dulu pesan hitam.”

Sis yang tinggal di satu pulau dekat negara tetangga itu langsung membalas. “Sis sebelum komplain buka google translate. Noir itu bahasa prancisnya black.” Oh, wow, i feel so stupid by then. Segera dia sampaikan ke buyer penjelasan itu. Yang dijawab, “Beda sis. Kalo black itu legam gini, kalo noir agak terang.” Buyer memperlihatkan perbandingan tas dengan dua warna itu. Pasrah sudah.

Untung buyernya baik. Dia mau ngerti dan menerima tas itu. Selesai? Belum. Jam 12-an malam lebih bunyi ting lagi. Saya buka pesannya. “Sis, benangnya kok ada yang keluar satu.” Sambil menunjukkan foto benang kecil nongol, yang saking kecilnya ia sendiri gak pernah menyadari ada benang yang bisa banget langsung dipotong sendiri itu. Oh my…

Kalau sudah begitu, rasanya kapok-kapok berurusan dengan tas-tas branded begini. Karena harganya lumayan, tingkat komplain jadi begitu tinggi. Tapi meski akhirnya semalam itu Eny jadi nggak bisa tidur, besoknya yang di buka juga masih grup itu.

Dilihat dari perspektif ekonomi, perempuan memang pangsa pasar yang besar untuk barang-barang yang berkaitan dengan image. Dan jangan pernah meremehkan kekuatan perempuan dalam membeli tas. Banyak anggota grup yang posting koleksinya. Ada yang masih punya hitungan sebelah jari, ada juga yang sudah sampai puluhan hingga ratusan.

Salah seorang anggota pernah menaksir koleksinya kalau dirupiahkan mencapai Rp 112 juta. Mungkin ini murah jika itu berupa tas kelas atas macam Hermes atau produksi avant garde sebuah lini fashion dunia, atau tas limited editions lainnya. Tapi ini tas tergolong menengah. Pembelinya juga mayoritas kalangan menengah ke atas yang bawa tas itu untuk jemput anak sekolah, arisan, atau belanja bulanan. Ini merupakan fenomena tersendiri, bahwa para perempuan kelas menengah sekarang sudah tidak lagi sayang untuk menghabiskan uang jutaan untuk tas baru atau bekas yang digunakan sehari-hari.

Soal nilai ekonomi jangan ditanya. Bisa puluhan juta sehari uang berputar di grup-grup pencinta tas medium class itu.

Eny sekarang berusaha mengurangi waktu berkunjung ke grup itu lagi. Bukan karena insyaf. Tapi karena sudah menemukan lagi grup tas merek lain yang sepertinya juga seru. Untuk itu, saya mesti bersiap membuang waktu lebih banyak demi mantengin grup sambil makin kencang mengusap atm. Mengutip Agnes Monica yang sedang sibuk go international: Cinta (tas) ini, kadang-kadang tak ada logikaaaaaaaa….

Iklan

Penumpang Ojek Online

Sebagai driver ojek online, Herman sudah banyak bertemu dengan berbagai macam tipe penumpang. Ada yang suka bercerita dan juga bertanya, ada juga yang lebih suka diam dan hanya bilang ” terima kasih ” saat sudah sampai tujuan. Lokasi pengantaran ojek pun bermacam-macam, dari mall, tempat ibadah, sampai tempat buang hajat pun pernah ia antar.

Selama ini Herman sudah sering mendengar cerita dengan sesama ojek online. Ada suka ada juga duka, ada lucu, dan beberapa dari mereka ada juga yang mengalami kejadian horor, sudah Herman lahap sampai kenyang. Ada yang bercerita mendapat antar makanan. Eh, setelah sampai ternyata hanya rumah kosong. Yang lain bercerita kalo ia mendapat pesanan kain putih dua meter, kayu, dan spidol pada malam hari, ternyata setelah datang di tempat tujuan ternyata adalah kuburan. Horor kan, tapi bagi Herman, bisa saja itu ulah orang iseng, iya kan.

Karena itu Herman tak pernah takut kalo dapat orderan, mimpi saja tidak.

Malam itu pukul 7, jalanan Jakarta masih padat. Sebuah pesanan ojek online masuk ke hapenya, minta di jemput di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Daerah mall itu tentu saja rame karena merupakan salah satu mall terbesar di ibukota.

Segera saja dia menuju tempat yang dituju. Sang pemesan bernama Ningsih sudah menunggu di pinggir jalan raya, karena kalo di tengah jalan, ia pasti tertabrak kan.

“Mbak Ningsih ya, yang pesan ojek tadi?” Tanyanya ingin memastikan. Ningsih hanya mengangguk saja.

Sebagai driver aku ingin penumpang ku nyaman, karena itu aku tak berani melihat wajahnya lama-lama. Ningsih berkulit putih, wajahnya menurut Herman mungkin cantik, terawang nya karena sebagian wajah tertutup oleh rambutnya yang panjang sebahu, mana saat itu sudah malam, walaupun di dekat mall tapi lampu jalan malah mati, mungkin pengelolanya lupa mengecek.

Motor Herman adalah motor Honda beat tapi keluaran pertama, sehingga sudah agak kusam dimakan usia. Ia takut kalo mbak Ningsih tak nyaman, maka ia tanya langsung dia.” Maaf mbak, apa mbak mau naik motor seperti ini?”

Ningsih hanya mengangguk, setelah itu ia naik.

Melihat penumpang nya tak banyak bicara maka Herman pun segan. Sebelum menarik gas, ia sekali lagi bertanya.” Lokasi tujuan nya sudah sesuai yang di aplikasi kan mbak?” Dilihatnya dari kaca spion dia mengangguk. Herman pun segera memacu motornya.

Mereka segera berjalan menembus macetnya jalan ibukota. Setelah setengah jam, mereka sudah sampai di suatu kampung di pinggiran ibukota. Herman yang baru pertama kali tak menyangka, kalo tempat yang ia tuju ternyata masih sepi, ia pikir semua harus ramai kalo di Jakarta, hanya tampak dua tiga orang saja yang lalu lalang.

Berdasarkan alamat yang ditunjukkan di hape, rumah tujuannya hanya berjarak tiga km lagi. Ningsih masih diam saja di jok belakang, sehingga Herman pun agak segan untuk bertanya, malu kan, kalo driver online tapi masih tanya.

Setelah melewati beberapa kampung dan kebun yang gelap, akhirnya sampai juga Herman di tempat tujuan. Sebuah kampung yang sepi. Rumah yang ada di hadapannya bercat hijau muda dengan halaman yang cukup luas dengan beberapa pohon mangga yang rimbun, sayangnya tak ada lampu yang menyala, menjadikan rumah itu seperti angker. Herman yang sebenarnya tak percaya hantu agak ciut juga nyalinya, apalagi rumah itu agak jauh dari rumah sebelahnya.

“Mbak, apa disini rumahnya?” Tanya Herman.

Tak ada jawaban, Herman pun terpaksa bertanya lagi, sayangnya seperti pertanyaan pertama, penumpang dibelakang nya tak menyahut juga. Herman pun dongkol dan terpaksa menengok ke belakang dan betapa terkejutnya ketika sang penumpang telah raib.

“Mbak, mbak Ningsih, kau dimana?” Teriaknya. Suaranya menggema tapi tetap tak ada yang menyahut.

Celaka, pikirnya. Sebagai driver online, ia khawatir kalo ada apa-apa dengan penumpangnya, maka ia sekali lagi berteriak. Syukurlah, kali ini ada yang menjawab, tapi sayangnya bukan Ningsih tapi seorang laki-laki berumur sebaya Herman.

” Ada apa bang, kok teriak-teriak?” Tanyanya.

“Maaf kang, aku tadi mengantar penumpang kesini, tapi sampai kesini, ia tiba-tiba menghilang.” Jelasnya.

“Wah, kau pasti dikerjai hantunya Ningsih. Rumah itu sudah kosong sejak dua tahun lalu.”

“Hantu!!” Herman terperanjat.

” Iya, seminggu yang lalu juga ada tukang ojek yang kesasar kesini. Sama seperti Abang, ia juga membawa Ningsih, penghuni rumah itu.” Ia bernafas sebentar lantas melanjutkan.” Dua tahun lalu, Ningsih bersama teman-temannya pergi ke mall di kota. Nahas baginya, saat hendak menyeberang jalan, sebuah motor yang dikemudikan oleh pemuda mabuk menabraknya. Ia tewas di tempat saat itu juga.”

Menggigil sekujur tubuh Herman. Segera saja ia pamit dan kabur dari tempat itu juga, walau dalam hati ia mengumpat juga karena hantu Ningsih belum sempat bayar.

TAMAT

Cikande, 08 Januari 2019

Tambahan:

setelah Herman pergi, seorang wanita datang dari sebuah pohon sambil membawa sepatunya.

“Ia sudah pergi kang Satria?”

“Sudah dong, ayo kita masuk. Tapi aku nyalakan lampu dulu ya.” Jawab Satria.

Cerita Cinta Herman

Herman sedang bermain Facebook ketika sebuah pesan WhatsApp datang. Sebuah nama tampak di layar hpnya, Melati, membuat ia tersentak.

Kenapa ia mengirim pesan padaku, batin Herman. Ingatannya melayang ke peristiwa yang terjadi sejak tujuh tahun silam.

*.* *

Saat itu Herman sedang melakukan tugas ekstra kurikuler sekolah menengah atas. Untuk tugasnya itu ia pun pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Saat itu hari sudah sore, karena terburu-buru ia tak sengaja menabrak seseorang sehingga buku yang ia bawa jatuh.

“Maaf, aku tak sengaja.” Seru Herman sambil memunguti bukunya yang jatuh.

Gadis berbaju abu-abu berkulit putih itu sebenarnya hendak marah, cuma melihat Herman sudah meminta maaf dan ia juga sedang buru-buru maka ia telan omelan yang hendak keluar. Sambil menerima buku dari tangan Herman ia berkata.

“tak apa-apa” sahutnya dengan muka datar. Ia pun bergegas ke penjaga perpustakaan dan keluar. Herman juga pun hendak keluar ketika dilihatnya sebuah kartu pelajar terjatuh dilantai. Segera ia pungut dan ternyata milik gadis tersebut.

Melati, ternyata itu namanya, batinnya sambil tersenyum. Melati murid kelas X. Segera disimpannya lantas ia pun pulang.

Keesokan harinya ia datang ke kantin sekolah. Dilihatnya melati sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.

“Hai.”

“Oh Herman, mau apa nih kesini.” Bella, teman sekelas Herman malah yang menyahut.

“Ini milikmu bukan?” Jawabnya sambil menyodorkan kartu pelajar ke arah melati. Ia terkejut, tapi diterima dengan mulut tersenyum.

“Melati.” Katanya sambil mengulurkan tangannya.

“Herman.” Sambutnya sambil tersenyum.

“Ciee, kayaknya mau jadian.” Beberapa suara langsung terdengar. Herman buru-buru melepaskan tangan lantas kembali ke dalam kelas.

Ternyata memang itu awal hubungan Herman dan melati. Herman memang sudah naksir melati sejak pertama bertemu. Mereka pun lantas memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Walaupun begitu Herman tidak pernah mampir ke rumah orangtua Melati. Nanti saja, orang tuaku marah kalo tahu aku pacaran, begitu alasan Melati. Herman pun hanya mengangguk saja, walau ia dengar dari sahabatnya,Satria, bahwa orang tua Melati merupakan salah satu pengusaha sukses di Jakarta walaupun mereka berasal dari Jawa Tengah.

Sayangnya kedekatan mereka hanya setahun saja. Setelah lulus mereka terpaksa berpisah. Herman tetap melanjutkan kuliah di ibukota sedangkan Melati terpaksa pindah ke Jogjakarta karena jurusan kuliah yang ia tempuh hanya ada disana.

Walaupun begitu, Herman dan Melati berkomitmen untuk menjaga hubungan. Bulan-bulan pertama mereka lalui bersama dengan baik. Kadang Melati mampir ke Herman sekalian menjenguk orang tuanya, begitu juga Herman kadang ke kota Jogja walaupun ia harus menempuh perjalanan 10 jam. Ah, jangan kan cuma ke Jogjakarta, lautan api pun akan Herman sebrangi demi cinta.

Sayangnya mulai satu tahun hubungan mereka goyah. Herman pun tak bisa leluasa ke kota pelajar karena keterbatasan biaya. Maklum, kedua orangtuanya hanyalah pegawai biasa dan ia sendiri hanya fokus pada kuliah. Sedangkan Melati makin sibuk dengan kuliahnya yang memang membutuhkan fokus penuh. Jarang bertemu tentu saja mengganggu hubungan mereka walaupun mereka sering chatting tapi tidak dapat menghasilkan perasaan yang sama saat bertemu langsung.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencari pacar di kota masing-masing yang sifatnya sementara. Istilahnya, “kamu boleh pacaran sama siapa saja, tapi ntar nikahnya sama gue”. Herman pun akhirnya pacaran dengan wanita teman kuliahnya yaitu Eny, sedangkan Melati menjalin hubungan dengan Nana, teman satu kampusnya.

Selepas lulus kuliah, Melati menyusul ke Ibukota untuk melanjutkan master di kampus yang sama dengan Herman. Saat itu Herman belum sarjana. Dengan kembalinya Melati ke Jakarta, maka Herman pun memutuskan hubungan dengan Eny. Aku ingin fokus kuliah, begitu alasan Herman.

Singkat cerita, akhirnya mereka pun lulus dari kampus terbaik se-Indonesia, Herman sarjana dan Melati masternya. Agak njomplang memang. Namun bukankah cinta memang tak mengenal gelar.

Selesai kuliah maka Herman pun berusaha mencari pekerjaan. Sayangnya sudah banyak perusahaan yang didatangi tapi belum membuahkan hasil. Ternyata gelar sarjana bukan jaminan akan mudah mendapatkan pekerjaan, apalagi di ibukota yang memang kejam.

“Jangan putus asa bang herman, nanti juga dapat kok.” Begitu kata Melati ketika mereka bertemu di suatu kafe. Berbeda dengan Herman, Melati sudah sibuk dengan pekerjaan nya di sebuah kampus sebagai pengajar. Perkataan Melati agak mendinginkan hatinya.

“Biar aku yang bayar bang.” Melati mencegah. Herman hanya mati kutu, dirinya memang tidak mempunyai banyak duit. Mereka pun pergi naik motor ke pantai Ancol.

“Abang tak usah galau begitu. Sekarang biar aku yang traktir Abang. Nanti kalo sudah menikah, udah kewajiban Abang untuk traktir aku.”

“Abang janji, Abang akan bahagiakan kamu melati.” Jawab Herman sambil tersenyum. Diraihnya tangan melati lantas diciumnya. Matahari ikut tersenyum melihat dua insan di tepi pantai itu.

Tak terasa, sudah enam tahun mereka menjalin hubungan sejak SMA. Hingga suatu saat ia pulang ke Jawa tengah bersama orang tuanya dan baru kembali sebulan kemudian. Ia menghampiri Herman dengan mata sembab dan air mata berlinang.

Rupanya, dia dijodohkan dengan Wawan, lelaki pilihan orangtuanya bahkan tanggalnya pun sudah ditentukan. Enam bulan lagi pernikahan itu akan digelar. Mendengar itu, rasanya jiwa Herman hancur seketika.

Komitmen bahwa “kamu boleh pacaran dengan siapa saja tapi menikahnya harus denganku” terus terngiang di batinnya. Akhirnya dengan ijin orang tuanya maka Herman pun pergi ke Jawa tengah untuk melamar Melati.

Setelah menempuh perjalanan setengah hari sampailah Herman di tempat tujuan. Hati Herman agak menciut ketika ia tiba di rumah orang tua Melati. Sebuah rumah yang megah, bahkan lebih megah dari beberapa rumah orang kaya di ibukota.

Namun sayangnya kepercayaan diri dan harapan Herman sirna, seperti kabut di pagi hari yang terkena sinar matahari.” Kamu cuma sarjana Herman, apa kamu bisa membahagiakan anak saya.” Begitu jawaban ibunya.

Herman tidak dapat berkata apa-apa. Ia pun balik lagi ke Jakarta dengan dada dibuncah amarah dan juga batinnya menangis, bedebah…

Herman tetap berhubungan baik dengan melati. Pernah ia perpikiran untuk mengajak melati kawin lari, tapi apakah ia bisa, padahal ia tidak mempunyai uang. Melati pun akan kehilangan pekerjaan, belum lagi ia harus mengurus kedua adiknya karena kedua orangtuanya sudah berusia lanjut. Akhirnya ia pun memutuskan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia sering bertemu dengan melati dan pergi berduaan. Pokoknya sebelumnya sah, melati adalah milikku.

Sayangnya hubungan itu diketahui oleh Heny, kakak melati. Ia tentu saja mencaci maki saya sebagai orang tidak tahu diri. Malamnya hp Herman berbunyi dan ternyata ibunya tidak kalah marah dan menuduh saya sengaja merusak hubungan melati dengan calon suaminya.

Sejak itu melati pun dikirim pulang ke kampung halamannya. Herman hanya bisa menangis dan meratapi nasibnya. Hingga suatu hari ia datang dengan wajah sendu. Ia datang hanya untuk mengabarkan bahwa tiga hari lagi ia akan menikah dan ia mengirim kartu undangan pernikahan. Ia juga meminta maaf karena tidak bisa menolak keinginan orang tuanya.

Setelah melati pergi maka Herman segera menyobek-nyobek surat tersebut. Hatinya hancur lebur dan ia pun menangis sejadi-jadinya. Ingin ia bunuh diri tapi beruntung kedua orangtuanya dan juga adik-adiknya bisa mengendalikan diri nya.

Tiga hari setelah ia menikah tidak disangka ia menelponku. Ia kembali minta maaf dan berpesan.” Jangan berisik ya bang, nanti mas Wawan bangun dan aku bisa kena marah.” Herman hanya mengangguk, ia kini sudah pasrah.


Hp android nya Herman kembali berbunyi. Dilihatnya ternyata Melati yang menelponnya. Ada apakah ia menelpon setelah satu tahun tak ada kabar. Sebenarnya Herman sudah mulai melupakannya dan ia kini juga sedang menjalin hubungan serius dengan Eny, pacar sementara waktu kuliah dulu. Eny juga sudah tahu masa lalu Herman dan ia tetap menerima. Setiap orang punya masa lalu masing-masing, begitu kata Eny bijak.

“Halo.”

“Bang Herman, gimana kabarnya bang?” Sebuah suara masuk ke telinga nya, sebuah suara yang terus terang masih dirindukan oleh Herman.

“Baik. Gimana kabarmu Melati.”

“Aku juga baik bang.” Jawabnya dengan suara yang agak getir. Akhirnya Melati pun berterus terang kalo kini ia sudah menjanda. Ternyata Wawan selingkuh dan melati yang memang tidak menyukai Wawan langsung mengajukan gugatan cerai.

“Jadi kamu sekarang sudah janda?” Tanya Herman ingin tahu.

“Betul bang, orang tuaku kini pasrah dan mereka juga meminta maaf karena salah memilih jodoh untukku. Mereka kini ikhlas jika aku kawin dengan bang Herman. Aku juga sudah mempunyai satu anak.” Jawabnya.

Agak dingin tengkuk Herman mendengar perkataan terakhir Melati. Setelah berbasa-basi akhirnya Herman menutup telepon.

Herman tambah kusut pikiran. Jika ia menikah dengan Melati, maka kedua orangtuanya pasti tidak setuju mengingat dulu kakaknya melati pernah datang ke rumah dan marah kepadanya mereka berdua, lagi pula bagaimana dengan Eny, sosok wanita yang sudah berhasil menyembuhkan luka hatinya. Haruskah ia memilih melati, cinta pertama nya dengan mencantumkan Eny ataukah ia memilih Eny yang pengertian?

Tamat

Cikande, 21 November 2018

Perjalanan mudik lebaran

Perkenalkan, nama saya Emde, kali ini saya akan menceritakan kisah saya melakukan sebuah ritual tahunan bernama Mudik Lebaran kemarin. Kalau soal jarak dan kendaraan yang saya gunakan, yah sebut saja itu hobi.

Sebenarnya tidak ada yang spesial dari perjalanan saya ini. Konon, ada juga orang setolol saya yang juga melakukannya bahkan dari Bali ke Aceh yang 4000 km lebih jauhnya. Sedangkan saya dari Yogyakarta menyusul ke rumah istri saya di Lampung utara sana, yah, enggak jauh-jauh amat kalau naik sepeda motor. Hanya berjarak 1000-an km, hanya sepelemparan cawet. Cawetnya Thor.

Istri saya, Nisha, sudah ada di kampung halamannya sejak awal puasa, jadi nya saya hanya sendirian, tidak bisa gandengan seperti truk-truk barang yang sering saya salip.

Motor yang saya pakai tidak terlalu tua, begitu juga saya. Jam lima pagi, saya mulai melaju kencang ke arah Barat. kecepatan tak lebih dari 70 km karena CVT motor Mio Soul pemberian mertua baik hati yang saya gunakan ini memang agak berisik. Tak apalah, sebagai menantu yang baik tentu saja harus bersyukur walaupun dari desas desus yang aku dengar pemilik sebelumnya mengalami kecelakaan, dan karena dianggap bawa sial maka dijual ke mertua saya.

Sampai di perbatasan Jawa tengah-jawa barat saya berhenti di sebuah warung kelapa muda dan bergabung dengan beberapa pemudik motor yang lain. Obrolan basa-basi mulai terjadi, mulai dari nanya asalnya dari mana, kerja apa, tinggal di mana, akan ke mana, dan berbagai decakan kaget atas kenekatan saya muncul dari mereka.

“Mudik Lebaran dari Yogya ke Lampung pakai motor sendirian? Kamu benar-benar tolol Mas,” begitu kata mereka dalam hati.

Tentu saja itu kira-kira saya saja berdasarkan wajah yang mereka tunjukkan ketika mereka bilang; “Hati-hati ya Mas”.

Setelah 10 jam perjalanan dari kota gudeg, dan berhenti dua kali selanjutnya saya baru tersadar, dari semua obrolan dan pertemuan dengan macam macam orang tak satu pun dari mereka yang menanyakan nama saya siapa. Bagi mereka nama saya tidak penting, yang lebih penting adalah perjalanan saya sebagai “pemudik lebaran” dengan jarak yang begitu jauh. Sial memang, hiks..

Saat mau menyeberang ke Sumatra saya dapat informasi penting dari seorang sopir truk. Awalnya, seperti puluhan orang yang pertama kali saya kasih tahu rute mudik Lebaran saya, si sopir kaget kenapa saya nekat naik motor. Padahal di daerah Sumatra sangat rawan. Cerita si sopir, dia pernah hampir dibunuh oleh preman karena melawan saat diminta uang.

Saya memperhatikan wajah si sopir truk. Wajah sesangar dia, ada bekas luka, rahang besar, dan kekar begitu saja dipalakin preman, apalagi saya yang punya wajah bulat dan unyu-unyu gabungan formasi fusion Herman dan Satria begini. Bisa dioseng-oseng hidup-hidup saya.

Memasuki  sebuah bekas kapal pesiar dari Jepang yang sudah jadi kapal angkutan biasa membuat saya berdecak kagum. Mungkin pada masa jaya kapal pesiar yang saya tumpangi ini, dulunya memang mewah. Begitu masuk di lantai tiga saya disambut oleh sebuah ruangan karaoke, game center, sebuah televisi berlayar besar di aula. Saya terus berjalan menuju sebuah ruangan tidur gratis untuk siapa saja termasuk saya. Sedangkan lantai di atasnya terdapat lantai untuk orang yang lebih berduit dengan fasilitas hotel bintang lima.

Tentang kemewahan itu, saya pikir kalian bisa coba sendiri. Akan tetapi yang menarik sebenarnya bukan di situ. Dari semua yang ada di kapal “mewah” itu, hampir 90 persen penumpangnya adalah sopir truk.

Lalu sekitar 5 persen adalah sopir mobil baru tanpa plat nomor. Mereka dibayar cuma untuk menaikkan mobil-mobil baru ke dalam kapal kemudian mengeluarkannya. Sedangkan 5 persen sisanya adalah orang-orang seperti saya. Pengendara kendaraan pribadi yang sedang ingin mudik Lebaran.

Sudah sejam menunggu tapi kapal belum ada tanda-tanda mau berangkat. Seharusnya sesuai jadwal jam 03.00 sore ini kapal sudah jalan. Saya mulai gelisah, begitu juga para pemudik lainnya, sedangkan para supir itu anteng-anteng saja. Sebagian tidur, sebagian lagi entah kemana.

Saya lalu bangkit ingin kencing. Kamar mandi di kapal ini ternyata banyak dan salah satunya kamar mandi onsen. Alias kamar mandi model Jepang yang harus telanjang jika ingin mandi air panas di dalamnya. Tentu saya urung masuk, bayangan saya telanjang berada di tengah tengah sopir-sopir truk dengan wajah angker dan telanjang membuat saya mengkeret.

Saya lalu ke kamar mandi lain. Namun, kali ini saya harus curiga karena kamar mandinya sangat sepi tapi keran air menyala, mungkin sebagai tanda ada orang di dalam. Pikir saya waktu itu, kamar mandi super sempit kaya begini tidak mungkin dipakai untuk mandi.

Mungkin mereka boker dan saya iseng menundukkan kepala mengintip kaki mereka. Astaga kenapa kaki-kaki mereka pada posisi berdiri semua. Jika sedang boker kan harusnya tidak begitu, jika hanya kencing kenapa lama sekali? Saya mundur perlahan teratur dan tepat di belakang saya ada seseorang sebaya.

“Nungguin kamar mandi juga ya, Mas?” kata orang ini.

Saya mengangguk.

“Lama bakalan. Mereka semua lagi coli, Mas.”

(((Coli)))

Serius? Di kapal laut? Di atas laut begini?

Saya hampir saja ketawa ngakak mendengarnya, lalu mendadak hilang kebelet saya. Saya keluar dari sana karena tidak nyaman. Orang di sebelah saya akhirnya ikut keluar. Ternyata emang betulan lama nungguin para sopir truk itu selesai.

“Mereka sering begitu, Mas. Apalagi kalau habis lihat di televisi ada artis cantik dan seksi gitu, mereka akan menyerap sebagai ingatan lekukan lekukan tubuh untuk dijadikan khayalan saat coli.

Brengsek, kata saya dalam hati. “Oh, begitu tho,” kata saya dari mulut. Tapi tentu saya juga paham, enggak semua sopir begitu.

Kami pun akhirnya ngobrol ngalor ngidul. Ia agak kaget ketika tahu saya dari Jogja dan hanya sendirian, bukan di Jakarta. Aku pun jelaskan kalo aku merantau ke Jogja karena disana ada toko milik uwa saya yang menganggur, maklum orang tuaku adalah transmigrasi. Aku jelaskan juga pernah coba di Jakarta tapi tidak kuat dengan harga sewanya yang melambung tinggi, setinggi harga sembako kalo bulan puasa dan lebaran.

Maghrib sudah datang, tapi belum juga ada tanda-tanda kapal mau berangkat. Beberapa penumpang nampak ribut dengan petugas. Si penumpang menjerit-jerit histeris karena dia harus segera pulang berkumpul dengan keluarga. Saya hanya melihat dari kejauhan, begitu pula dengan sopir-sopir lain. Hal yang sangat berbeda dengan sopir-sopir yang hanya santai saja menanggapi keterlambatan keberangkatan kapal. Tidak terdengar protes sama sekali.

Tentu bukan berarti mereka tidak punya keluarga yang menunggu untuk berlebaran. Tapi bagi mereka, terlambat begini sudah risiko perjalanan, jadi mereka sudah bisa legowo menerimanya. Slogan para sopir kan sederhana; “Nek kesusu budalo wingi mas!”  (Jika buru-buru, berangkatlah kemarin, Bung!)

Akhirnya kapal berangkat juga jam 10 malam, luar biasa, setelah 7 jam delay menganggur buta tidak ngapa-ngapain selain coli. para sopir itu hanya berkomentar “Ealah, jadinya berangkat benar ini kapal”.

Yah, itulah kisah perjalanan ku dari Jogja sampai pelabuhan merak. Sedangkan dari pelabuhan Bakauheni Lampung sampai rumahku aku ceritakan kapan-kapan ya.

Kisahku dengan mobil Toyota Agya

Bagi saya, pulang kampung dengan bawa mobil Toyota Agya, cukup membuat saya merasa sombong sebagai generasi milenial.

Pada sebuah pagi, dalam rangka perjalanan pulang kampung, saya melamun memikirkan kendaraan yang saya naiki kali ini. Ingin rasanya menangis terharu akhirnya saya bisa pulang dengan sebuah mobil walaupun itu hanya sebuah mobil bermerk Toyota Agya. Sebagai bagian dari kaum milenial yang katanya cenderung simpel, tidak mau ribet, cepat, dinamis, hemat dan miskin, mungkin pilihan saya untuk memilih mobil LCGC ini adalah pilihan yang paling tepat. Apalagi ini adalah seekor Toyota Agya. Bayangkan, Saudara-saudara!

Jalanan kala itu masih sepi, tampak indikator bensin masih tiga bar. Mobil ini memang sebuah mobil dengan keiritan yang istimewa. Dibandingkan dengan Honda Brio, jelas mobil ini lebih irit. Walaupun sebenarnya masalah irit adalah masalah jati diri si sopir itu masing-masing.

Taruhlah jika si sopir adalah sosok yang akan golput pada Pilpres 2019 nanti, saya yakin hanya dengan 3 bar bensin yang tersisa, bisa sampai ke Semarang, Bahkan hanya dengan bantuan doa orang tuanya, bisa juga sampai ke Surabaya.

Berbeda jika si sopir adalah pendukung Prabowo atau Jokowi yang bersumbu pendek. Jangankan sampai Tegal, sampai dengan selamat aja belum tentu. Apalagi sambil baca status tentang keadaan negara yang katanya “gawat” ini. Bisa-bisa tiang listrik se Jabar-Jateng punah ditabrakin si sopir.

Tetapi untungnya, si sopir pakai Agya bukan Fortuner, jadi hal itu tidak akan terjadi. Bodi Agya jangankan nabrak tiang listrik, nabrak liurnya nenek Nency yang sedang batuk aja bisa mengkerut seperti “anumu” di pagi hari.

Tapi ngomong-ngomong soal bodi, memang bodi mobil Agya ini sangat tipis dan saya rasa masih lebih tebal seng bekas impor dari Jepang. Saking tipisnya bodi mobil ini, ketika penyok susah untuk dikenteng kembali, apalagi kalau dipanaskan akan rawan bolong. Tidak mengherankan jika suara angin—bahkan omongan tetangga—sangat bisa terdengar dari dalam kabin mobil. Jadi jangan coba-coba untuk ngomongin sebuah rahasia kalau berada di samping mobil ini. Jika tidak ingin rahasia anda tersebar kemana-mana.

Saya mulai memasuki jalan tol dan hari sudah mulai panas. Saya beruntung pakai Agya yang AC-nya lebih dingin dibandingkan mobil LCGC yang lainnya. Kemudian lantunan lagu koplo ala pantura segera saya putar. Sebenarnya saya tidak suka jenis musik tersebut tapi mau bagaimana lagi, jika saya menyalakan lagu pop, suaranya akan menghilang dikalahkan oleh kencangnya suara mesin yang masuk ke kabin. Bakal lebih mirip bisikan mantan minta putus daripada suara merdu dari mbak junjungan saya, Via Vallen.

Pasalnya, mobil Agya yang saya bawa ini menggunakan mesin dengan tiga silinder yang memang biasanya lebih terasa meraung-raung dan juga bergetar dibanding mobil Brio atau Agya terbaru yang sudah empat silinder.

Keluar dari jalan tol, keadaan sudah mulai ramai. Truk gandeng, anak sekolah juga mak-mak yang biasanya selalu menyalakan sein ke kanan tapi malah belok ke bawah. Soalnya, dia jatuh nyungsep. Untungnya kali ini saya sedang mengendarai Toyota Agya, yang dapat sangat mudah berhenti ke tepi karena lincahnya. Mobil ini memang sangat kecil tapi jelas itu merupakan sebuah keuntungan. Bahkan ketika macet, saya bisa menyelinap di sela-sela truk gandeng yang lagi gandengan. Bahkan mobil ini bisa jadi penengah kalau ada orang yang lagi berantem. Sungguh, luar biasa.

Untuk masalah kecepatan, mobil satu ini tidak usah diragukan lagi…
…untuk diragukan pelannya. Akan tetapi, dengan mobil satu ini saya dapat merasakan sensasi berkendara yang luar biasa. Mobil ini sangat kencang kalau dirasakan, tapi tentu hanya perasaan saja. Sebab aslinya, untuk jalan 100 km perjam saja, saya harus menunggu lama, selama kamu yang belum mau kawin-kawin.

Body roll yang dirasakan juga sangat istimewa. Anggap saja mengendarai Bus Sumber Kencono pada kecepatan 180 km/jam. Sensasi deg-deg yang sama, juga akan dirasakan dengan mobil ini hanya pada kecepatan 60 km/jam, olengnya, limbungnya, berasa pembalap pokoknya.

Saya sampai di kota kelahiran saya tepat jam 11 siang. Mulai dari petigaan jalan besar kampong, saya sudah merasa diperhatikan. Rasa percaya diri saya tumbuh seiring dengan kendaraan yang saya pakai. Tentu, Agya ini sudah cukup membuat saya merasa sombong. Meskipun tetangga saya banyak yang punya mobil lebih mahal, akan tetapi rata-rata dari mereka sudah berumur dan umur mempengaruhi tingkat kesombongan seorang manusia. Anak kecil sombong dengan sepeda roda tiganya, anak SD dengan BMX-nya, anak SMP dengan motor Ninja-nya dan saya sendiri sombong dengan Toyota Agya saya.

“Loh, itu kan si Agus anaknya Pak Andi yang tukang warteg itu. Sukses sekarang dia, pulang bawa mobil Agya. Daripada si Edi itu pulang-pulang bawa kabur anak orang.”

Saya akan terus cengar cengir.

Mendekati rumah, saya melewati rumah mantan saya. Saya pelankan mobil supaya dia bisa tanpa sengaja melihat mobil yang saya bawa. Dia tentu akan menyesal telah meninggalkan saya dulu, apa enaknya berkendara menggunakan mantel saat hujan. Apa enaknya memakai helm yang dapat merusak rambutnya, dan apa enaknya kalau kena angin roknya keangkat.

Sesampainya di rumah, saya langsung mandi dan keluar lagi untuk bergabung dengan ayah saya di teras. Beberapa tetangga saya tampak duduk ngopi sambil melihat mobil yang saya bawa.

“Mobil ini kecil tetapi dalemannya gede juga ya, Le?” Saya memang tidak salah pilih mobil pikir saya.

Tapi sebenarnya alasan utama saya memilih mobil ini tentu karena mobil ini sangat terkenal di mana-mana, di poster-poster hadiah utama fun bike, saingan hadiah umroh di supermarket. Bahkan menjadi hadiah favorit tukang tipu-tipu lewat SMS berhadiah.

Selain itu, coba saja bayangkan saya mudik menggunakan mobil Morris Mini Cooper dengan risiko mobil yang saya bawa itu akan dianggap mobil-mobilan karena saking kecilnya. Meskipun, kalau mobil si mr. Bean itu ditukar dengan mobil Agya, bisa jadi berpasangan.

Kemudian, Whatsapp saya berbunyi. Ada sebuah pesan masuk,

“Maaf, Mas, mobil balik kapan ya? Kan sewanya hampir habis. Masalahnya besoknya mau ada yang rental lagi.” Sayapun segera menghapus cepat-cepat chat perusak suasana tersebut. Buyar khayalan saya punya mobil impian. Impian semua kaum milenial.

Pelakor

“Pelakor adalah jalan hidup yang aku pilih secara sadar.”

Perkenalkan, namaku juwarti, orang biasa memanggilku juwa. Aku hanyalah seorang wanita biasa yang kini sedang rame diributkan sebagai pelakor. Aku menulis ini bukannya aku sedang membela diri atau sedang cari perhatian, tapi aku merasa dipojokkan oleh media dan banyak orang beberapa bulan terakhir. Banyak orang yang menyebut profesiku sebagai pekerjaan nista, sebuah jalan hidup yang hina penuh maksiat terutama oleh golongan tertentu.

Berita-berita tentangku kini menghiasi banyak media. “Pelakor buat ibu-ibu khawatir tentang tumbuh kembang anaknya!”, “Ini dia wajah Pelakor yang menggegerkan itu!”, “Netizen anggap wajah Pelakor ini hasil operasi plastik!” Hinaan demi hinaan, cacian dan berbagai label buruk juwa terima. Mereka menuduhku sebagai manusia palsu, seseorang yang tak layak hidup karena telah mengubah tampilan diri supaya disukai banyak orang.

Tapi apakah itu benar? Apakah semua ini adalah hal yang bisa diterima? Memang kenapa jika aku jadi Pelakor? Apa salah dan dosaku saat menjadi Pelakor? Apakah dengan menjadi Pelakor membuatku lebih buruk? Apakah kalian merasa jadi lebih suci sementara aku penuh dosa?

Aku tak pernah mau menjadi orang yang seperti itu. Tapi apa salahku jika kemudian orang-orang memberiku banyak kado, hadiah, untuk menarik perhatianku. Apa salahku jika kemudian pasangan kekasih hancur karena partnernya lebih banyak menghabiskan waktunya bersamaku? Aku tak pernah mau melakukan ini.

Sesungguhnya aku tak pernah berharap dan memilih untuk menjadi seperti ini. Sejak kecil aku hanya ingin dicintai, menjadi pusat perhatian dan kekaguman. Aku tak mengelak jika kalian menuduhku merayu. Dengan segala yang aku miliki, perhatian dan kekaguman adalah hal yang kerap kali tak bisa aku miliki secara tulus.

Orang hanya melihatku karena pesona wajahku keindahan tubuhku, dan juga suaraku yang dianggap manja menggoda. Tapi mengapa kalian hanya menyalahkanku? Kenapa setiap seseorang suka padaku, mendekatiku, memajang wajahku dalam ponselnya, aku yang selalu disalahkan? Aku tak menggoda mereka, aku bahkan tak pernah memulai hubungan ini. Seringkali aku adalah pihak ketiga yang dikagumi, bukan seseorang yang usil mendekati.

Ibu-ibu menuduhku merusak keluarga mereka. Membuat orang yang mereka cintai mabuk kepayang memikirkanku. Ibu-ibu membenciku karena orang yang mereka sayang tak peduli lagi dengan ibunya. Mereka sibuk memandangiku di layar ponsel, bahkan seringkali sembunyi-sembunyi bicara padaku di layar laptop mereka. Tapi apakah mereka pernah berpikir, mengapa orang yang mereka sayang menyukaiku.

Sementara bapak-bapak kerap kali bersembunyi saat ingin melihatku. Aku tahu di ponsel mereka ada foto dan berbagai video tentangku. Mereka menyembunyikan keberadaanku karena tak ingin dihakimi masyarakat. Mereka menyukaiku tapi terlalu tua untuk menunjukkannya. “Udah tua bangkotan bau tanah kok kelakuannya gitu,” demikian kata orang yang membenciku.

Jika seseorang menyukaiku, bukan berarti aku berniat merebutnya darimu. Jika seseorang mengagumiku, bukan berarti aku yang menggodanya. Jika seseorang menyatakan cinta padaku, bukan berarti dengan sengaja aku ingin merusaknya karenamu. Pernahkah kamu berada di posisiku? Dianggap sebagai benalu, perusak, padahal kita bertemu saja tak pernah.

Memang salah jika aku molek dan suka menghias diri? Memang salah jika setiap hari aku berlatih berjam-jam untuk mencapai tubuh ideal? Aku melakukannya untuk diriku sendiri, untuk sesuatu yang aku percayai. Aku tak pernah merasa perlu berdandan untuk orang lain atau menjadi menarik untuk orang lain. Aku memilih ini karena memang aku ingin mencintai diriku sendiri.

Pernah aku berjalan di mall, beberapa orang asing mengelilingku, meneriaki aku, lantas memaksaku menuruti permintaan mereka. Baru-baru ini aku keluar dari bandara, tubuhku ditarik oleh orang asing, dijatuhkan, lantas mereka histeris, dengan muka memerah, mata mendelik, meneriakkan namaku seperti aku telah berbuat dosa besar pada mereka.

Dalam keheningan malam aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk bisa tetap menjalani ini. Salahkah aku? Dosakah mereka yang datang padaku? Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua kebencian yang aku hadapi hari ini? Apakah aku harus terus berjalan, bisakah aku melewati hari tanpa diganggu, diberi hadiah yang aku tak mau, dikerubutin di tempat umum sambil diteriakin? Aku tak sanggup tuhan.

Yah, apapun pembelaanku, pasti kalian tak akan pernah peduli. Memang aku hanya Pelakor, Pelantun Lagu Korea, yang kalian puja di Youtube dan Weekly Idol. Daebak.

Jangan berbohong

Agus hanya melongo mendengar syarat yang diberikan oleh ustad Amrana.”jangan bohong.”

“Cuma itu pak ustad?” Ulang Agus seakan kurang percaya.

“Iya, cuma itu.” Ustad Amrana menyahut sambil tersenyum.

Agus agak lega walau agak sangsi. Ia memang akhir-akhir ini ingin memperdalam ilmu agama. Entah ada dorongan dari mana, tapi ia ingin agar bisa rajin sholat. Maklum, walaupun beragama Islam tapi ia hanya melakukan kewajiban umat muslim itu sekenanya saja.

Bisa saja ia berguru pada kyai Mansyur, bapak dari ustad Amrana yang pengasuh pondok pesantren, tapi melihat usianya maka ia agak sungkan. Akhirnya ia pilih ustad Amrana saja untuk berguru ilmu agama karena usianya yang tidak terpaut terlalu jauh, lagi pula ia dengar sang ustad orangnya asik kalo diajak bicara.

“Kalo cuma itu aku sanggup pak ustad.”

“Tolong jangan panggil aku ustad Gus, usia kita kan tidak terpaut jauh. Panggil saja aku kang Nana, bagaimana?”

“Baiklah kalo itu mau ustad, eh kang Nana.” Jawab Agus yang disambut senyuman oleh tuan rumah.

“Tapi kang Nana, apa itu tidak terlalu mudah syaratnya.” Agus menyambung dengan agak bimbang.”aku ingin belajar cara agar bisa rajin sholat karena aku ini orangnya ndableg, malas sholat. Kalo cuma disuruh jangan bohong, aku kira tidak nyambung dong kang.”

“Belajar itu yang mudah saja dulu Gus, kalo kamu sudah bisa tidak berbohong, maka nanti akan aku ajari yang lebih sulit lagi, begitu seterusnya.”

“Baiklah.”

“Ayo diminum dulu kopinya, jangan sampai dingin, nanti tidak enak.”

* * *

Sore itu Agus sedang bermain hp di teras rumah. Maklum, ia adalah seorang pecandu Internet. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya bermain internet, apalagi kalo sudah main fb, bisa lupa waktu karena keasyikan. Seperti saat ini, ia sedang asyik menggoda Widia, teman Facebook nya.

Ehem, tiba-tiba terdengar suara deheman halus, dilihatnya ustad Amrana ternyata sedang ada di luar. Buru-buru ia matikan hp lantas membuka pagar.

“Asyik bener nih mainnya, sampai saya kasih salam juga ga denger.”

Mendengar hal itu Agus terkejut sekaligus malu.”maaf kang Nana.” Katanya.

“Ah tidak apa-apa. Aku juga suka main hp kok Gus.” Jawab Amrana kalem. Mendengar hal ini Agus agak lega. “Ada perlu apa nih kang?”

“Ah tidak, hanya mampir saja. Ngomong-ngomong asyik bener tadi main hp. Emang sudah sholat ashar ya?”

Agus kaget mendengar pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini. “Belum kang, maaf keasyikan.” Jawab Agus pelan

“Tapi tidak lupa sholat dhuhur bukan?”

“Tentu ga lupa.” Sahut Agus cepat-cepat.

“Sholat dimana, dirumah? kok tadi aku tidak lihat kamu saat jamaah di masjid.”

“Ah benar kang. Maaf aku tadi sholat nya di rumah.”

“Ya tidak apa-apa sih, walau yang utama itu di masjid, berjamaah.”

“Aku tadi berjamaah kok Gus, tadi aku main ke rumahnya Herman dan sholat bareng, makanya tidak sempat ke masjid.”

“Yakin?” Tanya Amrana, sebuah pertanyaan sederhana tapi entah mengapa sangat menyiksa.

“Bener kang, sumpah. Kalo tidak percaya tanya saja sama Herman. Tapi Herman nya lagi keluar kota sih ada urusan tadi.”

“Tak usah bawa-bawa sumpahlah. Ya udah, nanti kalo Herman pulang aku tanya.” Sahut Amrana kalem.

Tidak disangka, habis Amrana berkata dari ujung jalan Herman datang seolah tanpa dosa. Ia cuek saja lewat depan rumah. Agus sudah pucat pasi melihat tetangganya tersebut. ‘aduh Herman goblok, mana lewat sini lagi’ batin Agus dalam hati.

“Loh, itu Herman.” Kata Amrana

Agus sudah mau pingsan.

“Her, mau kemana?” Teriak Amrana.

Herman menghentikan langkahnya lantas menyahut.”mau ke toko kang Nana.” Katanya sambil lewat.

Keringat dingin mulai mengalir di dahi Agus. Gawat. Ini situasinya sangat gawat. Tapi anehnya, Amrana malah tidak menghampiri Herman untuk bertanya soal kebenaran pengakuan agus tadi. Amrana malah cuma berpesan. “Oh, aku titip rokok sekalian ya, Her?

Agus sedikit bernafas lega walaupun kekhawatiran nya tadi jelas sudah terbaca Amrana.

“Tuh kan tidak mudah.” Kata Amrana ketika Herman sudah pergi menjauh.

Agus menjadi bingung.

“Tugas pertamamu untuk tidak bohong itu ternyata tidak semudah yang kau bayangkan bukan?” Katanya sambil tersenyum. Agus hanya garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal sambil merasa bersalah.

“Iya kang Nana, maaf aku sudah berbohong. Aku tidak jamaah tadi sama Herman.” Katanya penuh penyesalan.

“Tapi tidak lupa sholat dhuhur kan?”

Agus menggelengkan kepalanya, semakin malu.

Amrana hanya menarik nafas panjang.”kebohongan  itu hampir selalu menyulut kebohongan selanjutnya. Untuk menutupi bohong pertama kalau kamu nggak salat, kamu akhirnya jadi bohong lagi kalau jamaah. Kalau dilanjutin terus, pasti kamu akan bohong terus. Kamu beruntung, Allah kasih si Herman tadi jalan di depan rumahmu tadi, jadi kamu nggak perlu bikin bohong lanjutan,” kata anak kyai Mansyur itu.

“Sudah, kamu belajar soal tidak perlu bohong dulu. Insya Allah kalau kamu jujur terus, kamu akan jadi rajin sembahyang dengan sendirinya. Kecuali kalau kamu malah jadi terbiasa berbohong, terbiasa berbuat dosa, nah sebelum itu terjadi, aku akan bikin itu jadi hal yang nggak enak buatmu,” tambah Amrana lagi.

Agus sudah tidak berani berkata apa-apa lagi. Berjanji pun ia tak berani karena takut salah lagi.

“Ya sudah, kamu segera sholat ashar. Ini hampir jam 5. Aku mau ke pesantren ke Abah dulu. Kalo Herman mencari, bilang saja aku disana.” Katanya lantas berjalan keluar rumah. Agus pun tersadar dan langsung masuk ke dalam rumah untuk menunaikan kewajiban nya.

* Selesai *

Minggu, 14 Oktober 2018.